Lukisan Pilu, Harapan Anak Palestina di Tembok Zionis

24 November 2010, 20:45.

JAKARTA, Rabu (Sahabatalaqsha.com): Gambar-gambar yang digoreskan warga Palestina di tembok pemisah yang dibangun penjajah Zionis untuk mengurung warga Palestina tersebut bukanlah karya seni yang hendak diperlihatkan keindahannya, tetapi lukisan beban berat dan penderitaan yang mereka tanggung serta mimpi-mimpi mereka akan perubahan kondisi di tanah mereka itu.

Al-Aqsa Voice memajang dan mengungkapkan makna yang terkandung dalam gambar-gambar yang digoreskan warga Palestina di tembok Zionis tersebut kemarin, Selasa 23 November.

Dijelaskan bahwa warna-warna dan bentuk gambar yang digoreskan tersebut hanyalah merupakan upaya penghuni wilayah yang dijajah tersebut –yang tak berdaya- untuk meringankan penderitaan mereka. Mereka tak bisa pergi ke ladang-ladang mereka sendiri yang berada di balik tembok rasis itu. Bahkan hanya untuk sekedar melihat tanah milik mereka sendiri itu pun tak bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa melihat tembok yang mengurung mereka, lalu mereka kembali dengan tak berdaya dan hanya mampu memendam perasaan marah.

Tembok itu bagaikan ular-ular berbisa di antara pepohonan, tumbuhan buah-buahan, kebun-kebun dan rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat itu. Tembok itu tak sekedar rasis, bahkan lebih dari sekedar batu raksasa yang menghalangi warga Palestina dari menjangkau tanah milik mereka sendiri. Kondisi yang telah menancapkan rasa sakit luar biasa dan membuat luka yang dalam di relung hati mereka.

Lukisan Dinding

Bertahun-tahun sudah tembok itu berdiri di hadapan mereka. Mereka pun lalu menggoreskan gambar-gambar pada dinding rasis raksasa tersebut, menggambarkan segala perasaan mereka terhadap bangunan yang mengurung mereka itu. Melalui gambar-gambar itu mereka berusaha untuk melupakan luka jiwa mereka yang disebabkan ‘pagar’ raksasa itu, meskipun tak akan pernah bisa. Anak-anak Palestina itu telah ‘mengubah’ dinding rasis itu menjadi ‘kertas gambar’ raksasa di mana mereka dapat menemukan kegembiraan ketika menggoreskan warna-warna yang indah yang menutupi warna angker dinding tersebut.

Tembok raksasa tinggi menjulang setinggi 8-10 meter dan memanjang dari Jenin di sebelah utara Tepi Barat ke Al Khalil di sebelah selatannya itu kini berubah menjadi ‘lembaran-lembaran karya seni’ yang melukiskan cita-cita dan harapan anak-anak Palestina tersebut. Setiap gambar pada setiap ruas tembok raksasa itu dibuat seolah telah menghilangkan ruas tembok tersebut, atau seakan mendobraknya sehingga seolah terlihat apa yang ada di baliknya, yang pada kenyataannya sama sekali tak bisa mereka lihat.

Seorang anak bernama Hamzah Qara’in yang juga pernah menggambar di tembok rasis itu berkata, “Tembok pembunuh ini benar-benar telah menghancurkan hidup kami, tanah kami, lahan-lahan pertanian kami dan jalan-jalan yang seharusnya kami lalui untuk menuju ke sana. Kami sebagai anak-anak berharap suatu hari nanti tembok ini dapat disingkirkan dari hidup kami. Oleh karena itulah kami mengungkapkan harapan kami ini dengan menggambar apa-apa yang melukiskan perasaan kami ini.”

Tembok Zionis yang penuh lukisan anak-anak Palestina itupun akhirnya mengundang minat para aktivis kemanusiaan internasional untuk melihat gambaran penderitaan warga Palestina pada lukisan-lukisan itu. Bahkan sejumlah seniman asing turut ambil bagian melukis di tembok rasis itu, setelah mereka mendengarkan anak-anak Palestina di Tepi Barat itu mengungkapkan mimpi-mimpi mereka.

Abu Khaldun, salah seorang warga Palestina yang berasal dari desa Al ‘Izariyah, salah satu desa yang dibelah oleh tembok raksasa itu menjadi 2 bagian (yang salah satu bagiannya tak lagi dapat lihat oleh warganya sendiri, apalagi didatangi), hanya dapat memandang tembok dengan pilu serta membayangkan tanah yang ia miliki yang ada di balik tembok itu. Kondisi yang nampak sangat berat ia rasakan.

Abu Khaldun menceritakan perihal kehilangannya atas tanah miliknya seluas 300 acre (121,4 hektar) yang berada di balik tembok rasis tersebut, dan sekarang ia hanya memiliki 30 acre (12 hektar) saja. Ia tak dapat mendatangi tanahnya yang berada di balik tembok itu, bahkan mendekat pun dilarang oleh para serdadu penjajah Zionis.

Katanya lagi, “hidup kami ini benar-benar berbeda (dari kehidupan orang lain-pen), hidup kami seperti tak ada kehidupan. Anak-anak lain di dunia ini melakukan kegiatan menggambar di sekolah-sekolah mereka di kertas-kertas gambar, sedangkan anak-anak kami menggambar di tembok rasis yang dibangun penjajah di atas tanah-tanah kami sendiri dan menutupi jalan kami menuju ke lahan-lahan milik kami sendiri…hasbunallah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah sebagai sebaik-baik pelindung).” (RAL/ Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Polisi Zionis Lecehkan, Lukai Keluarga Perempuan Tawanan Palestina
Gerakan Perempuan Palestina Protes Penangkapan Pejuang Perempuan »