Amnesty International: Rezim Suriah dan Rusia Menargetkan Sekolah dan Rumah Sakit Dalam Serangannya
12 May 2020, 08:15.

Seorang pria Suriah mengendarai sepeda motornya di al-Nayrab, sebuah kota yang porak-poranda akibat pemboman pasukan pro-rezim di dekat jalan raya strategis M4, di provinsi barat laut Suriah, Idlib, 6 Mei 2020. (AFP)
SURIAH (Daily Sabah) – Rezim diktator Bashar Assad dan pendukungnya, Rusia, telah menargetkan sekolah dan rumah sakit dalam serangan udara dan darat di Suriah.
Demikian dinyatakan Amnesty International, Senin (11/5/2020).
Antara Mei 2019 dan Februari 2020, kedua pasukan di barat laut negara yang dilanda perang itu melakukan 18 serangan, kata organisasi hak asasi manusia itu dalam laporannya.
Laporan itu merujuk lima klinik medis yang terpaksa ditutup setelah diserang.
Dalam dua serangan, pasukan rezim menggunakan bom barel, yang dilarang secara internasional.
Amnesty mengatakan serangan itu adalah pelanggaran serius tehadap hukum kemanusiaan internasional, juga merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Mayoritas serangan terjadi pada Januari dan Februari 2020, selama serangan terbaru yang sejak Desember telah menewaskan sekira 500 warga sipil dan hampir satu juta orang mengungsi.
Hampir satu juta orang telah telantar akibat serangan tiga bulan serdadu rezim Suriah yang didukung Rusia, di Suriah barat laut.
PBB menggambarkannya sebagai darurat kemanusiaan terburuk sejak dimulainya perang Suriah pada tahun 2011.
Di antara serangan yang didokumentasikan adalah serangan udara Rusia di dekat sebuah rumah sakit di kota Ariha pada 29 Januari; yang meratakan setidaknya dua bangunan tempat tinggal dan menewaskan 11 warga sipil.
Amnesty juga mengecam rezim Suriah atas serangan terhadap sebuah sekolah yang menggunakan bom curah, yang dilarang secara internasional, yang menewaskan tiga orang di kota Idlib pada 25 Februari.
“Serangan terbaru melanjutkan pola menjijikkan dari serangan meluas dan sistematis yang bertujuan untuk meneror penduduk sipil,” kata Direktur Regional Amnesty Heba Morayef.
Menurut laporan itu, Rusia terus memberikan dukungan militer, termasuk “secara langsung melakukan serangan udara yang melanggar hukum”; meskipun ada bukti bahwa Rusia memfasilitasi komisi rezim Suriah tentang kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Laporan ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 70 orang, termasuk saksi mata, pengungsi, dokter, guru, pekerja kemanusiaan dan staf PBB.
Para peneliti juga menganalisis foto dan video untuk Amnesty, serta data satelit, lalu lintas radio, dan data dari pengamat pesawat.
Rezim dan delegasi Rusia di PBB tidak menanggapi tuduhan tersebut.
Bentrokan di Sahl al-Ghab
Gencatan senjata, sejak 6 Maret 2020, yang ditengahi oleh Rusia dan Turki telah membuat pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia keluar dari langit kawasan.
Puluhan ribu muhajirin telah kembali ke kota asalnya. Sedangkan ratusan ribu lainnya tetap berada di kamp-kamp pengungsian yang padat atau di tempat penampungan sementara di dekat perbatasan Turki.
Meskipun gencatan senjata sedang berlangsung, sebelum fajar hari Ahad (10/5/2020), bentrokan meletus antara beberapa kelompok oposisi dan kelompok pro-rezim di sisi barat wilayah, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.
Bentrokan di daerah Sahl al-Ghab menewaskan 15 orang pro-rezim serta tujuh oposisi, termasuk dari kelompok Hurras al-Deen yang berafiliasi dengan Al-Qaida.
“Itu adalah angka kematian tertinggi bagi serdadu rezim sejak gencatan senjata mulai berlaku,” kata Kepala Observatory Rami Abdel Rahman, yang mengandalkan sumber-sumber di dalam wilayah Suriah.
Rezim Suriah terus-menerus menyangkal laporan tentang penyiksaan dan pembunuhan di luar proses hukum dalam perang yang menewaskan ratusan ribu orang itu.
Upaya oleh kekuatan Barat untuk menggelar pengadilan internasional untuk rezim Suriah telah diblokir oleh Rusia dan Cina di Dewan Keamanan PBB.
Suriah juga tidak menandatangani Statuta Roma tentang Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag. (Daily Sabah)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
