Ditelanjangi di Salju, Dipukuli dan Disetrum: Begini Zionis Siksa Warga Palestina
3 March 2016, 18:58.

Foto ilustrasi seorang pemuda Palestina yang ditangkap dan ditutup matanya oleh serdadu Zionis. Foto: Activestills
PALESTINA, Kamis (972mag.com): Lembaga-lembaga hak asasi di Palestina meluncurkan laporan terbaru mereka tentang berbagai jenis penyiksaan yang dilakukan Zionis ‘Israel’ demi langgengkan penjajahan mereka atas Palestina.
Berbagai detail dalam laporan mengenai penyiksaan di pusat Shin Bet ‘Israel’, Shikma, itu sungguh mengerikan. Laporan yang ditulis oleh HaMoked dan B’Tselem itu juga penting karena menunjukkan betapa eratnya kerja sama antara ‘Israel’ dan Otoritas Palestina.
Meskipun laporan ini baru, kita tidak akan lupa bahwa penyiksaan yang dilakukan ‘Israel’ bukanlah hal baru. Rakyat Palestina telah lama menderita di bawah penjajahan militer Zionis, yakni sejak tahun 1970-an atau 40 tahun lalu.
Pengacara hak asasi manusia ‘Israel’, Lea Tsemel mengatakan, kali pertama ia mengungkap laporan mengenai penyiksaan adalah pada tahun 1972 saat ‘Persidangan Haifa’. Dalam laporan yang diterbitkan untuk Adalah, Tsemel menulis:
“Persidangan Haifa hanyalah awal dari pembongkaran saya atas kasus-kasus penyiksaan, karena selanjutnya seluruh metode penyiksaan yang sangat kejam –bahkan penyiksaan-penyiksaan klasik yang Anda baca di buku-buku dan Anda dengar terjadi di Guantanamo dan Irak– sangat sering dilakukan di sini. Banyak sekali tawanan yang diinterogasi menggunakan metode-metode ini karena mereka harus mempersingkat masa interogasi agar bisa memproses lebih banyak orang. Sejak penjajahan dimulai pada tahun 1967, diperkirakan sekitar 700.000 warga Palestina ditawan penjajah Zionis.”
Tsemel melanjutkan:
“Tentu saja, sebagian besar interogasi terhadap ribuan warga Palestina berlangsung di pusat-pusat agen mata-mata Zionis GSS (General Security Service – Badan Keamanan Umum) atau yang lebih dikenal dengan Shin Bet. Saat ini, fakta bahwa sebagian besar interogasi para tawanan politik melibatkan penyiksaan atau penganiayaan selama 32 tahun pertama penjajahan (sebelum keputusan Mahkamah Agung 1999) bukanlah rahasia. Hampir setiap warga Palestina yang diinterogasi bisa mengatakan pada Anda tentang betapa mereka dipaksa tidak tidur, dilarang ke toilet atau mandi, kelaparan, tekanan-tekanan fisik, termasuk dipaksa duduk terikat di bangku kecil tanpa sandaran selama berhari-hari, pukulan dan tendangan, ancaman, gantung, tekuk, strum (terkadang hingga mati), dan sebagainya.”
Tsemel juga menunjukkan fakta bahwa publik ‘Israel’ mengetahui tentang hal itu sejak tahun 1977, yakni saat surat kabar yang berbasis di London Sunday Times menerbitkan catatan puluhan warga Palestina yang mengalami penyiksaan di tangan pasukan penjajah Zionis.
Dalam buku Palestine Speaks, sebuah kumpulan cerita tentang kehidupan di bawah penjajahan ‘Israel’, pengacara Palestina Abdelrahman al Ahmar menceritakan kembali penyiksaan yang ia alami di tangan ‘Israel’ pada 1984, saat ia masih remaja. Setelah serdadu Zionis menciduknya dari rumah orangtuanya di kamp pengungsi Dheisheh pada tengah malam –praktik yang biasa digunakan terhadap anak-anak Palestina sekarang ini– al Ahmar dibawa ke Al-Muskubiya (Russian Compound), salah satu distrik tertua di pusat Baitul Maqdis. Malam itu udara musim dingin sangat mencekam dan interogasi dimulai dengan:
“…mereka membuka seluruh pakaian kami, menelanjangi kami. Kemudian mereka mengencangkan borgol kami, membawa kami ke sebuah area terbuka, dan meletakkan karung di atas kepala kami. Salju turun, dan kami dibiarkan dalam kondisi telanjang di luar sana. Saya tidak bisa melihat yang lainnya, tapi saya bisa mendengar gigi mereka gemeletak, dan suara guncangan borgol-borgol terdengar sangat keras…. Di situlah kami tinggal selama empat puluh lima hari untuk diinterogasi. Tubuh kami membiru, kami berada di luar sangat lama padahal cuaca dingin mencekam.”
Al Ahmar mengingat kembali detail interogasi kejam yang dilakukan oleh penjajah Zionis:
“Mereka memukuli saya sepanjang hari seraya menyetel musik dengan kencang. Kami hanya diperbolehkan ke kamar mandi sekali dalam sehari. Mereka mengikat tangan kami di pipa-pipa… Jika saya kehilangan kesadaran, mereka akan menyiramkan air atau menampar saya sehingga saya terbangun… Terkadang mereka membuat saya terus terjaga selama berhari-hari sebelum memberi saya empat jam untuk tidur. Dan karena tekanan kurang tidur, saya mulai berhalusinasi…”
Kini, tubuh al Ahmar masih menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Ia memiliki bekas luka di pergelangan tangannya. Ia menjelaskan, karena “Borgol sangat ketat, mereka memotong hingga ke tulang. Saya masih memiliki bekas-bekas luka di kaki saya akibat dipukuli.”
Selama hampir 40 tahun, publik ‘Israel’ mengetahui praktik-praktik tersebut. Begitu pula dengan masyarakat internasional. Namun, pelanggaran HAM yang mengerikan ini terus berlanjut.* (972mag.com | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
