230.000 Warga Palestina di Baitul Maqdis Terancam Kehilangan Tempat Tinggal
21 December 2015, 08:09.

Sejak tahun 2003, warga di kawasan ini terus menderita akibat krisis sampah, jalan-jalan tak beraspal dan kondisi yang tidak aman. Foto: Dokumentasi Middle East Monitor
LONDON, Senin (Middle East Monitor): Stasiun TV Zionis, Channel 2 memberitakan bahwa dalam pertemuan pemerintah pada November lalu, PM Benyamin Netanyahu mengusulkan tentang “menghapuskan” tempat tinggal ribuan warga Palestina Baitul Maqdis. Menurut Channel 2, usulan Netanyahu itu menargetkan sekitar 230.000 warga Palestina yang memegang izin tinggal di Timur Baitul Maqdis dan tinggal di kamp pengungsi Shufat, kawasan Kufr Aqab dan kawasan Sawahra.
Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, terdapat sekitar 350.000 warga Palestina dan 200.000 pemukim ilegal Yahudi yang tinggal di perbatasan kota Timur Baitul Maqdis. Kahil Tufakji, pakar urusan permukiman Palestina mengatakan pada kantor berita Anadolu bahwa usulan Netanyahu untuk meniadakan tempat tinggal 230.000 warga Palestina Baitul Maqdis tidak hanya menargetkan mereka yang tinggal di luar tembok pemisah yang dibangun penjajah Zionis. Akan tetapi juga menargetkan penduduk kawasan Arab yang berada di dalam area tembok pemisah, termasuk Jabal Mukaber, Al-Issawiya, Al-Tur, Shufaat dan Beit Hanina.
Sekitar 145.000 warga Palestina Baitul Maqdis tinggal di luar tembok pemisah, sementara 195.000 orang tinggal di dalam wilayah tembok pemisah. “Berdasarkan rencana yang disiapkan mantan PM Ehud Olmert, Baitul Maqdis akan menjadi kota dengan 88 persen mayoritas Yahudi dan minoritas Arab (12 persen) di tahun 2020,” kata Tufakji.
Kawasan Terpinggirkan
Kawasan-kawasan Timur Baitul Maqdis yang terletak di luar tembok pemisah menderita akibat pengabaian secara sengaja oleh pemerintah kota Baitul Maqdis. Setelah penjajah Zionis membangun tembok pemisah pada tahun 2003, kawasan-kawasan tersebut terus menderita akibat krisis sampah, jalan tak beraspal dan rawannya keamanan di sana. Menurut pejabat setempat, anggaran yang dialokasikan untuk kawasan tersebut kurang dari 0.02 persen anggaran tahunan Baitul Maqdis.
Ahmed Qurei, orang yang bertanggung jawab atas urusan Baitul Maqdis di PLO menuduh penjajah Zionis berupaya mengusir warga Palestina dari Timur Baitul Maqdis melalui sanksi-sanksi dan pencabutan izin tinggal. Menurut pejabat di Kementerian Dalam Negeri ‘Israel’, penjajah Zionis telah mencabut izin tinggal 14.500 warga Palestina Baitul Maqdis sejak tahun 1967. Qurei mengatakan bahwa mempertahankan izin tinggal di Baitul Maqdis merupakan bagian dari perjuangan warga Palestina untuk menjaga identitas Arab di kota suci. Ia mengatakan, itulah hal yang mendorong lebih dari 100.000 warga Palestina bertahan tinggal di wilayah-wilayah yang ditelantarkan oleh “pemerintahan penjajah Zionis.”
“Saya membayar pajak kepada pemerintah kota Baitul Maqdis, tapi sampah ada di jalan-jalan, saluran listrik dan air sudah usang, jalan-jalan tak beraspal dan sanitasi buruk,” kata Ahmad Zughaiar, penduduk kawasan Kufr Aqab di Timur Baitul Maqdis, kepada Anadolu. “Saya tidak bisa tinggal di dalam tembok pemisah karena tak tahan dengan biaya hidup di sana dan tidak bisa tinggal di Ramallah karena mereka akan menghilangkan identitas Baitul Maqdis saya.” *(Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
