Sungai Jernih Revolusi Suriah (bagian 2 dari 2 tulisan – selesai)

17 November 2013, 17:50.
Syeikh Usamah Ar-Rifa'i, Wakil Ketua Rabithah 'Ulama Syam. foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Syeikh Usamah Ar-Rifa’i, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Syam. foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

ISTANBUL, Ahad (SahabatAlAqsha.com | SahabatSuriah.com):

Laporan ini kami terbitkan sebagai kerja sama antara Majalah Hidayatullah dengan Sahabat Al-Aqsha dan Sahabat Suriah. Akhir September lalu sebuah tim relawan kemanusiaan yang di dalamnya juga wartawan menjumpai Syeikh Usamah Ar-Rifai, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Syam di Istanbul. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.

Apa yang dilakukan oleh Rabithah ‘Ulama Syam untuk menyatukan hati dan barisan para Mujahidin dan rakyat Suriah di hadapan rezim ini?

Sesudah Revolusi terjadi Rabithah ‘Ulama Syam memfokuskan kerja utamanya untuk menyatukan kalimat dan merapatkan shaf perjuangan ulama dan rakyat.

Perlu diketahui Rabithah ‘Ulama Syam pertama kali berdiri tahun 1937. Sejak Partai Sosialis Ba’ats berkuasa Rabithah dibubarkan. Lalu kami dirikan kembali secara rahasia sebelum Revolusi.

Sesudah kami keluar dari Suriah, kami menegaskan kembali keberadaan Rabithah di sini di Istanbul. Diawali apa yang kita sebut baitut tansiq (rumah kordinasi) lalu dengan pertemuan-pertemuan mingguan di sini, lalu alhamdulillah seluruh perhimpunan di berbagai bidang khususnya para ‘ulama bisa disatukan.

Kami juga berhubungan terus baik dengan mereka yang berjuang di bidang politik di luar maupun di medan perlawanan bersenjata di dalam Suriah.

Penyatuan pemikiran dan barisan ini juga terus kami lakukan di garis depan. Di Damaskus, seluruh brigade Mujahidin sudah ada dalam satu kordinasi. Di Aleppo, Homs, Jabal Akrad, terus kami menekuni setiap wilayah satu per satu.

Bagaimana semua ini dilakukan dari jauh, sedangkan masalahnya ada di dalam Suriah?

Ini adalah pekerjaan utama kami pagi, siang, sore, malam: tauhidul kalimah (pentauhidan visi) dan ta’liful qulub (penyatuan hati). Kami mengerahkan semua yang kami miliki untuk pekerjaan ini.

Rabithah ‘Ulama Syam terus-menerus mengirimkan para da’i ke dalam Suriah, yang tugas utamanya mentarbiyah para Mujahidin dan rakyat dengan aqidah yang shahih dan akhlaq yang mulia. Kedua hal inilah yang secara alamiah akan menyatukan hati mereka.

Tidak semua yang berjihad dengan senjata di Suriah itu mengenal Islam. Banyak yang jahil atau bodoh. Banyak yang akhlaqnya jauh dari Islam. Kita tidak boleh hanya mencela dan mengkritik. Kita perbaiki.

Alhamdulillah di Damaskus saat ini ada lebih dari 100 da’i, dan lebih dari 100 lainnya di berbagai daerah lain. Kami sedang ngebut, target kami dalam waktu dekat jumlah seluruh da’i yang kami kirimkan ke dalam Suriah minimal 1500 orang.

Setiap da’i bertanggung jawab menekuni tarbiyah Islam di setiap brigade dan pasukan Mujahidin. Sehingga terjaminlah seluruh perjuangan ini dari hal terkecil sampai strategi besarnya berada di atas jalan Allah.

Waktu ke Idlib dan Aleppo kami mendapati sudah berjalannya mahkamah syari’ah. Bagaimana cara kerja mereka?

Ini juga merupakan pekerjaan besar yang harus kita tekuni. Rakyat merindukan kehidupannya dituntun oleh syari’ah. Maka sejak revolusi terjadi, bertumbuhanlah di berbagai wilayah lembaga-lembaga fatwa ini.

Rabithah ‘Ulama Syam kemudian menyatukan lembaga-lembaga ini ke dalam sebuah sistem. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, semua mahkamah dan lembaga fatwa sudah ada dalam satu kordinasi.

Insya Allah dalam waktu dekat akan ada muktamar khusus untuk (lembaga fatwa dan mahkamah syari’ah) ini, mungkin kami lakukan di dalam Suriah ataupun di dekat perbatasan Turki-Suriah.

Bagaimana menurut Anda masa depan mahkamah-mahkamah syari’ah ini?

Ambil contoh di Damaskus yang jumlah penduduknya lebih dari 4 juta orang sebelum revolusi. Saat ini mahkamah syari’ahnya dikelola oleh 15 orang hakim dan pengacara syari’ah yang kualitasnya sangat baik.

Apapun masalah dan pertikaian yang terjadi antara brigade-brigade mujahidin maupun antara para mujahidin dengan rakyat awam, mereka siap membantu penyelesaiannya. Perlahan tapi pasti, kerja keras mereka dirasakan oleh rakyat.

Saat ini kesadaran mengenai indahnya cara Islam menyelesaikan setiap percekcokan dan persoalan mulai dirasakan orang. Inilah yang akan menyatukan hati dan barisan kita. Alhamdulillah.

Kezhaliman rezim ini dan revolusi rakyat yang melawannya telah menjadi Furqan (pembeda) antara sebagian ‘ulama dengan ‘ulama yang lain. Bagaimana peta perbedaan pandangan yang sesungguhnya?

Kita semua tidak tahu bagaimana keadaannya nanti setelah rezim ini jatuh. Hanya Allah yang tahu. Namun bagi para ‘ulama visi itu sangat jelas. Bahwa yang sedang kita perjuangkan ialah, satunya pandangan semua orang, bahwa sesudah jatuhnya rezim ini maka yang akan memerintah dan menuntun kehidupan kita semua bukanlah seorang individu presiden, tetapi syari’ah Islam. Daulah Islam.

Tugas utama siapapun yang memerintah nanti adalah memastikan bahwa kita menertibkan kehidupan bernegara kita dengan tuntunan Islam.

Benar, kenyataannya sekarang, diantara draft undang-undang negara ada yang menyebutkan “syari’ah Islam menjadi landasan utama undang-undang negara”. Tidak. Kami tidak menginginkan itu. Yang kita inginkan “syari’ah Islam menjadi satu-satunya landasan bagi undang-undang negara”.

Subhanallah itu tujuan yang sangat besar.

Ya benar. Kami tahu ini tidak mudah. Diantara pekerjaan beratnya adalah menyusun detil-detil pelaksanaan syari’ah di semua bidang kehidupan yang digeluti oleh seluruh rakyat. Bukan cuma pasal-pasal besarnya, tetapi sampai ke tuntunan praktisnya dalam menyelesaikan setiap perbedaan pendapat di semua bidang kehidupan.

Bahkan di dalamnya juga harus termasuk tuntunan bagaimana rakyat menangani masalah keuangan, liberalisme, tentang civil society dalam tuntunan Islam, dan banyak sekali.

Tapi kami meyakini, karena pekerjaan ini merupakan amanah Allah, pasti Allah akan menolong kita.

Apa masalah atau tantangan terbesar bagi menyatunya hati dan barisan Mujahidin?

Diantara brigade dan pasukan tidak sedikit yang sama sekali tidak kenal Dienul Islam. Bahkan ada pasukan yang semua isinya pencuri, perampok, tidak takut kepada negara, tidak juga cinta tanah air, dan yang lebih parahnya tidak ada takutnya kepada Allah. Mereka ini masalah yang cukup besar, karena mereka bersenjata.

Di Damaskus, alhamdulillah, masalah ini sudah bisa diatasi. Kurang lebih 15 hari yang lalu (wawancara dilakukan akhir September 2013) sudah terbentuk Liwa’ Hajarul Aswad yang menyatukan seluruh brigade perjuangan. Dan semoga Allah beri ganjaran terbaik untuk saudara-saudara kita di brigade Aqnafiyatul Maqdis yang bekerja keras luar biasa untuk penyatuan ini.

Di berbagai tempat di luar Damaskus alhamdulillah jumlah brigade lebih besar lagi dan sudah disatukan juga.

Ada juga masalah yang muncul akibat perbedaan pemikiran dengan saudara-saudara kita yang menyebut dirinya Salafiyun. Tapi dengan izin Allah, komunikasi kita dengan para ulama mereka terus tersambung. Tapi tidak mungkin tidak ada masalah. Sejauh ini sebesar apapun masalahnya, selalu bisa dibicarakan dengan baik.

Apakah Anda tidak menganggap campur tangan Barat baik dalam bentuk politik, militer, dan intelijen sebagai masalah?

Tentu saja itu masalah. Bahkan lebih dari itu, rezim ini (Basyar Al-Assad), Iran, dan berbagai kekuatan Barat punya tujuan sama: memecah-belah kekuatan umat Islam di Suriah. Dan tidak bisa kita pungkiri, ada juga akibat-akibat yang kita rasakan dari pekerjaan mereka itu.

Tapi sejauh ini kita juga terus bekerja keras, dengan bersandar hanya kepada pertolongan Allah. Anda tahu kalau Allah sudah menolong tidak ada kekuatan yang mampu melawan-Nya. Dengan izin Allah.

Ini pertanyaan yang agak pribadi. Kami dulu duduk mendengarkan khutbah-khutbah dan majelis-majelis Anda di Masjid ‘Abdul Karim Ar-Rifa’i. Revolusi telah mengubah Anda, dari seorang ‘alim yang mengkhususkan diri pada pendidikan ummat ini sekarang menjadi panglimanya para ‘ulama dalam jihad ini. Kapan persisnya Anda memutuskan untuk menjalankan peran ini?

Astaghfirullahal ‘azhiim… Astaghfirullah.

Ini semua Kemuliaan Allah semata-mata.

Yang jelas kami bersama revolusi ini sejak hari pertama. Aksi unjuk rasa menentang kezhaliman rezim sudah dilakukan sejak awal di masjid kami.

Kami hanya menjalankan apa yang sering dikatakan para ulama, “Kita ini adalah anak-anak zaman kita…”

Allah yang Maha Mulia dan Maha Menentukan telah menetapkan zaman dan keadaan yang harus kita hadapi. Peran kita hanya menjalankan apa yang terbaik dalam pandangan Allah saja.

Apa sebenarnya yang terjadi malam Ramadhan tahun 2011 itu, ketika pasukan rezim menyerang Anda? Kami menyaksikan di YouTube kepala Anda terluka.

Tidak ada apa-apa. Maksud saya, beberapa tetes darah yang keluar dari kepala saya tidak ada apa-apanya dibandingkan lautan darah para syuhada di kalangan rakyat.

Rakyat Indonesia pasti akan menanyakan kepada kami, pandangan Anda tentang Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Bagaimana penjelasan Anda tentang posisinya terhadap revolusi ini?

Sebelumnya mohon maaf, kita pendekkan, karena saya ada pertemuan lain.

Yang perlu diketahui oleh semua orang, sejauh yang saya ketahui dan yakini, Syeikh Ramadhan Al-Buthi tidak pernah satu hari pun dalam hidupnya menjual agamanya dengan harga dunia yang murah kepada rezim ini (Basyar Al-Assad). Dienul Islam adalah sesuatu yang paling mahal bagi dirinya.

Namun kenyataannya, kami berpisah jalan di revolusi ini. Dia berpegang kepada sikapnya, kami dan para ulama lain bersikap melawan kezhaliman rezim ini. Sama sekali kami tidak ridha pada sikapnya itu.

Menurut saya, dia telah dikaruniai Allah ilmu yang luas, dan menyebarluaskan ilmunya secara luas, tapi sayangnya akal tidak berkembang sama luasnya dengan ilmunya.

Keadaan yang dihadapinya dijelaskan secara ringkas oleh salah satu pemimpin besar ulama Tabi’in, Ibnu Ahmad Al-Farahidi:

“Barangsiapa yang akalnya berkembang seluas ilmu yang diberikan Allah kepadanya, maka dia dan ummatnya sama-sama mendapatkan karunia yang besar.

Barangsiapa yang akalnya tidak berkembang seluas ilmu yang diberikan Allah kepadanya, maka dia menjadi musibah besar bagi dirinya sendiri dan bagi ummat yang mengikutinya.”

Sambil meminta maaf sekali lagi, Syeikh Usamah menyalami dan memeluk kami. Lalu berpindah ke ruangan lain menjumpai rombongan tetamu lain.* (Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah | Suara Hidayatullah)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina - Suriah

« Sungai Jernih Revolusi Suriah (bagian 1 dari 2 tulisan)
Facebook Tutup Paksa Akun ‘Terkait’ Hamas »