Tawanan Wanita Palestina Ungkap Rentetan Pelecehan oleh Petugas Penjara ‘Israel’

23 September 2020, 09:30.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

PALESTINA (Anadolu Agency) – Seorang wanita Palestina, Dena Karmi (41 tahun), yang ditawan selama 16 bulan di penjara ‘Israel’, mengenang pelecehan seksual yang mengerikan terhadap dirinya.

Tubuhnya gemetar saat menceritakan sesi interogasi pada malam hari oleh petugas intelijen pria zionis.

Seringkali ia dipermalukan dan mengalami pelecehan seksual yang nyaris ekstrem di dalam penjara.

Seperti Karmi, banyak wanita Palestina lainnya yang melaporkan kasus pelecehan seksual.

Kepada Anadolu Agency, Karmi mengaku pernah mengalami pelecehan seksual selama dua hari di Pusat Interogasi Ashqelon.

Karmi ditangkap pada Juli 2018 dari rumahnya di Al-Khalil dan dijatuhi hukuman penjara 16 bulan.

Dia ditahan karena diduga berpartisipasi dalam kegiatan sosial terkait Hamas di Al-Khalil bersama enam wanita lainnya.

Sahar Francis, Direktur Addameer – kelompok pendukung hak asasi tawanan, mengatakan penjajah ‘Israel’ menjadikan pelecehan seksual sebagai alat menekan para tawanan, terutama saat interogasi.

Delapan hari setelah penahanannya di Penjara Shikma di Ashkelon, Karmi sangat stres dan beberapa kali kehilangan kesadaran.

Para interogator mengeksploitasi posisinya sebagai tahanan dan menggunakan bahasa asusila.

Perilaku Asusila Aparat Zionis

Suami Dena, Nashat Karmi, wafat pada 2010 akibat serangan serdadu zionis.

Para interogator berulang kali menuduhnya terlibat dalam hubungan seksual tidak sah usai menjanda.

Wanita Palestina itu mengatakan saat tangannya diborgol ke belakang, interogator biasanya mendekat untuk bernapas di wajahnya.

Karmi bercerita petugas ‘Israel’ memakai kata-kata menyakitkan saat sesi interogasi, terutama pada malam hari.

Petugas berusaha menganiaya dan menggunakan bahasa kotor dan menghina.

Mereka menghabiskan berjam-jam di dekat pintu sambil tertawa; yang membuatnya ketakutan.

Tawanan Palestina lainnya, berusia 30-an, mengatakan telah menjadi sasaran pelecehan seksual di kendaraan pemindahan tawanan yang dikenal sebagai bosta, antara Ramallah dan Baitul Maqdis.

“Salah satu narapidana kriminal Yahudi yang duduk di seberang saya di bosta, mulai menghardik saya secara seksual,” ucap dia.

Dia pun terkejut dan mengetuk jeruji besi untuk meminta bantuan. Namun tak ada petugas dari unit Nahshon – yang bertanggung jawab memindahkan para tahanan – membantunya atau mencegah penjahat Yahudi itu melecehkannya.

Penjahat Yahudi itu terus mengganggunya selama lebih dari dua jam.

Menghindari Ungkap Tindak Asusila

Tasneem Jubran, seorang psikoterapis dan perawat kesehatan mental, mengatakan sebagian besar tawanan Palestina menghindari pembicaraan soal pelecehan dirinya karena takut akan stigma; mengingat budaya lokal memposisikan seks sebagai aib.

Aktivis Addmeer, Francis, mengatakan sistem peradilan zionis ‘Israel’ tidak pernah menanggapi secara serius keluhan terkait pelecehan seksual.

Pada 2015, Addameer mengadukan pelecehan beberapa polisi wanita terhadap tawanan Palestina; sehingga membuat mereka digeledah.

Dalam banyak kasus, pihak berwenang tidak pernah merespons kasus pelecehan.

Sekitar 4.300 warga Palestina, termasuk 41 wanita dan 160 anak di bawah umur, saat ini ditahan di penjara Israel, menurut data pemerintah Palestina. (Anadolu Agency)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Perintahkan Bongkar Sarana Pertanian dan Sita Mobil Tangki di Lembah Yordan
Bandara Sanaa Ditutup Milisi Syiah Houthi, Pengiriman 187 Ton Bantuan Medis Tertunda »