Inilah Pemimpin Baru Hamas di Gaza, Yahya Al-Sinwar

16 February 2017, 15:17.
Yahya Al-Sinwar, pemimpin baru Hamas di Jalur Gaza. Foto: MEMO

Yahya Al-Sinwar, pemimpin baru Hamas di Jalur Gaza. Foto: MEMO

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, Senin (13/2) lalu mengumumkan telah memilih Yahya Al-Sinwar sebagai pemimpin baru di Jalur Gaza. Al-Sinwar menggantikan mantan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah, yang meraih jumlah suara terbanyak dalam pemilu parlemen Palestina pada 2006.

Yahya Ibrahim Hassan Al-Sinwar lahir pada 1962, tepat 14 tahun setelah keluarganya diusir dari Askalan (kini disebut Ashkelon) pada 1948. Rumahnya di kamp pengungsi Khan Younis, di selatan Jalur Gaza, di sanalah ia dilahirkan.

Setelah menuntut ilmu di sekolah yang dikelola Agensi Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), Al-Sinwar mendaftarkan diri ke Universitas Islam Gaza pada awal 1980-an. Ia membantu pembangunan ruang-ruang kuliah dan gedung-gedung lainnya sebelum lulus dari Jurusan Bahasa Arab.

Kehidupan politik dan penahanannya

Pada 1982, selagi masih di universitas, Al-Sinwar ditawan oleh otoritas penjajah ‘Israel’, dan menghabiskan empat bulan masa penahanan administratif, yakni penahanan tanpa dakwaan atau sidang. Alasan penahanannya masih menjadi rahasia dinas intelijen ‘Israel’. Namun, banyak yang menduga antara lain karena keterlibatannya secara langsung dalam pembangunan universitas dan aktivitas-aktivitasnya dengan serikat mahasiswa. Ketika Jalur Gaza berada di bawah penjajahan militer langsung dan diatur oleh “pemerintahan sipil” ‘Israel’, sangat sulit bagi Universitas Islam untuk memperoleh izin dari otoritas, tapi akhirnya diberikan izin.

Mungkin juga ia ditawan karena aktivitas-aktivitasnya dengan blok mahasiswa Hamas. Al-Sinwar memenangkan lima pemilihan dalam daftar “blok Islam” selagi di universitas, menjadi presiden dewan mahasiswa dan wakil presiden dua kali.

Pada tahun 1985, Al-Sinwar kembali ditangkap otoritas penjajah Zionis dan mendekam delapan bulan dalam penjara, karena dituduh berperan dalam mendirikan agen intelijen Hamas bersama dengan pemimpin-pemimpin senior Hamas Ibrahim Al-Maqadmeh dan Ahmed Al-Maleh. Tiga tahun kemudian ia ditawan lagi dengan penahanan administratif.

Pada 1989, usai penyelidikan panjang terhadap pembunuhan kaki tangan penjajah yang memata-matai warga Palestina yang terlibat dalam intifadhah pertama –yang dimulai pada Desember 1987– ia didakwa dan divonis empat hukuman seumur hidup.

Di dalam penjara-penjara ‘Israel’

Al-Sinwar dikenal sebagai tokoh Hamas yang dihormati sepanjang 23 tahun masa yang ia habiskan di dalam berbagai penjara ‘Israel’ bersama temannya Rawhi Mushtaha dari Kota Gaza. Keduanya dipilih beberapa kali oleh para tawanan Hamas untuk mewakili gerakan tersebut di dalam lembaga perwakilan para tawanan.

Selama masa 23 tahunnya di penjara, keluarga Al-Sinwar hanya diizinkan mengunjunginya beberapa kali. Ayahnya hanya mengunjunginya dua kali selama masa 13 tahun pertama ia dipenjara sebelum akhirnya dilarang berkunjung lagi oleh ‘Israel’.

Pertukaran tawanan

Pada 2006, sayap militer Hamas –Brigade Izzuddin Al-Qassam– dan para pejuang dari dua kelompok lainnya di Gaza menangkap seorang serdadu ‘Israel’ dari tank-nya ketika sedang aktif bertugas di perbatasan sebelah selatan-utara Gaza. Setelah berbagai upaya ‘Israel’ untuk membebaskan Gilad Shalit gagal, penjajah Zionis setuju untuk menukar lebih dari 1.000 tawanan Palestina untuknya, termasuk para pemimpin senior dari semua faksi.

Ketika tiba di Gaza setelah pembebasannya, Al-Sinwar menyampaikan pidato dalam sebuah pawai besar dan berjanji akan bekerja keras demi kebebasan seluruh tawanan Palestina di dalam penjara-penjara ‘Israel’.

Setelah kebebasannya

Orang-orang yang dekat dengan Al-Sinwar menyatakan bahwa ia adalah pemimpin yang karismatik, yang karena itulah, terlepas dari hubungannya dengan para pendiri Hamas, ia mudah mendaki tangga kepemimpinan. Rekam jejak sebagai pemimpin tawanan saat pertukaran tawanan, membantu menaikkan popularitasnya di antara para anggota Hamas, khususnya mereka yang berada di sayap militer.

Hal yang sama juga terjadi dengan teman dan koleganya Mushtaha. Selama pemilihan internal Hamas yang pertama mereka bisa menyaksikan, kedua pria itu terpilih untuk keanggotaan biro politik. Jabatan Al-Sinwar membuat sejumlah pengamat ‘Israel’ menggambarkan ia berubah dari “tawanan nomor satu bagi ‘Israel’ menjadi musuh nomor satu ‘Israel’”.

Pada Juli 2016, Al-Sinwar terpilih untuk bertanggung jawab atas tawanan ‘Israel’ yang ditawan oleh Brigade Al-Qassam di Jalur Gaza. Tanggung jawabnya termasuk memimpin setiap negosiasi untuk pembebasan mereka.

Pemimpin tertinggi Hamas

Pada Senin (13/2) lalu, Hamas mengumumkan bahwa mereka telah memilih Yahya Ibrahim Hassan Al-Sinwar sebagai pemimpin politik tertinggi di Jalur Gaza. Dr Khalil Al-Hayyah, seorang akademisi yang beberapa kali menjadi sasaran pembunuhan ‘Israel’ yang menewaskan sekitar sepuluh anggota keluarganya, adalah wakil Al-Sinwar; pejabat senior Hamas Dr Mahmoud Al-Zahar dan Rawhi Mushtaha ada di antara mereka yang terpilih menduduki posisi di biro politik di Gaza. Pemimpin Hamas di Gaza yang baru, hingga kini, belum mengeluarkan pernyataan apapun. Ia memang dikenal tidak suka tampil di depan media.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Yahya Al-Sinwar dan mantan PM Palestina Ismail Haniyah. Foto: MEMO

Yahya Al-Sinwar (kanan) dan mantan PM Palestina Ismail Haniyah (kiri). Foto: MEMO

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Sekap 51 Tawanan Wanita Palestina di Sel Isolasi, Lecehkan dan Siksa Mereka
Sejak Awal Tahun Ini, 30 Pengungsi Palestina Tewas di Suriah »