Kisah-kisah Mahasiswa Pembela Palestina yang Di-Bully di Amerika Serikat
23 August 2013, 06:43.

Mahasiswa Amerika berunjukrasa di depan konsulat ‘israel’ di New York sesudah perampokan dan pembunuhan relawan Freedom Flotilla di kapal kemanusiaan Mavi Marmara, Mei 2010. foto: Haaretz
oleh Tori Porell, seorang aktivis dan mahasiswa di Universitas Northeastern
YOGYAKARTA, Jum’at (Electronic Intifada): Pada 7 Agustus lalu, sejumlah mahasiswa di Universitas Northeastern, Boston menuntut pihak kampus agar membatalkan masa percobaan akademis yang dijatuhkan kepada kelompok solidaritas Palestina (SJP) awal tahun ini.
Dengan dukungan National Lawyers Guild, Pusat Hak Konstitusional, serikat pekerja setempat dan kelompok HAM sipil, para pengunjuk rasa menyerahkan brosur dan mendesak presiden universitas untuk mengubah kebijakan unjuk rasa dan menghapuskan sanksi yang dijatuhkan kepada SJP.
April lalu, kelompok “Mahasiswa untuk Keadilan Palestina” di Universitas Northeastern dihukum dengan sewenang-wenang dan pidato kami yang berisi sikap-sikap pro-Palestina disensor. Kami memprotes pidato yang disampaikan serdadu ‘israel’, pihak universitas menghukum kami dengan cara yang lebay.
Para mahasiswa yang menjadi relawan solidaritas Palestina di kampus-kampus seluruh Amerika Serikat kerap dihukum, diintimidasi dan dibungkam. Mulai dari sanksi administratif, ancaman kepada perorangan, sampai kampanye-kampanye hitam yang dilakukan organisasi di luar kampus, dijatuhkan kepada mahasiswa pro-Palestina.
Pada 8 April lalu, sejumlah serdadu ‘israel’ yang masih aktif bertugas datang ke kampus kami untuk mengisi sebuah acara yang disponsori oleh kelompok mahasiswa pro-’israel’, Huskies for ‘israel’. Acara ini menjadi ajang untuk mendengarkan ‘curhat’ para serdadu dalam posisinya sebagai orang ‘israel’, anggota pasukan pertahanan ‘israel’ (IDF) dan anak muda yang kerap ditugaskan di lingkungan yang sulit.
Berdasarkan dokumentasi lengkap tentang pelanggaran HAM yang dilakukan militer ‘israel’ di Tepi Barat dan Jalur Gaza, kami—kelompok Mahasiswa untuk Keadilan Palestina memutuskan untuk keluar di tengah acara, sebagai bentuk protes kami atas paparan mereka.
Para anggota SJP sudah merencanakan untuk memprotes acara itu dengan menuliskan nama anak-anak Palestina yang dibunuh militer ‘israel’ di baju kami. Kelompok kami yang beranggotakan 35 orang secara satu per satu masuk ke ruangan tempat acara digelar.
Ketika ada serdadu yang memperkenalkan diri, salah seorang anggota SJP berdiri dan mengatakan, “IDF adalah kriminal perang dan tidak diterima di kampus ini.” Dan kami juga meneriakkan, “Bebaskan Palestina,” sambil keluar ruangan. Keseluruhan aksi walk-out ini berlangsung sekitar 30 menit.
Sejumlah mahasiswa di kampus-kampus lain juga merencanakan aksi serupa untuk menantang kebijakan zhalim ‘israel’. Sepekan setelah aksi protes kami, sejumlah mahasiswa di Universitas Atlantic Florida juga melakukan aksi walk-out di sebuah acara yang dibawakan serdadu ‘israel’.
Karena aksi ini, para mahasiswa diancam dengan tuduhan pelanggaran individu dan beberapa dari mereka masuk dalam masa percobaan. Bahkan pihak Universitas Atlantic Florida meminta sejumlah mahasiswa untuk menghadiri sebuah ‘program pelatihan’ yang dirancang oleh organisasi lobi ‘israel’ bernama Liga Anti Fitnah. Organisasi ini juga menekan pihak universitas di seluruh Amerika Serikat untuk menahan mahasiswa yang menjadi relawan solidaritas Palestina.
Pada 2011 lalu, mahasiswa dari Universitas California yang menginterupsi pidato duta besar ‘israel’, Michael Oren tahun 2010, ditangkap, diadili dan dihukum dengan tuduhan terlibat konspirasi dalam upaya mengganggu pertemuan publik.
Hukuman Sewenang-wenang
Sangat jelas bahwa ada standar ganda yang diterapkan pihak universitas dalam menghadapi aksi unjuk rasa mahasiswa. Tiga tahun lalu, sebuah kelompok mahasiswa pro-’israel’ mengganggu kuliah dengan pembicara Norman Finkelstein yang diselenggarakan SJP, namun tidak ada sanksi yang dijatuhkan kepada kelompok itu.
Sementara bagi kami, proses penghukuman dilakukan sehari setelah unjuk rasa dilakukan. Tiga jam sebelum pembicara tamu kami, Dr. Salman Abu Sitta dijadwalkan menyampaikan pidatonya, kami menerima sebuah e-mail dari direktur kantor aktivitas mahasiswa yang menyebutkan bahwa acara kami harus dibatalkan. Alasannya, seperti disebutkan e-mail itu karena kelompok kami tengah dalam investigasi akibat aksi unjuk rasa yang kami lakukan malam sebelumnya.
Sepekan kemudian, kami diberitahu tentang sidang yang akan dilakukan terhadap kelompok kami dengan tuduhan melanggar kebijakan demonstrasi kampus. Dalam sidang itu, kami hanya diizinkan menghadirkan satu orang perwakilan SJP. Dalam sidang itu, kami menjelaskan aksi kami dan keyakinan kami bahwa tindakan itu tidak melanggar kebijakan. Perwakilan dari kampus di sidang itu seperti memahami posisi kami dan memastikan bahwa proses sidang ini ditujukan hanya sebagai pembelajaran.
Meski begitu, dalam upaya mencegah tindakan politik serupa di masa depan, kami dipaksa membuat pernyataan ‘kesantunan’ oleh pihak kampus. Di samping juga, kelompok kami dijatuhi masa percobaan sampai akhir tahun ini.
Dukungan Hukum
Ketika mengetahui bahwa kami tengah dalam penyelidikan, kami segera mengontak Palestine Solidarity Legal Support Initiative, sebuah proyek dari Pusat Hak Konstitusional (CCR). CCR sangat memahami cara menangani situasi ini. Kami dihubungkan dengan American Civil Liberties Union (ACLU) dan National Lawyers Guild (NLG).
Pengacara dari CCR, ACLU dan NLG kemudian menulis surat kepada kepala dewan dan presiden Universitas Northeastern. Dalam surat itu ditegaskan bahwa SJP telah diperlakukan tidak adil. Dan mereka juga menyimpulkan bahwa tindakan kampus cenderung diskriminatif dan didasarkan kepada pesan politik yang disampaikan SJP.
Surat tersebut juga mendesak agar sanksi yang dijatuhkan kepada SJP dibatalkan. Mereka juga menyebutkan tentang kekhawatiran mereka atas kebijakan unjuk rasa yang terlalu ketat diberlakukan pihak universitas.
Sorotan Media
Sanksi yang dijatuhkan Northeastern mendapat respon sinis dari media. Yvonne Abraham dari media The Boston Globe, misalnya, menulis di dalam kolomnya bahwa tindakan yang dilakukan Universitas Northeastern bertentangan dengan upaya menampilkan wacana berarti pada isu-isu penting.
Tulisan Abraham ini menuai ratusan surat dukungan yang dilayangkan kepada redaksi media tersebut. Di dalamnya termasuk surat dukungan dari seorang anggota tim legal kami yang kemudian dipublikasi oleh media itu. Koran kampus kami juga menerbitkan tulisan yang berisi dukungan terhadap SJP dan kecaman kepada kebijakan demonstrasi universitas.
Pemeriksaan
Ini bukanlah pertama kalinya kelompok kami diperlakukan diskriminatif oleh Universitas Northeastern. Kami pernah terpaksa membatalkan acara hanya karena kesalahan administrasi sederhana, diawasi dengan ekstrem ketika mencoba mengakses dana kegiatan mahasiswa sampai didatangkannya polisi ke acara kami.
Contohnya ketika aksi “Minggu Apartheid ‘israel’ ” (kegiatan untuk membangkitkan kesadaran tentang kondisi Palestina yang diselenggarakan di kampus seluruh dunia) tahun ini, pihak universitas mengganggu acara kami dengan alasan kami tidak mengisi formulir dengan benar.
Tindakan diskriminatif ini beriringan dengan kampanye kotor yang seringkali menampilkan serangkaian video berjudul “Shame on Northeastern University”. Video ini dibuat oleh sebuah organisasi bernama Americans for Peace and Tolerance (APT). Kampanye yang mereka lakukan mengklaim bahwa Northeastern mendukung anti-Semitisme dan ekstrimis Islam.
Universitas Northearn adalah kampus yang mendapatkan pujian. Dan meski mereka mendukung nilai-nilai kemanusiaan terhadap warga dunia, mereka mudah menyerah oleh tekanan dari luar untuk membungkam kelompok mahasiswa yang aktif memperjuangkan HAM.
Meski ada upaya-upaya membungkam kegiatan kami, kami tetap akan berjuang dan menunjukkan kepada pihak kampus bahwa kami tidak akan lagi bisa diganggu dan diperlakukan diskriminatif. Solidaritas kami terhadap rakyat Palestina kini semakin kuat dan kami akan terus mengecam pelanggaran HAM dan hukum internasional yang dilakukan pemerintah ‘israel’ dan militernya. Kami berharap aksi kami bisa mengilhami tindakan-tindakan melawan ketidakadilan di kampus-kampus lain. (Electronic Intifada)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
