Inilah Harapan Para Ibu di Suriah: Mengunjungi Makam Anak Mereka

12 May 2015, 22:10.
Seorang bocah Suriah diselamatkan dari reruntuhan. Foto: Middle East Monitor

Seorang bocah Suriah diselamatkan dari reruntuhan. Foto: Middle East Monitor

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Tak ada seorang pun ibu yang bisa tahan menyaksikan kematian mendadak anaknya. Ini merupakan pesan serius para ibu Suriah yang ingin disampaikan pada dunia. Setelah kehilangan segalanya dan melewati hari-hari mereka di negeri asing sebagai pengungsi, mereka ingin mengunjungi makam anak-anak mereka.

Seperti diketahui, para wanita dan anak-anak merupakan pihak yang paling terkena dampak perang sipil berdarah di Suriah, yang tahun ini telah memasuki tahun ke lima. Dalam wawancara dengan kantor berita Anadolu, para ibu pengungsi Suriah yang hidup di Turki berterima kasih pada Presiden Recep Tayyip Erdogan yang telah membantu mereka dan menyediakan tempat penampungan bagi ratusan dari ribuan pengungsi Suriah. Kini sebagian besar dari mereka hanya mengharapkan bahwa saat perang berakhir, bisa segera mengunjungi makam anak-anak mereka yang dikubur di Suriah.

Hanud Barjas, seorang wanita Suriah di tempat penampungan Suleyman Sah di wilayah Akcakale, Sanliurfa, mengatakan pada Anadolu bahwa ia dulu tinggal di kota Deir al-Zour, sebelah timur Suriah. Barjas mengatakan, ia kehilangan tiga anak dalam sebulan ketika mereka terlibat dalam bentrokan dengan pasukan rezim Assad.

“Saya melihat tiga peti jenazah datang, namun awalnya saya tidak tahu itu milik siapa. Saya merasa hancur ketika mereka mengatakan pada saya bahwa itu untuk anak-anak saya. Saya berdoa pada Allah bahwa tidak ada orang lain yang akan mengalami nasib yang sama seperti saya. Saya tidak akan mengizinkan dua anak saya lainnya pergi ke medan perang. Saya takut mereka mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan saudara mereka. Kemudian kami melarikan diri ke Turki untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Barjas mengatakan bahwa ia telah dua kali mengunjungi makam tiga anaknya dan berharap bisa mengunjungi mereka setiap hari ketika perang berakhir. Ia juga mengingat bagaimana ia melihat seseorang mirip dengan anaknya yang telah tewas. “Ketika saya menjalani operasi jantung di Sanliurfa, saya menyadari bahwa dokter saya terlihat seperti anak bungsu saya yang syahid, itu membuat saya sangat sedih. Ketika saya mengatakan hal itu pada dokter, kami berdua menangis,” katanya.

Mengenai harapannya di masa depan, ia mengatakan berharap bisa melaksanakan haji atau umrah. “Semoga Allah memberkahi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, seluruh pejabat dan rakyat Turki. Saya harap Turki tidak pernah merasakan penderitaan seperti yang kami rasakan,” katanya.

Zahra Hammound, seorang ibu Suriah lainnya, mengatakan ia kehilangan dua anaknya dalam perang. “Satu dari dua anak saya yang meninggal telah menikah. Cucu saya lahir setelah kematian ayahnya dan kami memberinya nama seperti nama ayahnya, Gazi,” katanya. Ia mengatakan bahwa ia pindah ke Turki dengan tiga anaknya yang lain dua tahun lalu. Ia mengunjungi makam anaknya dengan cucunya hanya sekali.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis vs Guru dan Murid SD Palestina di Yatta
Polisi dan Pendemo Bentrok di Luar Penjara Ofer »