‘Jika Rumah Ini Hancur, Akan Kudirikan Tenda di Atas Puingnya dan Tinggal di Sana’

11 January 2017, 21:57.
Foto: Aljazeera.net

Foto: Aljazeera.net

TULKAREM, Rabu (Qudsn.ps): “Seratus ribu juta shekel tidak akan bisa membayar secuil tanah ini. Aku tidak akan menjual rumahku ini. Bagaimana mungkin aku menjual kehormatan dan tanah airku?” Demikian jawaban Syauqiyyah Hamayadah kepada petugas penjajah yang ingin membeli rumah seluas tidak lebih dari 70 meter dengan satu juta shekel.

Sejauh enam meter dari pos pemeriksaan militer Zionis di Jabarah, berdiri rumah Syauqiyyah, sebuah rumah yang tak layak dihuni oleh manusia. Di sekitar rumah itu tak ada rumah tetangga, kecuali pembatas-pembatas militer Zionis. Satu setengah kilometer lebih jarak yang memisahkan rumah Syauqiyyah dengan rumah-rumah lain di Jabarah, selatan Tulkarem.

Sekitar 27 tahun lalu Syauqiyyah dan suaminya membeli rumah yang sudah berdiri sejak tahun 70-an itu. Ia tinggal bersama suami dan ketiga putrinya. Namun, pada tahun 2001 didirikan pos pemeriksaan Jabarah dan secara langsung penjajah membangun tembok apartheid yang mengancam penyitaan dan penghancuran rumahnya.

Syauqiyyah mengisahkan kepada Qudsn.ps tentang kekhawatiran keluarganya terkait penyitaan rumah dan tanah di sekitarnya pascapembangunan tembok apartheid. Ia dan suaminya merawat dan mengelola tanah itu agar terjaga dari penyitaan yang sewaktu-waktu juga dapat mengenai rumahnya.

Tahun demi tahun berlalu dan Syauqiyyah terus mempertahankan rumahnya, ia pun semakin tidak mampu menjaganya ditambah petugas penjajah yang memintanya segera pergi. “Tanggal 17 Ramadhan tahun 2015 datang petugas penjajah, dari aksennya saya tahu dia dari Druze. Lalu bilang kepada saya bahwa dia telah menyiapkan satu juta shekel dan akan ia berikan kepada saya dengan syarat saya menyerahkan surat-surat rumah milik saya,” kata Syauqiyyah yang menolak tawaran menggiurkan itu.

Mendapat penolakan keras dari Syauqiyyah, petugas penjajah belum menyerah dan mencoba lagi pada September 2016. “Mereka mendesak saya. Mereka bilang, ‘Jika dinding ini diperlebar beberapa meter saja pasti rumahmu akan hancur.’ Saya jawab, ‘Saya akan dirikan tenda di atas puing-puing rumah dan tinggal di atasnya.’”

Selama tinggal sendiri di rumah itu Syauqiyyah sering mendapat gangguan dari pasukan penjajah Zionis. Jika ia tengah keluar rumah, maka ketika pulang sering ia dapati segerombolan serdadu nongkrong di halaman rumahnya. “Mereka menanyakan apakah saya pemilik rumah, setelah saya jawab ya mereka membiarkan saya masuk. Saya seorang wanita lansia tinggal sendiri di rumah itu dan saya mulai takut terhadap gangguan mereka. Namun, saya akan tetap teguh di depan wajah mereka,” tegasnya.

Penjajah Zionis juga mulai melarang Syauqiyyah merawat pohon zaitun yang ia tanam di dekat rumahnya. Di tanah itu telah terpasang tanda peringatan larangan masuk dan ancaman mati, karena tanah itu sudah masuk wilayah militer. “Mereka baru membolehkan saya masuk setelah jatuh waktu panen zaitun dan setelah saya minta. Saya mendatangi pemerintah sipil untuk meminta izin, lalu mereka memberikan saya izin masuk selama waktu yang sudah ditentukan.”

Sesudah mendapat tawaran untuk menjual rumahnya pada penjajah, Syauqiyyah menyampaikan hal itu kepada pemerintah provinsi (pemprov) Tulkarem agar mengirim utusan untuk mengunjungi rumahnya. Datanglah utusan dari pemprov Tulkarem dan berjanji akan merenovasi rumah miliknya. “September lalu pemprov mengirimkan semen dan batu untuk memulai proses renovasi rumah. Namun, bahan bangunan itu terlantar di luar terkena hujan dan belum ada yang datang lagi,” katanya.

Atap rumahnya telah banyak berlubang sehingga air seringkali merembes masuk ke dalam dan menyebabkan kelembaban. Selain itu, pernah ada seekor ular masuk rumah dan hampir menggigitnya. “Yang saya minta hanya pemeliharaan rumah dengan bahan-bahan dasar supaya saya bisa tetap tinggal dan mencegah penyitaan.” *(Qudsn.ps | Sahabat Al-Aqsha/Dul)

Foto: Aljazeera.net

Foto: Aljazeera.net

Foto: Aljazeera.net

Foto: Aljazeera.net

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Serbu Kamp Pengungsi di Tubas dan Tewaskan Seorang Pemuda Palestina
Wisuda Penghafal Quran di Gaza »