Geng Kriminal Berulah dan Bantuan Pangan Dipangkas, Sebagian Muhajirin Pilih Tinggalkan Kamp
3 December 2023, 21:40.

Muhajirin Rohingya berjalan melintasi air setelah mereka diizinkan oleh penduduk setempat untuk mendarat di pantai Ulee Madon, di Indonesia pada 16 November 2023. Foto: Reuters
BANGLADESH (Dhaka Tribune) – Semakin banyak muhajirin Rohingya yang meninggalkan kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar, menempuh perjalanan laut sepanjang 1.800 kilometer ke selatan menuju Indonesia dengan perahu reyot. Pada bulan lalu saja, lebih dari 1.000 muhajirin Rohingya telah tiba, jumlah terbesar sejak tahun 2015.
Sekira 1 juta Muslim Rohingya tinggal di kamp pengungsian kumuh yang sangat padat di Cox’s Bazar, Bangladesh. Kehidupan mereka semakin sulit karena kurangnya makanan, keamanan, akses pendidikan, dan kesempatan kerja di sana.
Laporan Human Rights Watch (HRW) yang diterbitkan tahun ini mengatakan, geng kriminal dan kelompok bersenjata menimbulkan ketakutan pada malam hari di kamp pengungsian Rohingya.
Seorang muhajirin Rohingya berusia 19 tahun yang baru saja tiba di Aceh bersama keluarganya mengatakan bahwa penjahat di Cox’s Bazar mengancam dia dan keluarganya setiap hari, hingga dia rela membayar lebih dari $1.800 (hampir 28 juta rupiah) untuk bisa pergi ke Indonesia, meski dengan perahu reyot yang membahayakan jiwa.
Menurut laporan polisi, terdapat sekira 60 muhajirin Rohingya yang telah terbunuh di kamp Cox Bazar sepanjang tahun ini.
Nay San Lwin, salah satu pendiri Free Rohingya Coalition (FRC), mengatakan bahwa banyak muhajirin yang melarikan diri akibat kekerasan di kamp pengungsian.
“Geng-geng kriminal mengendalikan kamp pada malam hari sehingga tidak ada seorang pun di kamp yang merasa aman. Ini merupakan cobaan besar bagi semua muhajirin,” jelasnya.
Namun, Lwin juga mengatakan, Program Pangan Dunia (WFP) yang dua kali memotong jatah makanan bulanan bagi muhajirin sejak awal tahun ini, menjadi sebab lain.
“Di kamp, orang-orang bergantung pada jatah bantuan makanan WFP, yang tidak mungkin mendapatkan cukup makanan saat ini–$8 (sekira 120 ribu rupiah) per orang untuk sebulan penuh,” tukas Lwin.
“Pembatasan pergerakan di kamp juga membuat tidak mungkin untuk bekerja di luar demi bisa bertahan hidup,” lanjutnya.
“Tidak ada peluang mata pencaharian alternatif yang tersedia, dan tidak ada harapan untuk repatriasi yang berarti dalam waktu dekat, membuat para muhajirin terpaksa memilih mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.”
Selain itu, Muhajirin Rohingya juga tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Mereka dilarang mempelajari bahasa Bangla karena pemerintah Bangladesh tidak ingin mereka berintegrasi ke dalam komunitas tuan rumah. Sementara itu, sampai saat ini hak mereka sebagai warga negara dirampas di Myanmar.
“Tidak adanya mata pencaharian yang layak adalah penyebab utama para penyintas genosida ini melarikan diri dari kamp dan melakukan perjalanan berbahaya ke negara-negara Muslim, seperti Malaysia dan Indonesia,” ujar Rezaur Rahman Lenin, seorang peneliti Rohingya yang berbasis di Cox’s Bazar.
Selain itu, kekerasan antargeng kriminal, kebrutalan aparat penegak hukum, kejahatan seperti pemerasan, penculikan, penyerangan fisik, dan kurangnya kesejahteraan psikologis, ikut menambah daftar penyebabnya, lanjut Lenin.
Yang menurut Nay San Lwin, para penjahat entah bagaimana bisa mengakses kamp-kamp yang terisolasi tersebut, lalu memanfaatkan kesulitan para muhajirin dan merayu mereka untuk melakukan perjalanan laut yang berbahaya.
“Menghadapi situasi itu, para muhajirin cenderung percaya apa pun yang diberitahukan oleh pelaku perdagangan manusia,” jelasnya.
Meski di kemudian hari, “Banyak yang kehilangan nyawa di laut atau mendapat penyiksaan di tangan para penyelundup manusia.” (Dhaka Tribune)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
