Berambisi Hancurkan Jaringan Terowongan Perlawanan di Gaza, Penjajah Zionis Kebingungan
13 February 2026, 16:55.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Petinggi militer penjajah zionis ‘Israel’ mengakui bahwa pasukan mereka sejauh ini baru berhasil menangani sekitar setengah dari jaringan terowongan perlawanan yang membentang di bawah wilayah Gaza.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa upaya menghancurkan terowongan tersebut akan memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan sebelumnya; mengingat kompleksitas infrastruktur bawah tanah dan sulitnya menyelesaikan persoalan ini dalam waktu dekat.
Penjajah menyebutkan bahwa sejak dimulainya agresi genosida di Gaza sekitar dua setengah tahun lalu, militer ‘Israel’ telah menyuntikkan lebih dari 250.000 meter kubik campuran tanah dan air ke dalam jaringan terowongan perlawanan yang panjangnya melebihi 150 kilometer; sebagai bagian dari upaya menghancurkan infrastruktur bawah tanah tersebut.
Situs Channel 12 ‘Israel’, akhir Januari lalu, mengutip seorang pejabat militer yang mengatakan bahwa hingga kini serdadu ‘Israel’ baru menangani sekitar 50 persen jaringan terowongan, menjelang penerapan fase kedua perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025.
“Kami memperkirakan penanganan seluruh terowongan akan membutuhkan waktu dua tahun tambahan,” ujarnya.
Jaringan Kompleks dengan Beragam Fungsi
Sejak berlangsungnya agresi genosida, berkas terowongan menjadi salah satu tantangan paling rumit bagi militer ‘Israel.’
Menurut laporan media berbahasa Ibrani, ‘Israel’ meyakini bahwa Hamas menggunakan jaringan ini untuk berbagai tujuan, mulai dari menyembunyikan para pemimpinnya—yang membuat mereka lolos dari upaya pembunuhan udara dalam jangka panjang—hingga bersembunyi dari pasukan darat dan menahan tawanan ‘Israel’ di dalam terowongan.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa militer ‘Israel’ menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi itu memaksa mereka mengembangkan kemampuan khusus untuk mendeteksi dan menghancurkan terowongan yang membentang ratusan kilometer; dengan mengandalkan sistem intelijen dan teknologi pengawasan canggih.
Seorang petinggi militer penjajah menjelaskan bahwa selama sekitar satu tahun terakhir, serdadu ‘Israel’ melakukan pemantauan intensif terhadap apa yang mereka sebut sebagai infrastruktur bawah tanah, dan mengklaim telah mencapai pencapaian besar di bidang tersebut.
“Kami mengisi terowongan dengan campuran tanah dan air dalam jumlah sangat besar. Lebih dari 250.000 meter kubik telah kami suntikkan ke lebih dari 150 kilometer terowongan,” ujarnya, seraya mengakui bahwa metode ini menyebabkan kerusakan signifikan, meski tidak selalu berujung pada penghancuran total.
Terowongan sebagai Senjata Strategis
Dengan dimulainya fase kedua gencatan senjata, militer ‘Israel’ mengklaim bahwa Hamas kini bersikap sangat hati-hati dan tidak melakukan penggalian ulang terowongan, menyadari situasi yang rapuh dan khawatir akan menghambat pelaksanaan kesepakatan.
Namun, ‘Israel’ juga menuduh Hamas tetap melakukan perbaikan terbatas pada infrastruktur bawah tanah di beberapa wilayah, guna menyelamatkan fasilitas dan peralatan yang tersisa.
Dalam beberapa pekan terakhir, serdadu ‘Israel’ mulai melakukan pengeboran eksploratif di lokasi-lokasi yang dicurigai menyimpan terowongan yang belum terdeteksi.
Pejabat militer tersebut memperkirakan bahwa menghilangkan ancaman strategis terowongan akan memerlukan setidaknya dua tahun tambahan.
“Kita berbicara tentang ratusan kilometer terowongan. Anggapan bahwa masalah ini bisa diselesaikan dalam waktu singkat adalah pemikiran yang keliru secara mendasar,” tegasnya.
Meski demikian, sumber militer itu mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, serdadu ‘Israel’ secara sengaja tidak menangani terowongan tertentu setelah diklasifikasikan sebagai tidak penting dan tidak menimbulkan ancaman nyata.
Sejak operasi penangkapan serdadu ‘Israel’ Gilad Shalit oleh Hamas pada 2006, militer ‘Israel’ terus berusaha menghancurkan jaringan terowongan di Gaza.
Upaya ini mencakup pengerahan seluruh perangkat intelijen untuk menetralisir apa yang disebut sebagai senjata strategis, yang pertama kali digunakan Hamas pada 2001 saat meledakkan pos militer ‘Israel’ di Termid, Rafah, melalui terowongan sepanjang 150 meter yang menewaskan lima serdadu ‘Israel’.
Terowongan perlawanan terus mempertahankan peran sentral dalam setiap pertempuran, bahkan mengalami pengembangan kemampuan militer.
Pasca Pertempuran Pedang Baitul Maqdis tahun 2021, pemimpin Hamas Yahya Sinwar Rahimahullaah menyatakan bahwa faksi-faksi perlawanan Palestina telah menyiapkan lebih dari 500 kilometer terowongan di bawah Gaza, yang luas wilayahnya hanya sekitar 360 kilometer persegi.
Sementara itu, kepala biro politik Hamas Ismail Haniyah Rahimahullaah menyebut bahwa Gaza telah memproduksi terowongan perlawanan yang panjangnya dua kali lipat terowongan Vietnam; yang digunakan oleh komunis Vietnam dalam perang melawan Amerika Serikat antara 1955–1975.
Laporan majalah Amerika Foreign Policy awal November ini menegaskan bahwa jaringan terowongan Gaza memiliki kemiripan strategis dan taktis dengan terowongan Vietnam.
Disebutkan bahwa ketakutan terbesar militer ‘Israel’ terletak pada terowongan tempur tersembunyi karena unsur kejutan dapat mengubah peta peperangan berpihak pada faksi-faksi Palestina.
Gagalnya Tembok ‘Israel’
Di tengah kompleksitas jaringan terowongan Gaza, penjajah ‘Israel’ pada 2017 membangun pagar besi pembatas Gaza sepanjang 65 kilometer, setinggi enam meter, dilengkapi radar, kamera, sistem pengawasan laut, senjata kendali jarak jauh, serta penghalang bawah tanah dengan sensor presisi.
Proyek yang menghabiskan sekitar 126.000 ton baja ini diselesaikan pada 2021 dan kala itu dipromosikan ‘Israel’ sebagai “yang pertama dan satu-satunya di dunia”, dengan biaya mencapai 1,1 miliar dolar AS.
Namun, menurut para analis militer ‘Israel’, pagar tersebut gagal total memberikan perlindungan. Bahkan, berdasarkan pengakuan militer ‘Israel’ sendiri, Hamas berhasil menembus tembok itu dengan mudah di 29 titik pada pagi hari 7 Oktober 2023. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
