Relawan Ini Tewas Karena Gas Air Mata
30 October 2015, 21:17.

Hashem al-Azzeh saat memanen zaitun milik keluarganya yang terletak tepat di bawah permukiman Yahudi Tel Rumeida di kota Al-Khalil, Tepi Barat pada Oktober 2012. Foto: Ryan Rodrick Beiler/ActiveStills
AL-KHALIL, Jum’at (Electronic Intifada): Penduduk Al-Khalil dan relawan anti-penjajahan Hashem al-Azzeh meninggal dunia pada Rabu (21/10) lalu akibat menghirup gas airmata berlebihan yang ditembakkan pasukan penjajah Zionis. Media massa Palestina melaporkan, al-Azzeh, yang menderita penyakit jantung, mulai merasakan nyeri dada saat berada di rumahnya di kawasan Tel Rumeida, daerah yang dikendalikan oleh penjajah Zionis di Tepi Barat terjajah.
“Tak ada kesempatan untuk mendapatkan ambulans di sana,” kata Hisham Sharabati, koordinator Komite Pertahanan Al-Khalil dan pekerja lapangan untuk organisasi HAM Palestina Al-Haq. Penjajah Zionis tak mengizinkan kendaraan warga Palestina melaju di jalan-jalan dekat rumah al-Azzeh karena khusus disediakan untuk para pengendara Yahudi.
Para tetangga harus membawa al-Azzeh menuruni bukit menuju pos pemeriksaan militer terdekat, dimana terjadi bentrokan antara serdadu Zionis dan pemuda Palestina. “Ada gas airmata di sana dan para tentara membiarkan mereka tertahan (al-Azzeh dan para tetangganya) selama 10 menit,” kata Sharabati.
“Sebelumnya ia memiliki masalah jantung, tapi kondisinya memburuk karena gas airmata, begitupula dengan penundaan di pos pemeriksaan.” Ketika al-Azzeh akhirnya dibawa ke rumah sakit, ia dinyatakan meninggal setibanya di sana. Ia meninggalkan istri, Nisreen dan empat anak. Anak tertuanya baru berusia 16 tahun.
Istrinya Diserang Saat Hamil
Al-Azzeh tinggal di wilayah Al-Khalil yang sering diserang para pemukim ilegal Yahudi. “Hashem tinggal di daerah perbukitan dimana rumah-rumah para pemukim ilegal Yahudi lebih tinggi dari rumahnya,” kata Sharabati. Seperti halnya semua permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat terjajah, permukiman di Tel Rumeida juga ilegal berdasarkan hukum internasional. Namun, daerah “istimewa” ini terdiri atas deretan rumah karavan yang diapit oleh pos-pos pemeriksaan militer Zionis, serta rumah-rumah para pemukim ilegal paling fanatik dan kejam di Tepi Barat.
Al-Azzeh dan keluarganya terus menerus menahan derita atas pelecehan dari para ekstremis Yahudi, termasuk saat para pemukim ilegal Yahudi menyerang keponakannya, yang saat itu berusia sembilan tahun. Para pemukim ilegal Yahudi memasukkan batu ke dalam mulut keponakan laki-laki al-Azzeh untuk mematahkan giginya.
Dalam insiden lainnya, gigi al-Azzeh juga patah saat para pemukim Yahudi menyerang rumahnya, merampok dan menghancurkan perabotannya. Istri al-Azzeh sudah dua kali diserang para pemukim Yahudi saat ia tengah hamil pada trimester pertama dan kedua sehingga mengalami keguguran dua kali.
Hidup di Tengah Pemukim Yahudi Fanatik
“Hashem berperan besar menunjukkan pada dunia, pers, berbagai kelompok solidaritas, dan para pengunjung mengenai detail pelecehan yang dilakukan oleh penjajah Zionis di kota Al-Khalil,” kata Sharabati. “Para pemukim Yahudi melakukan semua kejahatan itu di hadapan tentara Zionis yang tak melakukan apa-apa untuk menghentikan mereka.”
“Semua orang yang mengenalnya mencintai Hashem karena sudut pandangnya mengenai penduduk Palestina di Tel Rumeida dan Al-Khalil yang menderita akibat permukiman-permukiman ilegal Yahudi,” kata jurnalis dan anggota Komite Pertahanan Al-Khalil Bassam Shweiki. “Para pemukim Yahudi di Al-Khalil merupakan yang paling fanatik di Tepi Barat,” tambahnya.
Salah satu penduduk permukiman Tel Rumeida adalah Baruch Marzel, yang ditangkap lusinan kali oleh penjajah Zionis dan memiliki sejumlah catatan kriminal termasuk melakukan aksi kekerasan terhadap warga Palestina. Marzel mengatakan pada The Times of Israel, “Kita harus menyingkirkan seluruh musuh kita dari sini.”
Coretan cat semprot di sisi sekolah warga Palestina di dekat rumah al-Azzeh tertulis “Bakar orang Arab/JDL.” JDL merupakan akronim untuk Liga Pembela Yahudi, yang didirikan oleh pemukim Yahudi sayap kanan, Meir Kahane. Kahane mendirikan Kach –sebuah organisasi yang amat rasis dan ekstrem. Bahkan di ‘Israel’ dinyatakan ilegal dan dikelompokkan sebagai kelompok teroris. Baruch Marzel yang bergabung dengan JDL saat masih remaja merupakan pengikut setia Kahane.

“Bakar orang-orang Arab! JDL” coretan itu tertulis di bagian luar tembok Sekolah Kordova dekat Jalan Syuhada, Al-Khalil, Oktober 2012. Foto: Ryan Rodrick Beiler/ActiveStills
Anggota JDL lain yang terkenal keji adalah Baruch Goldstein. Pada tahun 1994, Goldstein membunuh 29 warga Palestina dan melukai 125 orang lainnya di dalam Masjid Ibrahimi, Al-Khalil. Usai insiden pembantaian itu, penjajah Zionis membagi Masjid Ibrahimi menjadi dua bagian: untuk Muslim dan Yahudi. Pembunuhan tersebut juga memicu penutupan Jalan Syuhada dan wilayah lain di Al-Khalil, Kota Lama – penjajah menghukum secara kolektif penduduk Palestina atas tindakan seorang pemukim ekstremis.
Pemukim Yahudi Rampok Kebun Zaitunnya
Bagi al-Azzeh, tetap memutuskan tinggal di rumahnya juga merupakan aksi perlawanan. Ketika banyak dari tetangga dekatnya pergi karena penutupan jalan mengakhiri hampir seluruh aktivitas ekonomi di wilayah tersebut, ia dan keluarganya tetap tinggal. Ia sering menjadi tuan rumah bagi tamu-tamu internasional dan berbagi kisah perjuangannya dengan mereka.
Al-Azzeh sudah melalui banyak penderitaan akibat penindasan Zionis. Misalnya, tiga tahun lalu saat panen zaitun. Itu merupakan kali pertama al-Azzeh bisa memanen zaitunnya dalam lima tahun. Ditemani sejumlah relawan Gerakan Solidaritas Internasional, al-Azzeh hanya sebentar memanen beberapa pohon zaitun. Karena, sebagian besar zaitun sudah diambil oleh para pemukim Yahudi.
Setelah selesai memetik zaitun, tiba-tiba para pemukim Yahudi mendatangi kebun al-Azzeh dan mengklaim bahwa tak hanya pohon-pohon zaitun itu saja milik mereka, tapi seluruh lahan telah diberikan Tuhan pada mereka. Ketika para serdadu tiba di tempat kejadian, mereka malah menangkap seorang relawan dan dua warga Palestina – satu merupakan tetangga al-Azzeh dan satu lagi merupakan juru kamera kelompok HAM Zionis, B’T selem.
Meskipun penjajah Zionis mengetahui lahan tersebut milik al-Azzeh, penjajah menyuruh al-Azzeh dan para pendukungnya meninggalkan area tersebut. Baruch Marzel berada di antara para pemukim Yahudi itu.

Para pemukim ilegal Yahudi, di antara mereka ada Baruch Marzel, berdiri di pintu masuk kawasan Tel Rumeida pada April 2014. Foto: Keren Manor/ActiveStills
Pola Penyiksaan
Perilaku agresif para pemukim Yahudi yang difasilitasi tentara Zionis itu merupakan pelecehan dan penyiksaan yang biasa dialami keluarga al-Azzeh dan banyak warga Palestina lainnya di Al-Khalil. Lebih dari 50 warga Palestina tewas dalam aksi penembakan dan bentrokan dengan pasukan Zionis sejak awal Oktober. “Banyak warga Palestina yang terlibat dalam melawan penjajahan,” kata Sharabati. “Benar bahwa mungkin beberapa orang mencoba menikam pemukim ilegal Yahudi atau serdadu Zionis. Tapi kami yakin bahwa dalam banyak kasus lain para serdadu dan pemukim Yahudi hanya mengarang alasan-alasan tersebut usai menembaki para korban.”
Menurut Shweiki, gaya perlawanan Hashem al-Azzeh adalah “perjuangan sosial”. “Perjuangan dengan kata-kata –dengan memberi setiap momen waktunya kapanpun itu dengan menjelaskan apa yang sedang terjadi. Ia pria yang sederhana, tapi kuat,” kata Shweiki. “Ia menginginkan perdamaian di seluruh dunia. Ia tidak menginginkan kekerasan, tapi ia ingin hidup dalam damai di tanahnya sendiri dan di rumahnya.” *(Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
