Pesawat Tempur Suriah-Rusia Serang Idlib, Lima Bocah dari Satu Keluarga Tewas, Puluhan Terluka
5 September 2018, 16:55.

IDLIB, Rabu (Al Jazeera): Serangan udara menghantam daerah-daerah di provinsi terakhir yang dikuasai mujahidin, Idlib, Suriah, sehingga menewaskan sejumlah warga sipil dan meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan mati-matian pemerintah hanyalah soal waktu.
Serangan pada Selasa (4/9) terjadi ketika PBB mendesak Rusia, sekutu pemerintah Suriah, dan Turki, untuk membantu mencegah “pertumpahan darah”.
Serangan militer skala penuh akan membinasakan sekitar tiga juta orang yang tinggal di provinsi tersebut, termasuk mujahidin dan banyak warga sipil yang diusir dari daerah lain karena kembali berada di bawah kendali pemerintah.
Sedikitnya 24 serangan –yang pertama dalam tiga minggu– menghantam daerah tersebut pada Selasa pagi, ungkap wartawan Al Jazeera Stefanie Dekker dari Antakya, mengutip para aktivis yang menyatakan “mereka melihat pesawat-pesawat tempur Rusia dan rezim Suriah di udara”.
Pengeboman terutama menargetkan kota Jisr al-Shughour di sisi barat Idlib, bersama dengan kota-kota dan desa-desa di sekitarnya, ungkap para aktivis kepada Al Jazeera.
Serangan-serangan tersebut berlangsung selama beberapa jam sebelum mereda pada sekitar pukul 7 malam waktu setempat.
Sekitar 10 (sumber lain menyebut 17) warga sipil tewas dalam serangan udara tersebut dan 20 lainnya terluka, menurut Ahmed Yarji dari White Helmets, kelompok penyelamat yang beroperasi di wilayah-wilayah yang dikuasai mujahidin.
Yarji menyatakan lima bocah, seluruhnya anggota dari satu keluarga dan berusia antara lima hingga 11 tahun, ada di antara mereka yang tewas.
“Rumah-rumah warga sipil adalah satu-satunya bangunan yang menjadi sasaran,” ungkap Yarji.
“Para petugas medis dapat memberikan pertolongan, tapi itu sangat penuh tantangan terutama karena jalan-jalan utama yang dilalui ambulans juga dibom,” jelas pria 33 tahun itu.
Menurut Yarji, serangan udara juga menargetkan para anggota White Helmets ketika mereka tiba di lokasi pengeboman dalam serangan sebelumnya.
“Penduduk di daerah tersebut takut tidur di dalam rumah-rumah mereka, dan banyak yang memilih tidur di hutan belantara karena takut akan terjadinya gelombang serangan udara lainnya,” katanya.
Para aktivis juga menyatakan, serangan terbaru mendorong puluhan orang melarikan diri menuju Aleppo di sisi timur Idlib, atau menuju Turki.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
