Kesaksian-kesaksian dari Deir Yassin
11 April 2013, 12:15.

Desa Deir Yassin dipotret ini tahun 1930-an, beberapa tahun sebelum pembantaian sekitar 200 orang warga desa itu dilakukan gerombolan-gerombolan Zionis Yahudi. foto: Wikimedia
YOGYAKARTA, Kamis (Occupied Palestine): Deir Yassin adalah desa di dekat kota Al-Quds. Nama desa ini menjadi monumen penting kejahatan gerakan Zionisme Yahudi, karena tanggal 9 April 1948 gerombolan-gerombolan teroris gerakan itu melakukan penyerangan dan membantai warga desa itu. Sebuah operasi yang didiamkan dan didukung oleh penjajah Inggris.
Kekejaman gerombolan Irgun, Lehi, dan Haganah tak bisa ditutupi bahkan, menurut beberapa catatan, justeru disebarluaskan untuk menteror warga Palestina lain. Deir Yassin jadi semacam contoh, agar rakyat Palestina meninggalkan tanah suci itu, dan sebulan kemudian negara palsu bernama ‘Israel’ diumumkan keberadaannya, di atas tanah hasil rampokan.
Berikut ini beberapa kesaksian dari orang-orang yang tidak terbunuh di Deir Yassin, yang dikumpulkan dari berbagai sumber oleh Occupied Palestine:
Um Mahmud (lahir 1932): “Kami sedang berada di dalam rumah. Dari luar kami mendengar bunyi tembakan. Ibu saya kemudian membangunkan kami. Kami tahu saat itu orang-orang Yahudi sedang menyerang kami. Sepupu saya dan saudarinya berlari menghampiri saya dan mengatakan kalau orang Yahudi sudah masuk ke taman kami.”
“Sementara itu, pertempuran semakin sengit, bunyi tembakan di luar riuh terdengar. Sebuah bom dijatuhkan ke arah kami lalu meledak di dekat kami. Kakak ipar saya tidak mau pergi. Ia ketakutan. Ia memiliki bayi berusia dua bulan dan seorang anak laki-laki. Saya mengambil anak bayinya dan ibu saya mengatakan kami harus segera pergi ke rumah paman saya. Saya melihat bagaimana Hilwah Zeidan dibunuh bersama dengan suami, anak, saudaranya dan Khumayyes. Hilwah Zeidan sebelumnya berusaha keluar untuk mengambil tubuh suaminya. Ia lalu ditembak dan jatuh di atas mayat suaminya. Saya juga melihat Hayat Bilbeissi, seorang suster dari Al-Quds yang bertugas di desa, ditembak. Anak perempuan Abul ‘Abed juga ditembak saat menggendong bayi. Bayinya pun ditembak juga. Siapa pun yang mencoba kabur akan ditembak mati.”
Abu Yousef (lahir 1927): “…Setelah pertempuran, orang-orang Yahudi menangkap orang-orang tua, pria, wanita dan para pemuda, termasuk empat orang sepupu saya dan seorang keponakan. Wanita yang memegang emas dan uang dirampas. Setelah orang-orang Yahudi memindahkan warga yang dibunuhnya dan terluka, mereka membawa kaum pria ke daerah tambang lalu dihujani tembakan.”
Seorang wanita dan anaknya dibawa sekitar 40-60 meter dari tempatnya berdiri lalu ditembak. Mereka kemudian menyuruh anak Yahudi untuk melempari batu ke tubuh anak itu. Mereka lalu menyiram dengan bensin lalu membakarnya sementara para wanita menonton dari jauh. Kami kemudian menghitung keberadaan anggota keluarga kami dan memeriksa siapa yang tidak ada. Di gerbang Jaffa di Yerusalem, kami dikumpulkan oleh Komite Tertinggi Arab. Semuanya mencari anak-anak mereka saudara atau pun ibu mereka. Sementara para pria sibuk bertempur.”
Fahima Zeidan (lahir 1936): “Orang Yahudi meminta keluarga kami berbaris di dinding dan mereka menembaki kami. Saya terkena tembakan di samping. Sebagian besar kami yang masih anak-anak selamat karena kami sembunyi di balik orangtua kami. Peluru menghantam kepala saudari saya, Kadri, juga saudari saya lainnya, Sameh yang terkena tembakan di leher. Yang lainnya terbunuh. Ada ayah saya, ibu saya, kakek, nenek, paman, tante saya dan beberapa anak mereka.”
Hanna Khalil (lahir 1932): “Saya melihat seorang pria membawa semacam pedang lalu membantai tetangga saya, Jamila Habash dari kepala sampai kakinya. Hal yang sama juga dilakukannya kepada sepupu saya.”
Safiyeh Attiyah (lahir 1907): Menceritakan tentang seorang pria yang tiba-tiba membuka celananya lalu ‘menerkamnya’. “Saya teriak. Wanita lainnya di sekitar saya juga bernasib sama. Mereka kemudian merobek pakaian saya sehingga bisa memegang payudara dan tubuh saya dengan cara yang terlalu mengerikan untuk diceritakan.” … “Beberapa dari pria itu sangat bersemangat mencabut anting-anting kami. Mereka menariki telinga kami agar bisa mengambil anting.”
Mohammad Jaber: “Orang-orang Yahudi masuk ke dalam rumah, meminta semua orang keluar lalu menyuruh berbaris di tembok dan menembaki mereka. Di antara mereka ada salah seorang wanita yang tengah menggendong bayi berusia tiga bulan.”
Halima Eid (lahir 1918): “Saya melihat seorang serdadu menarik saudari saya, Saliha al-Halabi, yang sedang hamil sembilan bulan. Ia menodongkan senjata ke lehernya lalu menghabiskan peluru di tubuhnya. Ia kemudian mengambil pisau lalu merobek perut Saliha untuk mengambil janinnya.”
Abu Hasan (berusia 22 tahun ketika peristiwa itu terjadi): “Orang-orang Yahudi masuk ke setiap rumah dan membunuhi siapa saja yang ada di dalamnya. Kebanyakan orang pergi ke Ein Karem. Jalan keluar melalui Giv’at Shaul sudah diblok selama beberapa bulan. Serangan utama datang dari arah Giv’at Shaul. Pemuda dari Deir Yassin berhasil melakukan perlawan balik dan merusak dua kendaraan Yahudi. Bahkan para penyerang ikut terluka. Namun setelahnya, orang-orang Yahudi itu menyerang dengan kekuatan yang lebih besar. Mereka masuk ke desa dan melakukan pembantaian.”
Muhammad Arif Sammour: “Mereka merobek perut-perut wanita yang mereka temukan. Mereka juga mengambil perhiasan korban dan jika susah mengambilnya, mereka memotong tangan untuk mengambil gelang atau memotong jari untuk mencuri cincin.”
Abu Mahmud (lahir 1927): “Saya berada di desa (Deir Yassin) ketika serangan terjadi. Saya dan kerabat saya berada di sisi Barat desa, berseberangan dengan Al Qastal. Kami memegang senjata. Para penduduk desa, terutama pemudanya sudah siap atas apa pun yang akan terjadi setelah pertempuran Qastal berakhir.”
“Pukul 16.30 pada 8 April 1948, Abdul Qader Husseini dibunuh. Setelah kematiannya, kami melakukan tindakan pencegahan. Kami berjaga-jaga di desa hingga pukul 02.30 pagi ketika orang-orang Yahudi mulai masuk ke desa. Mereka menutup desa ditengah-tengah pertempuran.”
“Setiap kali mereka masuk desa, pertempuran semakin sengit di sisi Timur yang kemudian meluas ke bagian lainnya, seperti ke daerah pertambangan, pusat desa dan akhirnya mencapai sisi Barat. Pertempuran itu terjadi di sisi Timur, Selatan dan Utara.”
“Orang-orang Yahudi menggunakan senjata otomatis, kendaraan lapis baja dan bom. Para pemuda di desa bertempur dengan gagah berani melawan mereka. Pertempuran terjadi hingga pukul 15.30. Kami tidak mendapatkan bantuan atau pun dukungan dari pihak mana pun.”
“Mereka menangkap 40 orang tawanan dari desa dan ketika pertempuran berakhir, mereka membawanya ke daerah tambang lalu membunuhnya. Mereka meminta kami untuk menyerah, untuk membuang senjata kami dan menyelamatkan diri.”
“Kami semula memperkirakan pertempuran itu hanya satu sampai dua jam. Namun nyatanya mereka terus menyerang …. Kami memiliki parit. Orang-orang Yahudi itu mengisi salah satu dari parit itu dengan pasir dan batu agar tank mereka bisa lewat. Ketika kami menyerang tank, mereka mulai menembaki.”
Saya ingat, dari penuturan istri paman saya, paman saya membunuh komandan gerombolan yang menyerang kami. Ia membunuh dari atap rumah. Ia lalu menghilang selama tiga hari. Mereka kemudian menemukannya bersama dengan ibunya yang berasal dari Latakia, Suriah. Ia sengaja dipakaikan baju wanita agar bisa dibawa keluar rumah. Namun ternyata penyamaran ini diketahui dan ia pun dibunuh. Ini menurut cerita istri paman saya.” * (Occupied Palestine | Sahabat Al-Aqsha/MR)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
