Gaza Susah, tapi Sabar dan Berani

JALUR GAZA, Jum’at (Sahabatalaqsha.com): Beberapa menit sesudah melewati pintu perbatasan, kemarin sore (12/4), mobil yang menjemput Tim SA2Gaza berhenti di sebuah bundaran di kota Rafah (di sisi Gaza. Rafah terbagi dua, sisi Mesir dan sisi Gaza).

Sejurus kemudian, tiga orang bocah kecil melintas di dekat mobil itu. Bocah perempuan yang paling besar, kira-kira berumur 6 tahun, menggenggam sebatang ranting pohon yang dedaunannya masih terlihat hijau segar.

Ia memimpin dua orang bocah lain, satu lelaki satu perempuan, yang lebih kecil, seraya meneriakkan yel-yel, “Listrik… mati… kami perlu listrik… Listrik… mati… kami perlu listrik…!!!” Ketiganya berjalan gagah berbaris seperti sedang berdemonstrasi.

Sejak tiga bulan silam, Jalur Gaza mengalami krisis listrik parah. Sambil sesekali menembakkan bom ke arah rumah-rumah di Gaza, Zionis Israel pun mengetatkan perdagangan bahan bakar minyak antara perusahaan-perusahaan Israel dan Gaza.

Warga Gaza yang jumlahnya kini sekitar 1,8 juta jiwa, harus melawan hawa berat musim dingin yang baru lalu, sering tanpa listrik. Memasuki musim semi ini hawa sudah agak menghangat. Pagi ini suhu 18 derajat, malam tadi sekitar 13 derajat celcius.

Listrik hanya menyala antara empat sampai delapan jam sehari, dengan tempat yang begiliran di seluruh wilayah Jalur Gaza yang luasnya sekitar 360km per segi ini (kira-kira seluas Jakarta Pusat).

Berbagai himpitan terus mendera rakyat Gaza sejak dikepung oleh Zionis Israel tahun 2007. “Sebenarnya pengepungan itu sudah dimulai sejak 2006, yaitu sejak Hamas dengan izin Allah memerdekakan Gaza,” jelas seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Palestina di Gaza kepada Sahabat Al-Aqsha. “Namun Zionis secara resmi mengumumkan kepada dunia internasional, mengepung Gaza sejak 2007. Dan sampai hari ini negara-negara dunia mendiamkan kezhaliman ini berlangsung…”

Selama perjalanan melintasi Jalur Gaza kemarin sore, seorang penjemput Tim SA2Gaza menunjukkan, semua barang keperluan rakyat Gaza terpaksa masuk lewat terowongan.

Sebuah trailer besar mengangkut ratusan sak semen melintas. Tumpukan generator listrik di pinggir jalan. Alat-alat rumah tangga. Sayur mayur. “Semua itu masuk lewat terowongan yang jumlahnya lebih dari seribu…,” katanya.

“Akibatnya banyak rakyat Gaza yang tak mampu beli apa-apa, karena harga-harga melangit,” tukasnya lagi.

Kenapa harus lewat terowongan?

“Karena pemerintah Mesir masih terikat perjanjian ‘damai’ dengan Zionis,” jelasnya.

Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Zionis Israel Menachem Begin, dimediasi Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, menyepakati perjanjian Camp David pada tahun 1978.

Meskipun tahun lalu rakyat Mesir, dengan izin Allah, telah menjungkalkan Presiden Hosni Mubarak, saat ini pemerintah transisi Mesir masih terpaksa menjalankan perjanjian ‘damai’ itu. Akibatnya, aliran barang dari Mesir, maupun aliran manusia yang keluar masuk lewat perbatasan Rafah masih sangat dipersulit.

Contohnya, 25 ribu ton solar bantuan dari pemerintah Qatar untuk Gaza, sampai kemarin sore saat Sahabat Al-Aqsha melintas pelabuhan Al-Arish, Mesir, masih tertahan di sana. Pemerintah Mesir tidak mengizinkan bantuan untuk listrik Gaza itu disalurkan ke dalam Gaza.

Ironisnya, pada saat yang sama setiap hari ribuan ribuan ton gas alam Mesir disalurkan dengan harga murah ke Zionis Israel. Kerja sama ini sudah berlangsung sejak perjanjian Camp David dibubuhkan, 36 tahun silam.

Di tengah berbagai kezaliman internasional yang menderanya, rakyat Gaza masih teguh, sabar, dan berani. Menjelang maghrib kemarin sore, Tim Sahabat Al-Aqsha solat berjama’ah di sebuah rumah yang gelap gulita, karena listrik padam.

Para pemuda Gaza berpakaian rapi dan berbadan tegap, berbaris rapi dalam satu shaf. Sesudah membaca Al-Fatihah, imamnya membacakan akhir surat An-Nazi’at, yang mengingatkan, bahwa mereka yang mengikuti hawa nafsu dan bersikap sombong kepada Allah, bakal jadi penghuni neraka.

Sedangkan mereka yang menahan hawa nafsu dan taat kepada Allah, tempat tinggalnya di Syurga.

Kezhaliman terus mendera rakyat Gaza. Negara-negara lain pura-pura buta dan tuli. Tapi Akhirat begitu dekat di mata hati rakyat Gaza. Sehingga setiap susah dan derita justru menambah keteguhan, kesabaran, dan keberanian.

Jatuh cinta dengan rakyat Gaza, berjuta rasanya…* (Sahabatalaqsha.com)