Khawatir Intifadhah, Penjajah Tawan 490 Warga Palestina dalam Sebulan
2 February 2016, 20:01.

Foto: PIC
RAMALLAH, Selasa (PIC): Pusat Studi Tawanan Palestina (PCPS) mengungkapkan, otoritas penjajah Zionis (IOA) kian meningkatkan operasi penangkapan warga Palestina selama sebulan terakhir untuk menumpas intifadhah yang merebak sejak empat bulan lalu. Dalam laporan bulanannya, PCPS mencatat sekitar 490 warga Palestina ditangkap pada Januari lalu di beberapa wilayah Palestina. Di antara mereka yang ditangkap selama bulan pertama tahun ini adalah 140 anak, bahkan beberapa dari mereka ditangkap dalam kondisi terluka. Termasuk 13 wanita dan remaja putri, termasuk istri-istri dan ibu para tawanan, serta dua anggota Dewan Legislatif dan mantan menteri.
IOA juga menahan 10 warga sipil dari Jalur Gaza, termasuk enam nelayan saat mereka melaut, dan pria berusia 53 tahun yang tengah menemani istrinya menuju rumah sakit Al-Maqased di Baitul Maqdis terjajah. Pun, pada Januari tawanan yang berprofesi sebagai wartawan, Mohamed al-Qeiq dari Al-Khalil, meneruskan aksi mogok makannya yang dimulai sejak 24 November 2015. Aksi itu dilakukan sebagai wujud protes atas penahanan administratifnya. Kini kondisi kesehatannya sudah dalam tahap mengancam jiwa.
Perihal penangkapan anggota legislatif, juru bicara PCPS Riad Al-Ashqar menjelaskan bahwa sejumlah anggota legislatif yang diculik dan kini berada dalam penjara-penjara Zionis naik menjadi tujuh orang pada Januari lalu. Penculikan anggota legislatif Mohammed Mahmoud Abu Tir (65) terjadi usai penjajah menerobos masuk ke rumahnya di Kafr Aqab, menggeledah dan menyabotase isi rumah, lalu menangkap dan membawanya ke tempat yang tidak diketahui. Abu Tir merupakan orang yang dideportasi dari Baitul Maqdis ke Ramallah dan telah mendekam di penjara Zionis lebih dari 30 tahun dengan sejumlah masa penahanan. Pembebasan terakhirnya dari penjara adalah pada Juli tahun lalu, setelah ia menghabiskan 25 bulan masa penahanan.
Selain itu, anggota legislatif Hatem Rabah Kufaisheh (55), yang ditangkap usai rumahnya di Al-Khalil digerebek. Insiden tersebut terjadi hanya satu jam setelah mobil yang ia parkir di depan rumahnya dibakar oleh penyerang tak dikenal. Kemudian, Kufaisheh dijatuhi penahanan administratif selama enam bulan. Kufaisheh merupakan eks-tawanan yang dipenjara di penjara Zionis selama lebih dari 12 tahun. Ia dibebaskan dari penahanan terakhirnya pada 31 Maret 2015. Ia menderita tekanan darah tinggi dan diabetes. Mantan Menteri Pemerintah Daerah, Issa Khairi Jabari, asal Al-Khalil, juga ditangkap dan dijatuhi penahanan administratif selama empat bulan. Ia merupakan eks-tawanan dan telah mendekam beberapa tahun di penjara-penjara Zionis.
Al-Ashqar juga mengatakan bahwa selama bulan Januari lalu 140 anak-anak di bawah usia 18 tahun ditangkap, begitu pula remaja putri dan 13 wanita termasuk nenek berusia 64 tahun asal Jalur Gaza. Nenek tersebut ditahan selama berjam-jam di pelintasan Beit Hanoun, saat ia akan kembali ke Gaza dari Baitul Maqdis terjajah. Kemudian, ia dibebaskan. Istri tawanan Ahmed Mughrabi yang divonis hukuman penjara seumur hidup, Hanadi Musa Mughrabi (37), juga ditangkap. Seorang ibu dari tawanan asal Baitul Maqdis, Ameer Salloum, juga ditangkap saat ia menunggu di ruang penjara untuk menjenguk anaknya. Di antara para wanita yang ditangkap terdapat pula Rabia Ourouj (27), istri tawanan Ismail Ourouj dan ibunya Feddah (52).
Al-Ashqar juga menyatakan, penjajah Zionis melanjutkan kebijakan sewenang-wenangnya dengan mengeluarkan 117 surat penahanan administratif selama bulan Januari. Sekitar 54 surat perintah penahanan administratif ditujukan kepada tawanan-tawanan baru, sementara 63 lainnya merupakan perintah perpanjangan penahanan administratif bagi para tawanan yang sudah lama ditahan, berkisar antara tiga hingga enam bulan.
Dalam konteks penahanan administratif, Al-Khalil terjajah memiliki persentase tertinggi, yakni mencapai 42 dan sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan keputusan perpanjangan, termasuk keputusan yang dikeluarkan bagi anggota parlemen Hatem Kufaisheh dan mantan menteri Issa Jabari. Al-Ashqar menyatakan, bulan lalu Dinas Penjara ‘Israel’ (IPS) juga meningkatkan penggunaan kebijakan represifnya terhadap para tawanan, seperti pemindahan ke penjara lain tanpa alasan jelas dan berbagai serangan terhadap para tawanan.
Ia mengatakan bahwa PCPS memantau 16 penggerebekan di penjara-penjara oleh pasukan khusus, yang sebagian besar terjadi di penjara Nafha dan Negev. Serangan beberapa kali terjadi di sejumlah bagian penjara Negev dan IPS mengurangi masuknya pakaian-pakaian para tawanan menjadi sekali setiap tiga bulan. Sementara di penjara Nafha, IPS mengisolasi tiga bersaudara dari keluarga Abu Ayash.
Pun, memindahkan 13 tawanan dari penjara Eshel ke penjara lainnya karena mereka memprotes kebijakan pemeriksaan yang melecehkan terhadap keluarga mereka saat melakukan kunjungan ke penjara. Belum lagi waktu kunjungan yang diberikan pun sangat singkat. Di penjara yang sama, sejumlah anggota keluarga diizinkan mengunjungi 10 orang per kelompok pengunjung alih-alih 30 orang. PCPS kembali meminta lembaga-lembaga PBB untuk segera campur tangan menghentikan operasi penangkapan sewenang-wenang tanpa akhir yang dilakukan penjajah Zionis.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
