Muhajirin Suriah di Turki Terpaksa Menjual Organ Dalam untuk Bertahan Hidup

21 May 2020, 17:14.
Muhajirin Suriah di sebuah kamp di Turki [Anadolu Agency]

Muhajirin Suriah di sebuah kamp di Turki [Anadolu Agency]

TURKI (Middle East Monitor) – Dikarenakan kebutuhan mendesak akan uang, beberapa Muhajirin Suriah yang berada di Turki ditemukan sampai menjual organ dalam mereka ke pasar gelap.

CBS melaporkan, para pengungsi Suriah itu melakukannya agar bisa membayar keperluan-keperluan seperti biaya sewa tempat tinggalnya.

Dalam sebuah video dokumenter CBS, mereka menggunakan kamera tersembunyi untuk menyelidiki postingan-postingan di Facebook yang menawarkan uang bagi para pengungsi Suriah agar bersedia memberikan ginjal atau hatinya.

Ironisnya, banyak di antara korban tersebut yang dicurangi, dengan hanya mendapat kurang dari nominal uang yang dijanjikan.

Melalui investigasi tersebut, ditemukan seorang korban bernama Abu Abdullah yang telah mengungsi dari Suriah sejak 4 tahun yang lalu.

Saat ini Abdullah hanya memiliki penghasilan $300 per bulan sebagai pengrajin besi. Ia kemudian menemui seorang oknum untuk menjual salah satu ginjalnya seharga $10.000.

Setelah dijalankan prosedur yang diminta, Abdullah hanya mendapat separuh dari nominal tersebut dan ditinggal pergi begitu saja tanpa mendapat perawatan lebih lanjut.

Hal tersebut menyebabkannya kesakitan sampai saat ini.

Sebagaimana negara lain, di Turki pun dilarang untuk memperjualbelikan organ dalam ke pasar gelap.

Kepolisian Turki juga melaporkan bahwa mereka terus berusaha memberantas praktik bisnis yang marak terjadi dengan memanfaatkan krisis yang dialami para pengungsi ini.

Sementara untuk donor organ, pihak rumah sakit hanya menerima donor dari keluarga dekat pasien saja. Namun dokumen palsu bisa disiapkan dengan biaya $200 untuk mengakalinya.

Kasus lain di dalam dokumentari CBS tersebut menimpa Umm Mohammed, seorang ibu yang mengasuh sendirian tiga anaknya. Ia menjual separuh hatinya dengan harga $4.000.

“Aku mendapat uang yang cukup untuk membayar hutang sewa selama setahun sekaligus untuk membayar biaya sewa setahun berikutnya,” jelas Umm Mohammed.

Meskipun praktik ini ilegal, banyak yang memaklumi hal tersebut akibat beratnya himpitan ekonomi yang dirasakan para Muhajirin setelah meninggalkan tanah airnya.

Kepayahan mereka tak berhenti meski telah menyelamatkan diri dari konflik di negerinya.

Menurut pengusaha berdarah Suriah-Amerika, Yakzan Shishakly, “Mereka tak mempunyai pilihan lain. Sampai mereka berpikiran: ‘Jika kami mati, tak menjadi persoalan. Setidaknya kami bisa mendapatkan uang untuk keluarga”. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjaga Masjid Disekap Serdadu Zionis, Dilarang Masuki Kompleks Al-Aqsha Selama Sepekan
Puluhan Pemukim Ilegal Yahudi Mencoba Terobos Area Makam Nabi Yusuf di Nablus »