18 Saudara Kita Sakit Parah di Penjara-penjara Zionis dan Terlantar
10 December 2012, 06:16.

Saudara-saudara kita di penjara zionis adalah yang paling rentan keselamatan fisiknya. Penjara yang tidak manusiawi, sipir yang sadis, dan masa tahanan yang tidak jelas. foto: Veterans Today
JAKARTA, Senin (SahabatAlAqsha.com): Yayasan Solidaritas HAM Internasional mengungkapkan, sebanyak 18 tahanan sakit parah di klinik penjara Ramla tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Pengacara yayasan, Muhammad Al-Abed menyatakan, salah seorang tahanan, Nahedh Faraj Al-Aqra’, 41 tahun, menderita penyakit mental dengan kondisi kaki kanannya diamputasi sementara kaki kirinya terkena infeksi yang bisa berujung pada amputasi.
IMEMC (International Middle East Media Center) melaporkan Al-Aqra’ ditahan sejak 7 Juli 2000, sepulangnya ia dari perawatan di rumah sakit Yordania. Ia lalu dijatuhi hukuman penjara tiga kali selama hidupnya dan keluarganya tidak pernah diizinkan menemuinya sejak ia diculik penjajah zionis 12 tahun lalu.
Sementara tahanan lain, yakni Ayman Taleb Abu Sitta dari Jalur Gaza menderita infeksi liver dan sempat dirawat di pusat medis Soroka milik zionis sebelum dipindahkan ke klinik penjara Ramla 40 hari yang lalu. Ia dimasukkan ke penjara pada 1994 dan dijatuhi hukuman penjara sekali dalam hidupnya.
Ada juga tahanan Ahmad Al-Awad dari Beit Ummar, dekat Hebron yang terkena tembakan lima peluru sebelum diculik oleh serdadu Zionis. Peluru-peluru itu mengenai bagian tangan, perut dan pahanya. Tahanan lain, yakni Mo’tasem Raddad yang dijatuhi hukuman penjara 20 tahun dilaporkan menderita sakit perut parah akibat luka yang didapatnya saat ia ditangkap zionis pada 2006.
Pengacara mengatakan, ke-18 tahanan yang secara permanen tinggal di klinik penjara Ramla adalah Nahedh Al-Aqra’, Ayman Taleb Abu Sitta, Ahmad Awad, Mo’tasem Raddad, Othman Al-Khaleely (lumpuuh), Khaled Ash-Shaweesh (lumpuh), Riyadh Al-Amour, Mansour Moqada, Riyadh Radwan, Kamal Al-Husseini, Yousef Masalha, Shadi Akram Ar-Reekhawi, Amir dan Muhammad As’ad (dari wilayah Kufur Kanna).
Lalu Mahmoud Suleiman, Samer Oweijat, Amer Bahar, dan Issa Nimir Jibreel dari kamp pengungsi Duheisha di Bethlehem yang dipindahkan ke rumah sakit penjara dua bulan lalu dan menjadi juru bicara para tahanan yang dirawat.
Yayasan Solidaritas HAM Internasional menyatakan, kondisi klinik penjara Ramla sangat tidak layak dengan jumlah obat-obatan yang kurang, peralatan tidak memadai dan tidak ada perawatan khusus untuk pasien cacat. Belum lagi sipir-sipir penjara dan pihak administrasi yang kerap menzhalimi dan melecehkan para tahanan sakit.* (MR/Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
