Muhammad, 17, Dipatahkan Kakinya Lalu Dipenjara. Semoga Dia Segera Bebas

19 October 2011, 02:08.

JAKARTA, Selasa (Sahabatalaqsha.com): Mungkin tidak ada yang menyangka jika seorang murid yang rajin dan pekerja keras akan merasakan kehidupan penjara.

Apalagi bila ia sampai harus merasakan siksaan di dalam penjara. Inilah yang dialami Mohammad Halabia—seorang siswa berusia 17 tahun dari Yerusalem Timur.

Mohammad ditahan di penjara ‘Israel’ sejak tahun 2009 dengan tuduhan melempar bom bensin. “Ketika itu ia masih duduk di kelas sebelas. Mohammad adalah anak yang rajin. Sepulang sekolah ia bekerja untuk membantu kehidupan kami,” ujar ibunya, seperti dilansir laman Al Jazeera.

Suatu hari ketika hendak mencari makan sehabis bekerja, Mohammad dan beberapa orang temannya ditangkap oleh tentara patroli ‘Israel’, dengan tuduhan melempar bon bensin.

Mereka lalu dibawa ke markas militer dan mengalami berbagai siksaan. “Saat pemeriksaan di pengadilan, kaki kanan Mohammad patah dan kaki kirinya pun terlihat habis dipukuli,” tutur ibunya.

Pengadilan lalu menjatuhi hukuman 1,5 tahun penjara untuk Mohammad. Dan kini, setelah kesepakatan pertukaran tahanan tercapai, ibunda Mohammad menunggu dengan penuh harapan dapat berkumpul kembali dengan anaknya.

Walaupun ia tidak melihat nama anaknya dalam daftar tahanan yang akan dibebaskan di tahap pertama, ia tetap menyimpan harapan bahwa Mohammad akan segera dilepas.

“Hamas mengatakan bahwa tahanan anak-anak akan dibebaskan. Jadi kita lihat saja,” ia menambahkan.

‘Aku Rindu Putriku Duaa’

Penantian dengan penuh harapan juga dirasakan ibunda Duaa Jayyousi. Sudah sepuluh tahun, ia tidak bisa menyentuh puterinya, setelah tentara ‘Israel’ menangkapnya karena mengangkut sejumlah penyerang ke Netanya—sebuah kota industri di ‘Israel’.

Ketika mendengar kabar tentang kesepakatan pertukaran tahanan itu, ia sempat pesimistis lantaran berita seperti ini bukan sekali dua kali ini didengarnya.

“Kita sudah beberapa kali mendengar rencana ini tetapi tidak pernah tercapai kesepakatan,” ujarnya.

Tetapi kini ia percaya bahkan harapannya semakin berkembang karena kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa tahanan wanita masuk dalam daftar tahanan yang akan dibebaskan.

“Saat ia dibebaskan nanti, saya hanya ingin ia menyelesaikan kuliahnya dan hidup dengan normal. Kami telah cukup menderita karena ini semua.”

Rindu Kecupan Ayah

Bagi Amal al-Awawdeh, kesepakatan pertukaran tahanan berarti bertemu untuk pertama kalinya dengan ayahnya di luar penjara.

Ia lahir ketika ayahnya berada di penjara. Amal hanya dapat melihat ayahnya dari balik jeruji dan kaca partisi. Dan ia tidak tahu bagaimana rasanya mendapat kecupan di kening dari seorang ayah.

“Saya sangat sedih ketika semua ayah teman saya datang ke sekolah sementara ayah saya sendiri berada di dalam penjara. Tetapi kini saya bisa seperti mereka. Saya adalah orang paling bahagia di dunia karena ayah saya akan kembali ke rumah,” ujarnya.

‘Ayahku Dipenjara 25 Tahun, Lalu Dideportasi!’

Suka cita juga dirasakan oleh putera Ahmad Abu Suoud Hanani. Begitu mendengar ayahnya yang telah ditahan selama hampir 25 tahun akan dibebaskan, ia merasakan kegembiraan yang luar biasa.

Ayahnya yang kini berusia 60 tahun akhirnya dapat menghirup udara segar.

Namun, letupan kegembiraannya segera menyusut, begitu ia mengetahui bahwa ayahnya termasuk dalam daftar tahanan yang akan dideportasi ke luar negeri.

Artinya, meski dibebaskan, ia tetap tidak dapat berkumpul bersama keluarganya. “Kami sekeluarga langsung syok mendengarnya. Ia terlalu tua untuk semua ini. Bagaimana mungkin ia akan dideportasi dan dijauhkan dari keluarga dan tanah kelahirannya,” ujar putera Hanani.

Bagi keluarganya, keputusan ini jelas mengecewakan. Meski mereka mengetahui bahwa kesepakatan ini telah melewati bertahun-tahun proses negosiasi, mereka berpikir seharusnya Hamas tetap menahan Shalit sampai disepakati bahwa semua tahanan Palestina akan dipulangkan ke rumah mereka.

“Katanya deportasi lebih baik dari penjara. Tetapi kami tidak berpikir begitu. Setelah 25 tahun berpisah, yang ayah kami inginkan hanyalah berkumpul kembali dengan keluarganya. Tetapi kini, setelah dibebaskan, ia malah diusir keluar dan tidak ada yang tahu kemana ia akan dikirim.” (MR/Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sesudah Tiga Pekan, Tahanan Palestina Hentikan Mogok Makan
Alhamdulillah, Tahanan Palestina Bebas. Gaza Bergembira. Tapi Butuh ‘Shalit Baru’ »