Krisis Obat-obatan di Wilayah Gaza, Nyawa Pasien Kian Terancam
8 February 2026, 23:23.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Selama sembilan jam berturut-turut, Moataz Aziz (44) berkeliling dari satu apotek ke pusat kesehatan lain di Khan Yunis demi mencari obat untuk meredakan penyakit kronis yang dideritanya.
Upaya itu belum membuahkan hasil, hingga kondisi kesehatannya memburuk. Ia terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Al-Amal, tempat dokter akhirnya memberinya obat dari unit perawatan intensif.
Kisah Moataz Aziz mencerminkan krisis kesehatan yang kini dihadapi ribuan pasien penyakit kronis di wilayah Gaza. Kelangkaan parah obat-obatan esensial—akibat pembatasan ketat masuknya pasokan medis—telah menjadi kenyataan sehari-hari.
Para tenaga kesehatan menyebut kondisi ini sebagai “perang diam-diam”; yang secara langsung menargetkan pasien, memicu komplikasi serius, dan mengancam nyawa mereka.
Moataz Aziz, yang menderita miastenia gravis—penyakit yang menyebabkan kelemahan dan atrofi otot—mengaku hidup dalam kecemasan akibat terputusnya pasokan obat.
Hal serupa dialami Alaa Al-Khateeb (56), penderita hipertensi dan diabetes, yang mengatakan setiap bulan harus berjuang mencari obatnya.
“Pasar dipenuhi cokelat dan Coca-Cola, tetapi kami tidak bisa menemukan satu pil obat pun,” ujarnya, menggambarkan krisis obat yang kian menjerat Gaza.
Penyesuaian Rencana Pengobatan
Apoteker dr. Khaled Awda menyatakan wilayah Gaza tengah menghadapi kelangkaan obat-obatan paling parah yang pernah terjadi. Terutama untuk penyakit kronis, seperti jantung, diabetes, hipertensi, dan gangguan tiroid.
Ia mengatakan tim medis kerap dipaksa menyesuaikan rencana pengobatan dengan obat yang tersedia. Namun, krisis kian memburuk ketika pasien mendapati bahwa bahkan obat alternatif pun tidak dapat ditemukan.
Awda mengungkapkan bahwa obat tiroid tidak tersedia sekira tiga bulan, tanpa alternatif, termasuk di rumah sakit.
Menurutnya, kekurangan ini merupakan ancaman langsung terhadap nyawa pasien dan berpotensi memicu komplikasi kesehatan serius yang tidak terkendali.
Ia juga menyoroti tindakan tebang pilih penjajah yang hanya mengizinkan masuknya jenis obat hipertensi tertentu dan melarang jenis lainnya.
Tindakan tersebut, kata Awda, menjadi “hukuman kolektif” terhadap pasien dan menjerat tenaga medis dalam tantangan klinis yang kompleks.
Pasalnya, perubahan terapi menuntut evaluasi ulang menyeluruh, pemeriksaan baru, dan dimulainya kembali seluruh protokol pengobatan.
Sementara itu, kekurangan obat berisiko memicu stroke, serangan jantung, gangguan irama jantung, serta kerusakan ginjal dan hati pada pasien kronis.
Tingkat yang Berbahaya
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, menyatakan kekurangan obat-obatan untuk penyakit kronis telah mencapai tingkat yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menegaskan sistem kesehatan Gaza kini beroperasi dalam kondisi mengerikan akibat berlanjutnya agresi, penutupan pelintasan, serta pengendalian ketat masuknya obat dan perlengkapan medis.
Al-Bursh menjelaskan Kementerian Kesehatan berupaya keras mengelola stok yang tersisa dengan prioritas medis ketat. Namun, pencegahan berkelanjutan yang dilakukan zionis terhadap masuknya obat-obatan penting terus mengancam ribuan pasien.
Di tengah kelelahan parah sistem kesehatan, sumber medis mencatat sekitar 52 persen obat penyakit kronis kini kosong.
Kondisi itu mendorong Al-Bursh menyerukan tindakan mendesak dari lembaga internasional dan kemanusiaan untuk memastikan obat-obatan masuk ke Gaza tanpa pembatasan. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
