220 Tokoh Dunia Tuntut Inggris Minta Maaf atas Deklarasi Balfour
14 April 2013, 07:00.
YOGYAKARTA, Ahad (SahabatAlAqsha.com): Sebanyak 220 delegasi dari berbagai negara menandatangani memorandum yang menuntut Inggris meminta maaf atas Deklarasi Balfour. Seperti dikutip dari situs Al-Qassam, penandatangan petisi itu dilakukan dalam sebuah konferensi yang digelar di Kairo dari 4-6 April lalu. Konferensi itu dihadiri para pemuka dari negara-negara Arab dan Muslim.
Petisi itu antara lain ditandatangani oleh anggota parlemen, para pelajar, akademisi, wartawan, politikus, pemimpin asosiasi, dokter, insinyur serta penulis dari berbagai negara Arab, Islam dan Barat. Kampanye yang menuntut permintaan maaf Inggris atas Deklarasi Balfour itu diluncurkan secara resmi di London pada 19 Januari saat konferensi akademis yang diselenggarakkan oleh Palestinian Return Center. Kampanye ini ditujukan untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan dalam waktu lima tahun yang akan disampaikan kepada pemerintah Inggris agar meminta maaf kepada rakyat Palestina terkait Deklarasi Balfour.

Zionis Yahud berterima kasih kepada Menlu Inggris James Balfour karena mendukung resminya perampokan tanah Palestina, dengan menerbitkan perangko edisi “James Balfour”. foto: Deposit Photos
Deklarasi Balfour adalah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild untuk dikirimkan kepada Federasi zionis.
Surat itu menyatakan sikap yang dimufakati oleh Rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917 bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana zionis untuk membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat zionis tidak melakukan hal-hal yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.
Pada waktu itu, sebagian besar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Islam terakhir, Turki Uthmaniyyah, namun Inggris telah menyiapkan diri untuk mengalahkan pasukan Uthmaniyyah dan menguasai Palestina. Batas wilayah yang akan menjadi bagian ‘israel’ telah dibuat dalam Perjanjian Sykes-Picot, yang telah disetujui sebelumnya oleh Inggris dan Perancis pada 16 Mei 1916.
Perjanjian Sykes-Picot adalah sebuah kesepakatan sepihak yang dilakukan Inggris dan Prancis yang dikemudian hari membagi Negeri Syam menjadi empat negara jajahan: Palestina dan Yordania di bawah Inggris, Suriah dan Lebanon di bawah Prancis.
Deklarasi itu membuktikan, Inggris menyetujui berdirinya pemerintahan Yahudi di Palestina dan memberi bantuan dalam pembentukan negara tersebut. Lalu pada 1948, David Ben-Gurion membacakan proklamasi berdirinya negara bangsa Yahudi di Palestina yang diberi nama ‘israel’. Setelah itu, terjadilah “pengusiran” besar-besaran terhadap rakyat palestina dari Tanah Air yang telah menjadi hak mereka selama bertahun-tahun.
Termasuk yang menjadi puncak penjajahan itu, pada tanggal 5 Juni 1967, penjajah zionis Yahudi merampas Masjidil Aqsha, salah satu masjid terpenting dalam aqidah tauhid, sampai hari ini.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Peta pembagian Negeri Syam menurut perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Negeri yang dimerdekakan oleh Umar ibn Khattab lebih dari seribu tahun sebelumnya, dibagi-bagi oleh penjajah kafir seperti kue yang dipotong-potong. Karena jauhnya umat Islam dari sebab-sebab kemenangannya di masa lalu. foto: Travel Vice
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
