Jubir Militer: Indonesia Siap Kirim 1.000 Tentara Pertama ke Gaza pada Bulan April
17 February 2026, 21:07.

Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) berbaris di Nusantara sebelum upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2025 (AFP)
(Middle East Eye) – Indonesia sedang mempersiapkan 1.000 tentara untuk dikerahkan ke Gaza paling cepat pada bulan April sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional yang dimandatkan PBB, kata seorang juru bicara militer pada hari Senin (16-2-2026).
Sebanyak 8.000 tentara Indonesia akan siap untuk dikerahkan pada bulan Juni, sementara keputusan akhir akan diambil oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
“Jadwal keberangkatan sepenuhnya bergantung pada keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku,” ujar juru bicara tersebut dalam pesan teks kepada kantor berita Reuters.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Maruli Simanjuntak, sebelumnya memperkirakan bahwa antara 5.000 hingga 8.000 personel militer dapat dikerahkan, dengan jumlah akhir “masih dalam tahap negosiasi.”
Pada hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa partisipasi militer Indonesia di Gaza sebagai bagian dari rencana perdamaian yang dirancang oleh Presiden AS Donald Trump tidak boleh diartikan sebagai normalisasi hubungan politik dengan “Israel”.
Indonesia secara konsisten menolak semua upaya perubahan demografis atau pengusiran maupun relokasi paksa rakyat Palestina dalam bentuk apa pun,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Pengerahan pasukan, yang memiliki mandat non-tempur dan kemanusiaan, hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Otoritas Palestina, tambah kementerian tersebut.
“Pasukan Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau tindakan apa pun yang mengarah pada konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata mana pun,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pasukan Indonesia juga tidak memiliki mandat untuk melakukan demiliterisasi terhadap pihak mana pun, tambahnya.
Namun, mandat pasukan stabilisasi mencakup memastikan “proses demiliterisasi Jalur Gaza” dan “perlucutan senjata secara permanen dari kelompok bersenjata non-negara”. Resolusi tersebut mengizinkan pasukan untuk “menggunakan semua langkah yang diperlukan untuk melaksanakan mandatnya”.
US$5 miliar untuk membangun kembali Gaza
Indonesia mengonfirmasikan pekan lalu bahwa Presiden Prabowo Subianto akan menghadiri pertemuan perdana para pemimpin “Board of Peace” yang digagas Trump, yang para anggotanya telah berkomitmen menyumbangkan US$5 miliar untuk “membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang”.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Prabowo akan menggunakan forum pada 19 Februari tersebut untuk mendesak perlindungan bagi rakyat Palestina dan mendorong perdamaian berkelanjutan berdasarkan solusi dua negara, yang mencakup pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Prabowo juga diperkirakan akan menandatangani perjanjian tarif dengan Amerika Serikat selama kunjungan tersebut, kata pemerintah.
“Kami hanya mempersiapkan diri jika kesepakatan tercapai dan kami harus mengirim pasukan penjaga perdamaian,” ujar Prabowo kepada para wartawan.
Prabowo juga mengatakan bahwa ia akan berupaya untuk menegosiasikan biaya keanggotaan dewan yang dilaporkan sebesar US$1 miliar.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa partisipasi pasukan Indonesia di Gaza tidak bertujuan untuk memaksakan perdamaian, melainkan akan berfokus pada tujuan kemanusiaan.
Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar dalam operasi penjaga perdamaian PBB secara global, dengan lebih dari 2.700 personel yang ditempatkan dalam berbagai misi di Afrika dan Timur Tengah.
Penempatan personel Indonesia yang terbesar adalah dalam Pasukan Sementara PBB di Lebanon.
Dukungan publik terhadap Palestina sangat kuat di Indonesia; demonstrasi besar-besaran telah berlangsung menentang genosida “Israel” di Gaza.
Pada 3 Agustus, ribuan warga Indonesia berkumpul di Monumen Nasional Jakarta, mengibarkan bendera Palestina dan memegang spanduk yang menuntut keadilan untuk Gaza.
Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, secara konsisten menyerukan diakhirinya genosida “Israel” di Gaza dan mendorong solusi dua negara melalui forum-forum internasional.
Pemerintah Indonesia juga telah memberikan bantuan kemanusiaan, dukungan medis, dan dukungan diplomatik bagi lembaga-lembaga Palestina.
Pada bulan November, Menteri Pertahanan Indonesia mengumumkan bahwa militer Indonesia telah melatih 20.000 tentara untuk upaya layanan kesehatan dan pembangunan konstruksi di Gaza.
Jakarta juga telah memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk pengiriman 10.000 ton beras pada Agustus tahun lalu, serta meluncurkan inisiatif budidaya jangka panjang di Sumatra dan Kalimantan untuk mendukung ketahanan pangan Palestina. (Middle East Eye)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
