Pemuda Palestina Ini Ditembak Penjajah Karena Kibarkan Bendera
18 November 2015, 18:04.

Muhammad al-Bhaisy dikunjungi orangtuanya di rumah sakit al-Shifa, Gaza, sebelum dipindahkan ke ‘Israel’ untuk menjalani perawatan. Foto: Ezz Zanoun
JALUR GAZA, Rabu (Electronic Intifada): Selama enam pekan terakhir, perbatasan antara Gaza dan ‘Israel’ menjadi tempat mematikan bagi warga Palestina. Pasukan Zionis menewaskan sekitar 16 warga Palestina saat terjadi aksi protes di wilayah tersebut antara 1 Oktober dan 6 November.
Namun, kekejaman Zionis tidak menghalangi pemuda berusia 22 tahun, Muhammad al-Bhaisy, bergabung dengan aksi demonstrasi di perbatasan, 6 November lalu. Ditemani temannya Sharif Mousa, ia membawa bendera Palestina berukuran besar. Dalam perjalanan menuju tempat demo dari rumahnya di kamp pengungsi Deir al-Balah, Muhammad menemukan batang kayu di jalanan, yang kemudian ia gunakan untuk mengikat bendera.
Hari itu, ratusan pemuda Palestina ikut ambil bagian dalam aksi protes di perbatasan. Saat Muhammad dan Sharif tiba, para serdadu Zionis telah mulai menembakkan gas airmata dan peluru. Setelah kurang lebih 20 menit, Muhammad tiba-tiba berlari ke arah pagar perbatasan, di dekat al-Bureij, kamp pengungsi lain di Gaza. Sharif berusaha mencegah temannya, tapi ia tidak bisa.
Video insiden tersebut memperlihatkan bahwa para serdadu Zionis melepaskan tembakan ke arah Muhammad saat ia berlari. Namun, tak mengenainya. Lalu, Muhammad tiba di pagar perbatasan dan memasang bendera di sana. Saat itulah ia ditembak serdadu Zionis. Sebuah peluru mengenai lutut kanan bagian belakang Muhammad.
Muhammad jatuh ke tanah, tapi kemudian mengangkat tangannya untuk memberitahu orang-orang bahwa ia masih hidup. Ketika sejumlah pemuda bergegas coba menyelamatkannya, para serdadu Zionis menembaki mereka, memaksa mereka untuk mundur. Akhirnya, kelompok pemuda lain berhasil berlari ke arah Muhammad dan membawanya pergi. Serdadu Zionis terus menerus menembaki para pemuda tersebut saat mereka melarikan diri dari pagar perbatasan.
Kehilangan Banyak Darah
“Mereka hendak membiarkannya mati kehabisan darah, seperti yang biasa mereka lakukan pada warga Palestina di Tepi Barat dan Baitul Maqdis,” kata Sharif pada Electronic Intifada. Saat dibawa ke rumah sakit al-Shifa di Kota Gaza, Muhammad sudah kehabisan banyak darah. Para dokter di al-Shifa berusaha menghentikan perdarahan dan menyelamatkan hidupnya.
Blokade dan berulangkalinya terjadi berbagai serangan di Gaza mengakibatkan rumah-rumah sakit di sana kekurangan peralatan medis yang dibutuhkan untuk merawat dengan baik sejumlah pasien yang menderita luka parah. Karena itulah, Muhammad harus dipindahkan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai, meskipun itu di ‘Israel’. Kini Muhammad dalam kondisi kritis di Barzilai, sebuah rumah sakit di Ashkelon (kota yang kini dikuasai ‘Israel’).
Bangga pada Muhammad
Butuh dua hari sebelum Zionis akhirnya mengizinkan Muhammad untuk dipindahkan ke sana. Penantian yang membuat keluarganya sangat menderita. Mereka khawatir Muhammad akan meninggal dunia. Ibunya, Sumaiya, mengatakan ia tidak tahu Muhammad pergi untuk berdemo. Saudara lelakinya, Amer, mengatakan, “Kami semua kaget atas aksi Muhammad. Kami semua sangat bangga.”
Awadallah, ayahanda Muhammad, juga sangat terkejut. Ia bahkan hampir tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan anaknya. Namun, ia mengatakan bahwa Muhammad itu anak yang baik, berani, kuat, dan ia menginginkan perubahan. Sepupu Muhammad, Khalil, mengatakan bahwa Muhammad berlari ke arah pagar meskipun ia tahu itu membahayakan jiwanya. Menurut Khalil, Muhammad melakukan aksi perlawanan karena buruknya kehidupan di Gaza. “Tak ada pekerjaan, tak ada uang dan tidak ada jalan keluar,” kata Khalil.
Sumaiya, ibunda Muhammad mengatakan, “Kami rakyat Palestina, takdir kami adalah berjuang. Wajar saja kalau kami tertembak lalu mati. Tapi, ketika anak saya tertembak demi Palestina, saya harap setidaknya ia diperlakukan seperti manusia,” katanya. Mereka harus melalui proses yang melelahkan demi bisa membawa Muhammad keluar dari Gaza menuju ‘Israel’ untuk menjalani perawatan. Mereka harus mendapatkan izin dari penjajah Zionis.
Pihak keluarga meminta bantuan Pusat HAM Palestina untuk mendesak Zionis mengizinkan Muhammad melakukan perjalanan melalui Erez, pos pemeriksaan antara Gaza dan ‘Israel’. Mohammed Bseiso, pengacara kelompok HAM itu mengatakan bahwa setelah ia berbicara dengan para dokter yang merawat Muhammad, jelaslah bahwa pemuda itu harus dipindahkan ke “rumah sakit normal”. Awalnya penjajah Zionis menolak memberi izin. Lantas, Bseiso menghabiskan waktu dua hari untuk bernegosiasi dengan pihak Zionis hingga akhirnya Muhammad mendapatkan izin untuk dipindahkan.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
