Akibat Blokade, Gaza Hentikan Kemoterapi untuk Pasien Kanker
1 September 2018, 23:36.
GAZA, Sabtu (Mondoweiss): Awal Agustus lalu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan akan menghentikan pengobatan kemoterapi bagi pasien kanker dikarenakan tidak ada obat-obatan kemoterapi yang tersisa, dan masih tidak jelas kapan pasokan obat tersebut akan tersedia kembali.
Hal ini mengancam kondisi ribuan pasien kanker di Gaza. Para dokter, kelompok HAM, dan pasien mengakui bahwa blokade ‘Israel’ atas Gaza selama 12 tahun merupakan biang keladi dari kurangnya pasokan obat. Ini dikarenakan penjajah Zionis menolak izin masuk bantuan kemanusiaan ke Gaza sehingga kesempatan bertahan hidup untuk pasien kanker Gaza menjadi semakin menipis seiring berjalannya waktu.
Hussein Hasan al-Din (43) merupakan satu dari ribuan pasien kanker di Gaza yang membutuhkan kemoterapi, namun RS Al-Rantisi tidak bisa memenuhinya karena kurangnya obat-obatan. “Pekan lalu rumah sakit menelepon saya dan mengatakan, ‘Hari ini Anda memiliki janji untuk injeksi kemoterapi?’ Saya jawab: ‘Ya’, dan kemudian mereka memberitahu saya untuk tidak datang ke rumah sakit karena mereka tidak memiliki obat-obatan.’”
Dr. Salah Abu Shanab dari RS Al-Rantisi mengatakan, blokade menjadi penyebab kurangnya pasokan obat-obatan untuk pengobatan kemoterapi di Gaza. Padahal, obat kemoterapi merupakan bagian dari pengobatan dasar bagi pasien kanker.
Abu Shanab bekerja di RS Al-Rantisi yang melayani pengobatan 6.100 pasien tumor lanjut usia dan 460 anak dengan kanker yang kini tidak memiliki akses pengobatan untuk masa mendatang.
“Sebelum blokade kami tidak memiliki masalah apapun dengan obat-obatan, mudah bagi pasien untuk mendapatkan pengobatan layak yang mereka butuhkan,” kata Abu Shanab.
Karena tak ada pilihan bagi mereka di Gaza, banyak pasien yang mencari pengobatan di luar Gaza. Akan tetapi, akibat blokade, mereka menghadapi pembatasan bepergian dari penjajah Zionis yang semakin membatasi kesempatan mereka untuk bertahan.
Salah seorang pasien, Hasan al-Din, mengatakan: “Saya berusaha meninggalkan Gaza ke Mesir enam kali, dan setiap kali pula otoritas Mesir memulangkan saya. Saya tidak tahu kenapa. Karena sebelum itu, pada 2013 dan 2014, saya bisa pergi. Antara 2013-2014, saya meninggalkan Gaza sekitar 40-50 kali. Akan tetapi, alasan mereka menolak saya sekarang, saya tidak tahu. Mereka mengatakan ‘alasan keamanan, saya tidak tahu kenapa.”
Menurut Hasan al-Din, tidak ada obat-obatan, tidak ada perawatan, itulah blokade. Lebih lanjut ia menjelaskan, blokade juga berlaku atas siapapun, bahkan bagi orang yang menderita kanker. Blokade tidak pandang bulu, dampaknya dirasakan orang sehat, orang sakit, rumah sakit, orang miskin, bahkan para pasien kanker.
“Pesan saya pada dunia adalah mereka bisa melihat dengan mata mereka, tapi mereka harus melihat kami dengan hati mereka. Orang yang melihat dengan mata mereka, tapi tak berbuat apapun adalah orang tanpa hati. Seluruh dunia melihat Gaza dalam penindasan. Rakyat berada di bawah penindasan, anak-anak mereka, orang-orang miskin, orang-orang yang sakit, guru-guru, semuanya di bawah penindasan. Dan semua orang bungkam karena mereka mendukung penjajahan dan negara yang menindas,” kata Hasan al-Din.
Sejak awal 2018, penjajah Zionis telah menolak 833 permintaan izin keluar oleh pasien Gaza. Kelompok-kelompok HAM mengkritik kebijakan tersebut sebagai “hukuman kolektif”.* (Mondoweiss | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
