Penjajah Zionis Ancam Hancurkan Panel Surya di Tepi Barat

2 April 2012, 17:06.

JAKARTA, Senin (Sahabatalaqsha.com): Sejumlah rumah darurat dibuat dari batu-batu kecil dan terpal plastik terlihat di komunitas terisolasi di Sheb al-Buttum di Selatan Hebron Hills. Beberapa meter dari rumah-rumah itu, terdapat sejumlah panel surya yang dipasang di puncak bukit berbatu. Panel surya ini mengaliri listrik untuk 150 orang penduduk desa.

“Listrik itu kami gunakan untuk mengoperasikan mesin pemerah susu, mesin cuci, kulkas, dan untuk penerangan di malam hari,” ujar Ismail al-Jabarin, salah seorang penduduk Sheb al-Buttum yang berusia 43 tahun, seperti dikutip dari laman Electronic Intifada.

“Sebelum ada panel surya itu, kami mengandalkan generator yang hanya berfungsi dua jam sehari dan sering bermasalah juga,” imbuhnya.

Sebagai penggembala yang mengandalkan kambing, domba, dan hewan lainnya sebagai mata pencahariannya, penduduk Sheb al-Buttum setiap harinya menghabiskan waktu tiga jam untuk mengolah susu menjadi mentega, jika tidak ada listrik. Dengan bantuan listrik, proses ini hanya berlangsung setengah jam.

Para penduduk ini kini dibayang-bayangi oleh ancaman militer Zionis yang akan menghancurkan panel-panel surya itu. “Jika militer datang dan menghancurkan panel surya, hidup kami akan kembali sengsara,” ujar al-Jabarin.

Administrasi Sipil ‘Israel’ atau lembaga militer ‘Israel’ yang mengontrol Area C di Tepi Barat, telah mengeluarkan surat perintah penghentian operasi panel surya dan sistem turbin angin di enam komunitas terpisah yang berada di Selatan Hebron, termasuk Sheb al-Buttum.

Area C sendiri merupakan wilayah di Tepi Barat yang berada di bawah kontrol Zionis. Sementara Area A berada di bawah kontrol otoritas Palestina dan Area B di bawah kendali gabungan.

Perintah yang dikeluarkan penjajah Zionis di Area C ini dianggap sebagai langkah awal untuk menghancurkan sistem energi terbarukan. Sistem ini sendiri dipasang oleh sebuah kelompok ‘Israel’, bernama Komunitas Kelistrikan dan Teknologi Timur Tengah (COMET-ME).

Pendanaannya sebagian besar berasal dari Kementerian Luar Negeri Jerman.

“Panel-panel surya itu dipasang secara ilegal dari pendanaan lembaga-lembaga internasional. Pemasangannya tanpa pengajuan izin terlebih dulu,” ujar Guy Inbar, juru bicara Administrasi Sipil ‘Israel’ dalam sebuah surat elektronik.

Ia juga menulis, “Bantuan internasional adalah komponen yang penting untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk Palestina. Tapi hal ini tidak berarti bahwa mereka kebal terhadap hal-hal yang bersifat ilegal”.

Pernyataan Administrasi Sipil ‘Israel’ tersebut sebenarnya hanyalah alasan yang dibuat-buat karena menurut pendiri COMET-ME, Noam Dotan, mereka tidak akan pernah diizinkan untuk membangun sesuatu di komunitas Palestina di Area C. “Kami tidak meminta izin karena mereka tidak akan mengizinkan” ujarnya.

“Alasan mereka tidak akan memberikan izin adalah murni alasan politik. Kita bisa lihat bagaimana wilayah permukiman ‘Israel’ saat ini. Mereka berkembang dengan dan tanpa izin,” sambungnya.

Saat ini, sekitar 150.000 penduduk Palestina tinggal di Area C. Karena daerah ini berada di bawah kendalinya, penjajah Zionis seharusnya bertanggung jawab atas semua kebutuhan dasar para penduduk yang tinggal di Area C. Kebutuhan dasar itu meliputi rumah, kesehatan, penduduk, dan penyediaan air yang bersih. Ketentuan ini sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional.

‘Israel’ jelas-jelas telah melanggar hukum internasional tersebut karena selama tahun 2000-2007, sekitar 94% permohonan izin pembangunan yang diajukan warga Palestina telah ditolak. Penjajah Zionis sendiri malah membangun 18.000 unit rumah di Area C.

Tidak terbayangkan bagaimana nasib para penduduk di Area C jika panel-panel surya itu dihancurkan. Sekitar 500 orang penduduk Palestina di Selatan Hebron Hills akan hidup dalam keadaan gelap gulita.

“Kebutuhan mereka terhadap listrik sangat besar. Pada pukul empat sore di musim dingin, langit sudah gelap. Anak-anak yang pulang dari sekolah membutuhkan cahaya untuk mengerjakan tugasnya. Orang-orang lainnya membutuhkan listrik untuk bekerja. Jika listrik hilang, mereka seperti kembali ke zaman batu,” ujar Noam Dotan. (MR/ Sahabat al-Aqsha)

20120402-170603.jpg

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Seorang Bayi Tewas di Gaza Sesudah Peralatan Medis Mati karena Krisis Listrik
Palang Merah Bantu 150.000 Liter Bahan Bakar untuk Rumah Sakit Gaza »