Bagi Warga Palestina, Hari Raya Yahudi Berarti Jalan Tutup, Tak Ada Pendapatan

25 September 2018, 20:35.
Foto: AFP/Ahmad Gharabli

Foto: AFP/Ahmad Gharabli

QALANDIYA, Selasa (Middle East Eye): Setiap tahun pada musim hari raya Yahudi berarti saatnya bagi warga Palestina di wilayah terjajah 1948 (yang kini diklaim sebagai ‘Israel’) dan di wilayah-wilayah Palestina terjajah mengalami pembatasan pergerakan dan kerja.

Tiga hari besar Yahudi dirayakan tahun ini pada September, yakni Rosh Hashanah, tahun baru Yahudi, antara 9 dan 11 September; Yom Kippur, atau Hari Penebusan Dosa, antara 18 dan 19 September; dan Sukkot, atau Hari Pondok Daun-daun antara 23 dan 30 September.

Selama hari-hari raya itu, warga Yahudi di seluruh ‘Israel’ berpuasa, menjauhkan diri dari pekerjaan dan kesenangan fisik. Sebagian besar toko tutup, dan jalan-jalan raya sepi karena berkendara pada hari-hari raya dilarang oleh tradisi Yahudi.

Seperti biasa setiap tahunnya penjajah Zionis mengumumkan penutupan seluruh pos pemeriksaan antara ‘Israel’ dan wilayah Palestina terjajah selama hari raya Yahudi. Penjajah Zionis mengklaim langkah seperti itu akan membantu “mencegah serangan teror” dan membuat personil serdadu Zionis bisa berlibur.

Bagi puluhan ribu warga Palestina –yang tinggal di Tepi Barat dan jika tidak terputus dari Baitul Maqdis Timur dan ‘Israel’ oleh tembok pemisah ilegal ‘Israel’– yang melintas melalui pos-pos pemeriksaan setiap hari, pembatasan-pembatasan ini mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.

Pos pemeriksaan utama antara kota Ramallah dan Baitul Maqdis Timur, Qalandiya, meliputi sepertiga pergerakan warga Palestina antara Tepi Barat dan ‘Israel’. Diperkirakan 6.000 pekerja Palestina melintas melewati pos pemeriksaan itu setiap hari.

Pada Rabu lalu, ketika warga ‘Israel’ Yahudi merayakan Yom Kippur, seluruh pos pemeriksaan termasuk Qalandiya ditutup sejak Selasa malam hingga Kamis tengah malam. Pos pemeriksaan itu juga ditutup selama Sukkot antara Sabtu malam 22 September hingga tengah malam pada 1 Oktober nanti.

“Penyeberangan serta jalur ke dan dari (Tepi Barat) dan Jalur Gaza hanya akan dibuka untuk warga Palestina yang memiliki kondisi khusus dan berdasarkan kemanusiaan saja,” ungkap serdadu Zionis.

Ahmad Ruzzi, warga Palestina yang memiliki izin memasuki ‘Israel’, sedang menunggu giliran dokumennya diperiksa di Qalandiya. Ia mengatakan pada MEE hendak pergi mengunjungi ibunya di rumah sakit, tapi informasi yang beredar mengenai penutupan pos pemeriksaan membuatnya bingung. “Pemukim ilegal Yahudi mengatakan seluruh pos pemeriksaan tutup. Mereka menulis itu di internet,” kata Ruzzi pada MEE.

Sopir Palestina Hamza Abu Raya menyatakan kepada MEE, “Seluruh jalan (untuk warga) Arab buka, hanya jalan (untuk warga) Yahudi (‘Israel’) yang ditutup.”

Jalan raya ‘Israel’ melintasi Tepi Barat, menghubungkan permukiman-permukiman ilegal Yahudi satu sama lain dan ke ‘Israel’.

Selama hari raya Yahudi, jalan-jalan ‘Israel’ di Tepi Barat ditutup untuk mobil, hanya jalan kecil untuk warga Palestina yang dibuka. Hal itu mengakibatkan pergerakan bahkan di dalam wilayah Palestina terjajah lebih lambat.

Nasser al-Amin, yang tinggal di desa sebelah Ramallah di Tepi Barat, berbicara pada MEE sambil menyetir menuju tempat kerjanya di Beit Hanina, daerah pinggiran kota Baitul Maqdis Timur. “Tentu saja, itu memengaruhi pergerakan saya dan segalanya di sekitar saya,” katanya perihal penutupan jalan.

Menghambat ekonomi

Boleh jadi mereka yang paling terpengaruh dengan penutupan pos pemeriksaan dan tempat kerja selama hari raya Yahudi adalah warga Palestina yang bekerja di dalam ‘Israel’. Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), sekitar 131.000 warga Palestina bekerja di dalam ‘Israel’ dan permukiman ilegal pada 2017. Para pekerja tersebut berkontribusi pada mata pencaharian untuk sekitar 650.000 orang di Tepi Barat.

Ismail Manasra tinggal di Al-Khalil di selatan Tepi Barat, meskipun ia telah bekerja di bidang konstruksi di Ashdod, utara Tel Aviv, sejak 2009. Manasra mengatakan pada MEE bahwa ia hanya bekerja 10 hari selama September. Hal itu membuat ia tidak bisa menghasilkan uang yang cukup untuk menghidupi tujuh anaknya. “Saya biasanya bekerja 25 hari dalam sebulan, jadi saya menganggur pada saat ini,” katanya pada MEE. “Saya merasa kesal dengan (hari raya Yahudi), mengacaukan keuangan saya.”

Ketika para pekerja ‘Israel’ memiliki kontrak, pekerja-pekerja Palestina di ‘Israel’ hanyalah pekerja lepas dan biasanya dibayar per hari.

ILO menyatakan bahwa kebanyakan pekerja Palestina tidak memiliki kontrak tertulis ataupun lisan. Hal itu membuat mereka tak memiliki akses terhadap hak mereka, seperti tetap dibayar saat cuti sakit atau hari libur. “Jika warga ‘Israel’ bekerja dengan perusahaan, mereka akan dibayar sebulan penuh,” kata Manasra. “Hari libur tertulis di dalam kontrak mereka, tapi untuk pekerja Palestina, mereka merendahkan kami.”* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

Pos pemeriksaan Qalandiya. Foto: MEE/Tessa Fox

Pos pemeriksaan Qalandiya. Foto: MEE/Tessa Fox

Nasser Al-Amin. Foto: MEE/Tessa Fox

Nasser Al-Amin. Foto: MEE/Tessa Fox

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Hari Raya Yahudi, Puluhan Pemukim Ilegal Yahudi Serbu Masjidil Aqsha
Erdogan Janji Akan Lindungi Baitul Maqdis dari Para Penyerbu Zionis »