Penderitaan Pasien Kanker Gaza di Kairo
24 December 2012, 09:22.
JAKARTA, Senin (Sahabatalaqsha.com): Membutuhkan waktu lima hari bagi Muhammad Wadi untuk bisa berbicara dengan beberapa dokter di rumah sakit Institut Nasser di Kairo, Mesir. Setelah upaya tanpa henti untuk mendapatkan perawatan, pria berusia 40 tahun dari Gaza ini tiba Senin pekan lalu di departemen leukemia rumah sakit Nasser.
Seperti dikutip dari situs Electronic Intifada, sebelumnya pada hari Kamis, Wadi ditemani keponakannya Ramadan mengambil surat rujukan ke Mesir dari Kementerian Kesehatan Gaza dan segera berangkat ke perbatasan Rafah di Selatan Jalur Gaza.
“Tiga hari pertama, saya terpaksa berobat ke klinik karena saya tidak diterima di rumah sakit,” ujarnya kepada Electronic Intifada sambil duduk di kursi roda di bangsal leukemia. “Sejak Kamis lalu, saya tinggal bersama keponakan saya. Saya merasa tidak berdaya, berteriak tengah malam hingga membuat bising para tetangga. Saya datang ke rumah sakit ini dengan rujukan yang jelas tapi sejauh ini meeka tidak mengakuinya. Kenapa?”, sambung dia.
“Dari awal, saya terus merasakan siksaan demi siksaan. Saya hidup dengan bantuan obat penghilang rasa sakit yang hampir tidak mampu saya beli,” ujar Wadi yang berprofesi sebagai dokter gigi. Setelah pembicaraan singkat dengan seorang dokter di klinik leukemia, Wadi diberitahu bahwa ia belum bisa dirawat di rumah sakit dan harus menunggu sampai ada ranjang cadangan di bangsal.
Ramadan lalu membawa pamannya untuk mencari seseorang di rumah sakit dengan posisi lebih senior untuk membicarakan kasusnya. Seorang staf klinik Dr. Haitham Sherif mengatakan dengan nada sedih kepada Electronic Intifada bahwa bukan hanya Muhammad yang bernasib seperti ini. “Bukan hanya Muhammad yang harus masuk daftar tunggu. Saya menangani beberapa kasus pasien yang harus menunggu selama dua atau tiga minggu. Masalahnya terletak pada sedikitnya jumlah ranjang di rumah sakit. Problem ini bisa diatasi dengan mengembangkan klinik leukemia, sesuatu yang bukan kewenangan para dokter,” paparnya.
Di sebuah taman pada halaman rumah sakit, Ramadan Wadi mengatakan bahwa selama dua bulan terakhir, penyakit pamannya membuat kedua kakinya lumpuh. “Seperti yang terlihat sekarang ia berada di kursi roda. Setelah dua bulan rutin menjalani perawatan di rumah Gaza Eropa, para dokter merujuknya ke rumah sakit Nasser di Kairo ini,” kata dia.
Ketika mereka tiba di rumah Sakit Nasser pada Kamis lalu, Ramadan melanjutkan, orang-orang di bagian gawat darurat mengusir kami. “Mereka berkata kepada kami, ‘Ini bukan hotel. Kamu harus menunggu sampai hari Sabtu sehingga pihak rumah sakit dapat melakukan administrasi’. Mereka juga bilang bahwa surat rujukan kami harus dicek terlebih dulu sebelum dilakukan perawatan. Kami mengatakan bahwa menurut suat rujukan itu pasien harus segera dirawat,” urai Ramadan.
“Mengapa mereka merujuk kami ke Kairo sementara di sini pun kami menderita? Selama lima hari terakhir, kondisi paman saya semakin memburuk. Kini penglihatannya mulai terganggu,” sambung dia.
– Prioritas untuk Pasien Gaza?-
Dr. Ahmad Abdel Nabi, direktur Institut Nasser mengatakan kepada Electronic Intifada bahwa pihak rumah sakit sudah sejak lama memberikan prioritas bagi pasien dari Gaza. “Saya sudah di sana selama 15 tahun, sebelum diangkat menjadi direktur umum. Dan saya dulu biasa merawat pasien-pasien dari Gaza. Namun masalahnya dengan para saudara kami yang berasal dari Palestina adalah mereka berpikir mereka akan segera dirawat begitu tiba di sini. Masalah kami adalah sebagian besar pasien dari Gaza membutuhkan perawatan kanker atau pembedahan atau melanjutkan operasi. Kami telah mendapat instruksi dari pejabat atas bahwa pasien Palestina harus diberi prioritas dalam hal pengobatan dan kami memberikan upaya terbaik kami untuk mereka. Namun, saya mengakui dalam beberapa tahun terakhir ini, sejumlah pasien Gaza tidak mendapatkan informasi lengkap tentang kondisi kesehatan mereka sehingga para pasien merasa cemas,” terangnya.
Abdel Nabi menambahkan bahwa jumlah perawatan spesialis di rumah sakitnya sangat terbatas. Contohnya, dokter-dokter yang ahli dalam mengambil sampel uji dari otak atau sumsum tulang belakang, sangat sedikit jumlahnya di Mesir. Pihak rumah sakit bekerja atas dasar kontrak dengan para dokter itu. “Mereka bekerja di sini seminggu sekali. Dan kadang beberapa dokter terlambat datang sehingga kami dan para pasien harus menunggu. Kami sesungguhnya peduli terhadap perawatan yang baik untuk pasien-pasien Gaza dan yang lainnya dari negara lain,” ia menambahkan.
Jumlah ranjang di rumah sakit Nasser sebanyak 950 buah dan saat ini sudah terisi penuh. Dan para pasien yang datang ke sini selalu mengira mereka dapat segera ditangani. Meski begitu, ujar Abdel Nabi, pihak rumah sakit memberikan prioritas untuk kasus-kasus yang paling gawat. “Sementara yang lainnya harus menunggu,” ujarnya.
Sejak Zionis ‘Israel’ memblokade Jalur Gaza pada 2007, otoritas Mesir di perbatasan Rafah telah mengizinkan para pasien dengan kondisi darurat untuk berobat di Mesir. Namun izin ini baru ada setelah serangan Zionis di Gaza pada Desember 2008-Januari 2009 dimana Mesir mulai mengizinkan sejumlah besar pasien Palestina dari Gaza untuk berobat di Mesir.
Sebuah laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juli 2011 menyebutkan bahwa sebanyak 4.843 pasien dari Gaza dirujuk ke pusat perawatan di Mesir sepanjang tahun lalu. WHO menemukan bahwa sejumlah pasien seringkali terlambat masuk ke Mesir karena penutupan perbatasan Rafah. Juga karena sejumlah besar warga Gaza kesulitan biaya untuk berobat di Mesir dan bepergian ke sana.
Jumlah pasien yang dirujuk ke Mesir dari Gaza meningkat pada paruh ke dua 2010 dibandingkan enam bulan pertama 2010. Pembukaan perbatasan Rafah disebutkan sebagai alasan naiknya angka rujukan ini. WHO juga menemukan bahwa rujukan-rujukan itu paling banyak untuk pasien pria usia 18-40 tahun.
Sementara itu, fakta yang terjadi adalah tidak ada solusi segera bagi pasien-pasien Gaza yang membutuhkan perawatan darurat. “Apa yang harus saya lakukan? Dokter dari klinik leukemia menginstruksikan saya untuk menunggu dan menelan pil penghilang rasa sakit sampai saya bisa dirawat di departemennya. Mungkin ini bisa membutuhkan waktu sehari, dua hari atau seminggu. Saya harap saya tidak perlu menunggu lama karena saya sangat menderita,” ujar Wadi. (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.

