Pemerintah Inggris Tolak Beri Paspor Bayi Relawan Inggris yang Bekerja di Suriah

20 March 2015, 17:01.
Foto: Aljazeera

Foto: Aljazeera

INGGRIS, Jum’at (Aljazeera): Pemerintah Inggris mempersulit pembuatan paspor untuk bayi dari pasangan berkebangsaan Inggris, yang bekerja sebagai aktivis kemanusiaan di Suriah. Ayah dari bayi perempuan berusia 17 bulan tersebut bernama Tauqir Sharif asal Essex, Inggris.

“Dia bukan warga Inggris, bukan pula warga Suriah. Dia tidak mempunyai status warga negara (stateless). Jika kami perlu keluar dari Suriah, kami tidak bisa melalui jalur resmi. Harus lewat jalur ilegal dan terancam ditembak oleh tentara Turki,” kata Sharif seperti dikutip Aljazeera.

Tauqir Syarif (27) dan istrinya Racquell Hayden-Best (21), mengelola sebuah kamp pengungsi di wilayah Atmah, di utara Suriah yang berbatasan dengan Turki. Kata Sharif, Atmah memang relatif aman. Namun, belakangan ini jadi semakin berbahaya menyusul serangan pasukan koalisi yang dipimpin AS terhadap para pejuang Suriah. “Ada banyak area ledakan di sekitar tempat kami bekerja. Jadi, banyaknya serangan udara membuat tempat ini jadi berbahaya,” kata Sharif.

Sharif dan Istrinya bekerja sebagai relawan di Suriah sejak 2012, tak lama setelah mereka menikah. Segera setelah istrinya melahirkan di Turki pada 2013, Sharif segera mengurus paspor putrinya. Delapan bulan berlalu tanpa hasil. Hasilnya, perwakilan pemerintah Inggris memintanya mengulang proses pendaftaran. Sharif dianggap telah melakukan kesalahan dalam mengisi dokumen. “Kami telah memastikan dia dilahirkan di Turki agar mendapat sertifikat kelahiran yang layak. Kami lakukan semua hal yang perlu, bahkan formulir telah kami terjemahkan. Namun, sejak itu tidak ada kontak sama sekali dari kedutaan.”

Sharif adalah salah satu warga Inggris yang ikut dalam konvoi kapal Freedom Flotilla menuju Gaza pada Mei 2010. Konvoi itu diserang Komando AL Zionis di perairan internasional, dan menewaskan sembilan aktivis. Dari sekian banyak aktivis asal Inggris dalam konvoi itu, hanya Sharif yang ditahan untuk diinterogasi setibanya di Inggris. “Jelas saja, kembali dari serangan itu kemudian diperlakukan seolah-olah saya adalah teroris, bukanlah pengalaman yang menyenangkan,” katanya. Selepas itu, Sharif sering dimintai keterangan oleh aparat keamanan Inggris. Terkadang, aparat mengaku dari M15, kadang dari Special Branch (polisi anti-teror Inggris).

Mengurus Yatim dan Para Janda

Sharif dan istrinya aktif sebagai relawan di Yayasan Youth of The Ummah. Mereka mengumpulkan bantuan dan mengelola berbagai program kemanusiaan bagi rakyat Suriah yang menjadi korban keganasan rezim Bashar Assad. Keduanya mengelola kamp pengungsi bagi para janda dan anak-anak yatim piatu Suriah, membuat sekolah darurat, dan menyalurkan bantuan. “Dia dikenal oleh para orangtua, nenek-nenek, dan mereka menghormatinya. Bahkan anak-anak akan mengerubunginya jika dia datang ke kamp,” kata Majid Freeman, relawan Inggris lainnya yang berkomentar tentang Sharif.

Sejak pergi ke Suriah di pertengahan 2012, Sharif sudah dipersulit oleh pemerintah Inggris. Rekening bank dia dan istrinya ditutup oleh pemerintah. Padahal, di masing-masing rekening itu ada dana titipan untuk dibawa ke Suriah sebanyak 5000 poundsterling dan 7.500 poundsterling. Kata Sharif, beberapa LSM yang bekerja sama dengannya juga diinterogasi aparat keamanan, begitu juga keluarganya yang tinggal di Inggris.

“Mereka mempersulit orang-orang yang mau membantu proyek kami. Banyak LSM yang tidak bisa bekerja sama dengan kami lagi. Bantuan yang masuk jauh berkurang. Padahal, ada 50 orang Suriah yang bekerja dengan saya, dan mereka butuh penghasilan untuk keluarga mereka,” kata Sharif.

Aljazeera mewawancarai pejabat urusan dalam negeri Inggris. Kata sumber anonim itu, ia tidak mau berkomentar tentang masalah keamanan nasional. Ditanya soal paspor putri Sharif, ia menjawab, “Kami jarang berkomentar soal kasus-kasus pribadi.” Sharif mengaku masih ingin pulang ke Inggris untuk menjumpai keluarga dan berbagi pengalaman untuk menggalang bantuan bagi Suriah. Namun, dia juga mengaku tidak punya harapan lagi untuk pulang.

“Saya rasa, tidak ada pilihan lain selain tinggal di luar Inggris. Jika saya pulang, saya akan diinterogasi dan berpotensi dipenjara. Namun, ada banyak tugas di Suriah, kami memiliki komunitas, keluarga, teman-teman, dan hidup terus berjalan,” pungkas Sharif.* (Aljazeera | Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah/Sur)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« “Selamatkan Para Tawanan yang Sakit”
13 Tahun Dipenjara, Kini Tawanan Asal Gaza Itu Bebas »