Zionis ‘Israel’ Mulai Hujani Rumah Rakyat Gaza dengan ‘Senjata Khusus’
17 November 2012, 17:58.

Sebuah kawah yang disebabkan bom yang dijatuhkan Zionis di lingkungan pemukiman penduduk Gaza. foto: Getty Image
JAKARTA, Sabtu (Aljazeera | Sahabatalaqsha.com):
oleh Safa Joudeh, jurukamera BBC menulis untuk Aljazeera
Jalanan Gaza yang biasanya ramai, kini kosong, menyusul serangkaian serangan ‘Israel’ dan suara roket-roket yang ditembakkan di sejumlah lokasi. Pasukan keamanan Hamas yang biasanya muncul di mana-mana ketika ada kondisi siaga, kini tidak terlihat selama serangan Zionis dan para polisi pun telah meninggalkan pos-pos mereka dan hanya berjaga di beberapa daerah saja.
Di luar gedung apartemennya yang berlantai tiga di Tel el-Hawa—lingkungan perumahan yang dirusak ‘Israel’ dalam operasi Cast Lead 2008-2009, Ammar El Banna, 30, memeriksa penyok-penyok di mobilnya dan jendelanya yang hancur. Malam sebelumnya, pesawat tempur F16 Zionis menyerang sebuah rumah kosong di dekat gedung apartemennya, menyebabkan banyak kerusakan pada bangunan-bangunan yang ada di daerah itu.
El Banna, seorang karyawan sektor publik, istrinya dan dua anaknya bersama 16 orang anggota keluarganya terluka akibat pecahan peluru meriam. “Kami bisa mendengar ledakan bom di sekitar kita tapi ketika sebuah rudal menghantam rumah kosong itu, kami tidak menduganya. Saya langsung membawa istri dan anak-anak ke rumah sakit,” ujarnya.
Pada Rabu (14/11) malam, Pasukan Pertahanan ‘Israel’ (IDF) meluncurkan operasi Pillar of Cloud untuk melawan Gaza, menyusul serangan-serangan ‘Israel’ yang sudah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza dan puluhan roket yang ditembakkan kelompok pejuang Palestina ke ‘Israel’. Peningkatan serangan dari Gaza ini terkait dengan tewasnya pemimpin Hamas, Ahmad el-Jaabari pada Rabu sore lalu.
Dan ‘Israel’ pada Kamis (8/11) sebenarnya sudah memanaskan suasana dengan membunuh seorang remaja berusia 13 tahun bernama Ahmed Abu Daqqa di Selatan Gaza. Kematian warga sipil yang tidak bersalah ini bertolak belakang dengan pertanyaan Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu bahwa operasi militer yang digelarnya ditujukan untuk menyerang Hamas, bukan untuk melukai warga sipil.
Serangan ‘Israel’ terhadap Hamas diikuti oleh serentetan tembakan artileri dan serangan udara yang menyebabkan banyak rumah, mobil dan lahan-lahan pertanian di Gaza hancur. Menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit Al Shifa Gaza selama 24 jam terakhir ini, Kepala Darurat Rumah Sakit, Dr. Ayman El Sahbany mengatakan bahwa agresi ‘Israel’ adalah sebuah serangan terencana dengan warga sipil sebagai objeknya. “Antara hari Rabu dan Kamis malam, kami menerima 15 orang korban tewas, 140 orang luka-luka dimana 35 di antaranya adalah anak-anak, 25 orang wanita, 15 orang-orang tua dan sisanya remaja. Dan tidak ada satu pun korban pejuang Palestina yang masuk ke rumah sakit ini. Semua korban di sini adalah warga sipil,” tegas dokter itu.
Kabar tentang gencatan senjata antara Hamas-‘Israel’ yang dimediatori oleh Mesir pertama kali diumumkan empat hari sebelum operasi ‘Israel’ dimulai. Gencatan senjata ini tidak berhasil. Situasi terus memanas setelah ‘Israel’ mengancam akan menyerang lewat jalan darat dan meluncurkan serangan udara yang lebih parah di tengah kota Gaza, sehabis penembakan rudal jarak jauh oleh kelompok pejuang Palestina ke ibukota ‘Israel’, Tel Aviv dan Yaffa.
Sepi yang Menipu
Beberapa kali dalam sehari, serangan-serangan berat dari udara terus terdengar. Dan ketika suasana mendadak sepi, itu pun seringkali menipu. Tinggal di dalam rumah menjadi sama bahayanya dengan berada di jalan-jalan Gaza selama gempuran Zionis ini.
Seorang kameramen BBC, Jihad Al Mashharrawi, 27, tinggal di sebuah rumah kecil di Selatan Gaza. Ia sedang bekerja ketika mendengar kabar kematian anaknya yang baru berusia sebelas bulan dan ipar perempuannya di rumah mereka. Ia bercerita, ketika keluarganya hendak keluar rumah setelah mendengar bombardir Zionis mendadak senyap, sebuah rudal tiba-tiba menghantam atap rumahnya. Seketika itu ipar Al Mashharrawi tewas dan Omar, puteranya yang ditemukan di sebelah paman Al Mashharrawi menderita luka bakar parah pada 65% tubuhnya. Ia lalu tewas.
Anak laki-laki Mashharrawi yang lain, Ali, selamat secara ajaib dari sepotong pecahan peluru yang bersarang di kepalanya. “Siapa target ‘Israel’ sebenarnya? Kami tidak memiliki keluarga dari kelompok pejuang atau orang yang bekerja di pemerintahan. Orang-orang di sini setiap harinya berjuang untuk hidupnya. Salah satunya dengan menjadi supir taksi. Sungguh tidak bisa dibayangkan…. Anak saya…,” tutur Mashharrawi dengan perasaan hancur. Ia meneteskan air mata saat membenamkan wajahnya di baju hangat Ali.
Senjata Ilegal ‘Israel’
Pihak medis telah menduga bahwa, seperti halnya dalam operasi Cast Lead, ‘Israel’ menggunakan senjata-senjata tidak biasa dalam serangannya. Dari jenis dan skala luka bakar yang dialami para korban, pihak medis menemukan bahwa mereka menggunakan senjata khusus. “Kami tidak merasa familiar dengan semua komponen ini. Dan kami tidak memiliki fasilitas untuk menyelidiki mereka dan tentu saja tidak ada pengawasan dari dunia internasional atas senjata-senjata yang dipakai ‘Israel’ untuk menyerang Gaza dan bahkan anak-anak,” papar Dr. El Sahbany yang menangani sejumlah pasien luka bakar, termasuk saudara laki-laki Al Mashharrawi.
Menteri Urusan Strategis ‘Israel’, Moshe Ya’alon menyatakan, “’Israel’ akan meneruskan operasi ini sampai ‘teroris’ di Gaza memohon-mohon gencatan senjata,”. Ancaman ini tidak mengendurkan keberanian berbagai kelompok pejuang Palestina yang terus beroperasi dengan meningkatkan jumlah roket yang ditembakkan ke kota-kota ‘Israel’ dan permukiman ilegal Yahudi.
El Banna, mewakili pandangan dari banyak warga Gaza lainnya pun mengatakan, “Jika faksi-faksi perlawanan tidak meningkatkan serangan mereka, kami yang akan melakukannya karena serangan ‘Israel’ ini menghancurkan populasi Gaza. Setelah melihat anak-anak terluka, rumah dan mobil saya hancur, hidup saya terganggu, saya akan melawan semua ini dengan kekuatan,” ujarnya. (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
