Bebaskan Tahanan Palestina di Penjara-penjara Zionis!
5 May 2011, 01:50.
JAKARTA, Kamis (Sahabatalaqsha.com): Bersamaan dengan gejolak sosial politik yang melanda Timur Tengah, beberapa LSM pembela hak-hak tawanan menggencarkan kampanye membebaskan tahanan politik Palestina.
Asosiasi Pendukung Tawanan dan HAM Addameer (Addameer Prisoner Support and Human Rights Association/APSHRA), misalnya, mengingatkan masyarakat dunia tentang 6.000 orang Palestina yang ditangkap, ditahan dan dizalimi Zionis dalam berbagai penjaranya.
Di salah satu penjaranya di Bi’r Sab’a, misalnya, ada seorang Mujahid yang dihukum lebih dari 400 tahun penjara.
Banyak pula warga Palestina yang dihukum penjara tanpa alasan jelas.
Karena itulah, APSHRA berupaya menggugah kesadaran masyarakat seluruh dunia untuk melawan tindakan Zionis yang seolah kebal hukum internasional dalam memperlakukan tahanan politik Palestina.
APSHRA memfokuskan pada beberapa kasus tahanan politik sebagai awal perjuangan mereka.
Kasus pertama adalah penahanan Ayed Dudeen, seorang ayah dari enam anak yang menerima hukuman administratif sejak 2007.
Hukuman administratif adalah prosedur Zionis untuk dapat menahan seseorang tanpa proses pengadilan.
Hukuman semacam ini bisa diperpanjang sampai waktu yang tidak terhingga.
Ditahan 33 Tahun
Belum lama ini, satu lagi tahanan politik “kelas atas”, Ahmad Qatamesh, juga ditangkap oleh Zionis.
Qatamesh ditahan setelah keluarganya disandera oleh tentara-tentara Zionis pada 21 April 2011.
Sebelumnya, ia pernah dipenjara selama enam tahun pada masa 1990-an. Hanya semata-mata karena opini politik yang Qatamesh kemukakan.
“Rekor” terlama bagi para tahanan politik yang dipenjara Zionis ada pada M. Barghouti. Ia ditahan selama 33 tahun.
Disusul Ahmad Sa’adat, anggota Konsel Legislatif Palestina yang mendapat hukuman selama 30 tahun.
Semua penahanan dilakukan tanpa alasan yang jelas. Perlakuan kasar dan siksaan tidak luput juga dialami para tahanan politik tersebut.
Tahun lalu, dunia menjadi saksi penahanan massal yang dilakukan Zionis di Desa Bilin, Nabi Saleh, dan Beit Ommar.
Para pemimpin komite atau penyelenggara aksi protes menjadi sasaran utama Zionis. Di antaranya adalah Abdallah Abu Rahmah, Koordinator Komite Bilin yang dipenjara selama 16 bulan dan Bassem Tamimi dari Desa Nabi Saleh.
Keluarga Dilarang
Masih ingat almarhumah Abeer Iskafi, gadis 10 tahun yang syok lalu sakit dan meninggal sesudah dilarang menemui dan memeluk ayahnya dalam penjara bulan lalu?
Perlakuan yang diterima para tahanan politik dari Zionis memang melanggar standar internasional yang berlaku.
Tahanan-tahanan politik ini menjalani interogasi berkepanjangan dan seringkali penuh siksaan hingga 188 hari sebelum dijatuhi keputusan.
Sejak 2007, Zionis juga melarang kunjungan keluarga bagi 684 tahanan asal Gaza.
Kasus-kasus tahanan Palestina tersebut terus dipantau oleh APSHRA. Mereka juga menawarkan bantuan hukum dan konseling bagi para tahanan.
Kampanye tentang pelanggaran hak asasi manusia ini juga terus digencarkan agar dunia sadar, terbuka matanya, lantas tergerak membantu.
Baik dengan cara mengirimkan surat dukungan kepada para tahanan, menulis surat kepada otoritas ‘Israel’, maupun menggelar demonstrasi.
Karena menurut APSHRA, kedamaian tidak akan berlangsung, bila tokoh politik dan pejuang hak asasi masih saja dibungkam, ditangkap, dan disiksa seperti yang dilakukan Zionis selama ini. (AM/Sahabat Al-Aqsha)




Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
