Komite Tinggi Peringatan Hari Nakbah Serahkan Surat Untuk Sekjen PBB

13 May 2010, 23:00.

Pengungsi Palestina rindu pulang ke kampung halaman mereka (foto:av)

Pengungsi Palestina rindu pulang ke kampung halaman mereka (foto:av)

Sahabatalaqsha.com-Gaza– Komite Tinggi Peringatan Hari Nakbah (Hari Prahara) Ke-62 mengadakan aksi unjuk rasa turun ke jalan, yang mereka beri nama “Perjalanan Generasi,” diikuti anak-anak. Anak-anak Palestina itu membawa spanduk-spanduk bertuliskan nama-nama kota dan desa mereka yang telah hancur.

Dalam aksi tersebut Anak-anak itu juga memakai pakaian khas Palestina. Aksi unjuk rasa juga diikuti oleh orang-orang tua dan Komite Perempuan Jalur Gaza. Aksi tersebut diakhiri dengan konferensi pers di depan kantor PBB di Gaza.

Ustadz Abu Hasan Syam’ah dalam pernyataannya yang ia tujukan kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon, meminta PBB untuk berpihak kepada rakyat Palestina dan mengingatkannya akan hak rakyat Palestina untuk kembali ke tanah air mereka, hak yang tidak mungkin ditawar-tawar lagi, dan tak pantas lagi untuk diabaikan di dewan-dewan dan lembaga-lembaga internasional untuk hak asasi manusia.

Syam’ah menegaskan bagi para pengungsi Palestina, kembali ke kampung halaman mereka semula, di mana dulu mereka harus terusir, adalah satu kemestian. Kompensasi atas segala penderitaan para pengungsi Palestina tersebut, mutlak harus diberikan, dan tidak boleh ditawar-tawar.

Ia juga menjelaskan bahwa 60 % dari rakyat Palestina adalah pengungsi, yang terusir dari kampung halaman mereka sejak peristiwa Nakbah sampai yang baru-baru ini dilakukan penjajah Zionis, yaitu dikeluarkannya keputusan pengusiran warga Palestina dari wilayah Palestina yang dicaplok Zionis sejak 1948 itu, juga dari wilayah Tepi Barat yang mereka jajah.

Syam’ah mengecam keras bungkamnya PBB atas berbagai kebrutalan yang dilakukan Zionis, termasuk pembangunan kompleks-kompleks pemukiman Yahudi di atas tanah warga Palestina yang mereka rampas di kota Al Quds khususnya, dan di wilayah Tepi Barat secara umum, setelah ditandatanganinya perjanjian “perdamaian” Oslo, dengan dukungan dana melimpah dari Eropa dan AS.

Syam’ah menekankan bahwa rakyat Palestina, meskipun harus mengalami berbagai tekanan, kezaliman dan penderitaan beruntun akibat penjajahan Zionis terhadap mereka yang semakin menggila, serta bungkamnya bangsa Arab dan negara-negara berpenduduk muslim lainnya, akan tetapi hak untuk kembali ke tanah air bagi mereka, rakyat Palestina, adalah hak asasi yang diakui secara hukum. Hak itu sama sekali tidak boleh dicabut.

Dalam suratnya yang ia tujukan untuk Ban Ki Moon, Syam’ah menambahkan, “Kami mengingatkan Anda akan hak yang diakui berbagai piagam internasional, yaitu hak untuk kembali, hak asasi yang kami miliki dari generasi ke generasi. Itu adalah hak asasi bagi setiap pengungsi di dunia ini.”

Syam’ah menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak mungkin dapat membangun masa depan mereka, kecuali di tanah air mereka sendiri, tanah air nenek moyang mereka, yaitu tanah Palestina. Masyarakat Palestina tidak bisa dicampurbaurkan begitu saja dengan masyarakat lainnya –sementara status mereka adalah pengungsi- dan kehilangan identitas diri mereka, karena mereka memiliki warisan sejarahnya sendiri.

Dijelaskannya juga bahwa kebrutalan militer Zionis menodai tempat-tempat suci umat Islam, dan upaya-upaya yahudisasi yang mereka –Zionis- lakukan atas kota Al Quds untuk menghilangkan identitas Islam di sana.

Pada akhir unjuk rasa turun ke jalan itu, delegasi pengunjuk rasa, diantaranya Ustadz Abu Hasan Syam’ah sendiri, anggota dewan legislatif Palestina, Jamilah Asy Syathi, berjalan masuk ke kantor PBB untuk menemui Mr Alexei Maslow, pimpinan kantor cabang PBB di Jalur Gaza, untuk menyampaikan surat atas nama Komite Tinggi Peringatan Hari Nakbah Ke-62. av/ral.

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Aparat Penjaga Pantai Mesir Bunuh Nelayan Gaza
Penjajah Zionis Ancam Hancurkan Lagi 11 Rumah Warga Palestina »