Tak Satu Pasien pun Keluar, Penundaan Perjalanan di Rafah Memperberat Kesulitan Pasien Gaza
3 February 2026, 20:46.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Direktur Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis, Atef Al-Hout, menegaskan bahwa hingga kini belum satu pun pasien atau korban luka di wilayah Gaza berhasil meninggalkan wilayah tersebut melalui pelintasan Rafah.
Hal ini terjadi, meskipun beredar informasi mengenai dimulainya prosedur perjalanan medis ke luar negeri.
Senin (2/2/2026), Al-Hout mengungkapkan bahwa penjajah zionis hanya menyetujui lima nama dari total 27 pasien dan korban luka yang sebelumnya diajukan.
Namun, ia menegaskan bahwa persetujuan tersebut belum diikuti pelaksanaan perjalanan medis apa pun; karena prosedur masih ditangguhkan.
Al-Hout memperingatkan bahwa lebih dari 20 ribu pasien dan korban luka di Gaza saat ini menunggu izin untuk mendapatkan perawatan di luar negeri.
Penundaan berkelanjutan, menurutnya, seolah merupakan “vonis mati” bagi banyak pasien; mengingat kondisi kesehatan yang terus memburuk dan keterbatasan layanan medis di Gaza.
Ia juga menyoroti ketidakjelasan dan ambiguitas dalam pengelolaan berkas perjalanan pasien, yang berbeda dari mekanisme yang berlaku sebelumnya.
Hingga kini, tidak ada informasi resmi terkait mekanisme pelaksanaan maupun jadwal keberangkatan pasien.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa belum ada satu pun pasien yang diizinkan bepergian melalui pelintasan Rafah. Kementerian mengaku belum menerima perincian baru terkait berkas atau prosedur evakuasi medis.
Kementerian juga mencatat bahwa perjalanan pasien—jika dilakukan—akan dialihkan melalui Kerem Abu Salem sesuai mekanisme yang telah disepakati sebelumnya. Namun, hingga saat ini, skema tersebut juga belum berjalan.
Senada dengan itu, juru bicara Palang Merah Palestina di Gaza, Raed Al-Nemes, mengatakan pihaknya belum menerima informasi atau pemberitahuan resmi mengenai evakuasi pasien dan korban luka melalui pelintasan Rafah.
Situasi ini berlangsung di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza akibat blokade dan serangan berulang terhadap fasilitas medis.
Kondisi tersebut terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang semakin parah di Gaza, di mana sekira 22 ribu pasien menunggu pembukaan penuh pelintasan Rafah.
Meski uji coba operasi pelintasan di sisi Palestina dimulai 1 Februari 2026, janji pembukaan penuh yang seharusnya dilakukan pada fase awal perjanjian gencatan senjata 10 Oktober 2025 kembali diingkari.
Sementara pelanggaran berulang dan pembatasan bantuan terus memperparah kesulitan 2,4 juta warga Gaza. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
