Dari Toko Roti Hingga Pasar, Rezim Assad dan Rusia Terus Bombardir Warga Sipil Suriah
7 December 2015, 21:20.

Foto: Anadolu
ISTANBUL, Senin (IHH | Middle East Monitor | Middle East Eye): Serangan kapal perang rezim Suriah menewaskan 53 warga sipil Jumat (4/12) malam lalu di kawasan yang dikuasai mujahidin di bagian timur Ghouta. Sumber-sumber dari Syrian Civil Defense mengungkapkan, serangan udara rezim Suriah itu menargetkan sebuah pasar di Kafr Batna dan daerah perumahan di Jesrin. Rumah-rumah yang menjadi target mengalami kerusakan parah. Delapan jenazah hangus terbakar sehingga sulit diidentifikasi.
Kawasan timur Ghouta merupakan satu dari daerah pertama yang jatuh ke tangan mujahidin dan kerap menghadapi serangan bom rezim Assad. Ribuan warga sipil di daerah tersebut terperangkap akibat pengepungan rezim Assad sejak tahun 2013. Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Amnesty International menyatakan, pemerintah Assad mengabaikan permintaan Dewan Keamanan PBB untuk mengizinkan pengiriman bantuan kepada warga sipil di sana, yang dibiarkan tanpa makanan, obat-obatan dan listrik. Menurut PBB, setidaknya 250.000 orang tewas sejak konflik Suriah dimulai tahun 2011.

Reruntuhan gedung-gedung terlihat usai kapal perang milik tentara Suriah melakukan serangan udara di kawasan Kafr Batna di sebelah timur wilayah Ghouta, Damaskus, Suriah, 4 Desember lalu. Foto: Anadolu
Toko Roti Dibom Rusia
Serangan udara Rusia menghancurkan toko roti dan pabrik tepung terigu yang didanai Qatar Charity dan dikelola IHH Humanitarian Relief Foundation Turki di Idlib, Suriah, 29 November lalu. Empat kapal perang menjatuhkan 20 rudal ke wilayah tersebut. Akibat serangan ini, toko roti yang memanggang 65.000 roti per hari untuk 45.000 orang itu benar-benar luluh lantak.
Para pekerja toko roti berhasil lari untuk menyelamatkan diri setelah serangan pertama mengakibatkan kebakaran di dalam toko. Beberapa menit kemudian saat bom menghancurkan toko roti mereka bisa merekam video serangan tersebut. Akibat serangan rudal Rusia itu, para pengungsi di kawasan tersebut tak lagi bisa mendapatkan roti.
Dalam keterangan persnya, IHH menyatakan bahwa dalam masa-masa perang, bantuan kemanusiaan merupakan faktor terpenting untuk menyokong kehidupan mereka yang harus bermigrasi. Dengan alasan ini, keamanan wilayah termasuk daerah kamp pengungsi, bantuan kemanusiaan, produksi makanan, dan rumah sakit, yang memiliki arti sangat penting seharusnya tidak ditembak kendati dalam perang. Hal itu sudah menjadi kesepakatan internasional.
Berbagai serangan terhadap wilayah-wilayah seperti itu paling berdampak pada warga sipil karena bisa mengakibatkan kematian massal. Atau, menyebabkan migrasi manusia besar-besaran karena ketiadaan pasokan makanan yang kini menjadi salah satu penyebab migrasi warga Suriah ke Eropa. Dalam serangan terakhir Rusia yang bekerja sama dengan pasukan Assad dan sekutunya, truk-truk bantuan, toko-toko roti yang menyediakan kebutuhan dasar dihancurkan dengan bom.
Padahal, toko roti yang dibom dengan serangan rudal itu hanya memenuhi kebutuhan roti para pengungsi, wanita dan anak-anak. Para relawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa mendapatkan pasokan makanan akibat serangan brutal rezim Assad terhadap kawasan tersebut. Tidak ada ISIS di kawasan tersebut seperti yang diklaim Rusia. Hanya ada warga sipil di sana.
IHH menegaskan, mereka memberikan bantuan kemanusiaan di Suriah sesuai kesepakatan internasional. Sebagai anggota dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), IHH melakukan aktivitas kemanusiaan sesuai kesepakatan aturan main bantuan kemanusiaan internasional. Sebagai anggota tertinggi Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA), IHH Humanitarian Relief Foundation mengikuti seluruh rapat koordinasi.
Dalam semua rapat, warga Suriah yang bekerja untuk IHH diberi penjelasan. Seluruh bantuan kemanusiaan yang beroperasi di dalam kawasan tersebut, seperti toko-toko roti (termasuk toko roti yang dibom) dan gudang-gudang makanan seluruhnya diketahui oleh PBB dan laporan tentang itu diberikan secara reguler.
Begitu pula dengan tempat-tempat yang menjadi sentra aktivitas bantuan kemanusiaan IHH, mereka telah berkoordinasi dengan PBB dan semua instansi terkait. Segala koordinasi dan seluruh informasi disampaikan secara teratur agar bisa menghentikan penyerangan terhadap pusat bantuan kemanusiaan dan kawasan-kawasan warga sipil.
Dalam pernyataan tertulisnya, IHH menegaskan, menargetkan langsung toko roti (dibuktikan dengan rekaman video dan pernyataan para saksi mata) bertentangan dengan hak-hak asasi manusia dan termasuk kejahatan perang. Dunia harus ikut mengecam serangan-serangan terhadap aktivitas bantuan kemanusiaan dan PBB bertanggung jawab untuk segera menghukum pelaku pemboman.
Sejarah Toko Roti
Toko roti yang dibom Rusia itu didirikan setahun lalu dan telah memanggang 16.500.000 potong roti. Namun, akibat serangan rudal Rusia, toko roti, pabrik tepung terigu dan seluruh perlengkapan gedung hancur.
Dua tim yang masing-masing tim terdiri dari 10 orang bekerja bergiliran di toko roti tersebut. Seminggu sebelum terjadinya serangan terhadap toko roti itu, Turki telah menembak jatuh kapal perang Rusia yang melanggar wilayah udara Turki dan mengabaikan peringatan berkali-kali. Insiden ini meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut. Rusia mulai lebih sering menembaki perbatasan Turki seraya meningkatkan serangan-serangan usai Turki menjatuhkan kapal perangnya.
Gudang-gudang makanan dan sejumlah toko roti yang merupakan bantuan darurat menjadi target di kawasan tersebut. Kamp pengungsi warga sipil –tempat tinggal ratusan ribu orang–juga di bawah tekanan. Rakyat terutama wanita, lansia dan anak-anak di kamp-kamp tersebut berupaya mempertahankan jiwa mereka dan hidup dalam kecemasan. Rusia membom wilayah tersebut secara intensif tanpa peringatan apapun dan pertimbangan lokasi sehingga banyak warga sipil yang tewas.* (IHH | Middle East Monitor | Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
