Laporan Jacques de Reynier, Kepala Perwakilan Palang Merah Internasional: Dua Hari Sesudah Deir Yassin

11 April 2013, 13:16.

YOGYAKARTA, Kamis (Occupied Palestine): Jacques de Reynier, Kepala Perwakilan Palang Merah Internasional, masuk ke desa Deir Yassin dua hari sesudah pembantaian warga desa Deir Yassin terjadi. Berikut ini kesaksiannya:

“Sabtu, 10 April (1948) sore, saya menerima telepon dari orang Arab yang meminta saya pergi ke Deir Yassin yang penduduk sipilnya baru dibantai. Saya menyadari bahwa kelompok ekstrim Irgun menguasai wilayah itu. Jewish Agency (organisasi zionis Yahudi yang melakukan segala cara untuk berdirinya negara Yahudi di atas tanah Palestina) dan Haganah (gerombolan teroris Yahudi bersenjata) mengatakan mereka tidak tahu menahu soal peristiwa itu dan menurut mereka sulit untuk menembus wilayah Irgun.

Mereka menasihati saya agar tidak terlibat dalam masalah ini karena terlalu berisiko untuk saya. Bukan saja mereka menolak membantu saya, mereka juga tidak mau bertanggung jawab atas semua kemungkinan yang bisa terjadi pada saya.

Tanpa dukungan Yahudi rasanya mustahil untuk bisa mencapai desa. Setelah berpikir, tiba-tiba saya teringat seorang suster Yahudi dari sebuah rumah sakit. Dengan wajah penuh misteri, dulu ia mengatakan bahwa saya bisa menghubunginya jika ada masalah.

Saya lalu menghubunginya di suatu sore dan menceritakan semua situasinya. Ia kemudian meminta saya bertemu di lokasi yang telah ditentukan keesokan harinya pada pukul tujuh pagi.

Keesokan harinya di lokasi yang telah disepakati, seseorang dengan pakaian sipil namun mengantongi senjata, masuk ke mobil saya dan meminta saya untuk terus menyupir tanpa berhenti. Sesuai permintaan saya, ia setuju untuk menunjukkan jalan menuju Deir Yassin namun ia mengatakan ia tidak bisa berbuat banyak untuk saya.

Kami berjalan keluar Yerusalem, meninggalkan jalan utama, pos pemeriksaan militer dan kami menyeberang jalan. Tak lama, dua orang serdadu menghentikan kami. Mereka membawa senjata dan pedang yang diselipkan di sabuknya. Salah seorang mereka berkata bahwa ia senang melihat perwakilan Palang Merah Internasional.

Ia mengatakan pernah menjadi tahanan di sebuah kamp khusus Yahudi di Jerman. Dan ia berutang nyawa karena telah dibantu oleh Palang Merah Internasional. Ia menganggap saya lebih dari saudaranya sendiri dan dia bersedia melakukan apa pun yang saya minta. Akhirnya kami bisa masuk ke Deir Yassin.

Setelah mencapai bukit yang jaraknya 500 meter dari desa, kami harus menunggu lama untuk mendapatkan izin masuk. Orang-orang Arab langsung menembak setiap orang yang mencoba menyeberang jalan dan Komandan Detasemen Irgun sepertinya enggan melepas saya.

Akhirnya ia tiba, masih muda, dengan penampilan yang sempurna namun sorot matanya aneh, terasa kejam dan dingin. Saya jelaskan misi saya kepadanya yang tidak ada hubungannya dengan seorang hakim atau pun pihak legal manapun.

Saya jelaskan kalau saya hanya ingin membantu korban terluka dan mengembalikan korban yang tewas. Selain itu, Yahudi telah menandatangani perjanjian untuk menghormati Konvensi Jenewa dan misi saya adalah resmi. Pernyataan saya yang terakhir ini membuatnya marah. Ia lalu meminta saya mempertimbangkan kembali dan mengatakan bahwa di wilayah itu Irgun yang memegang kekuasaan, bukan pihak lain atau bahkan bukan Jewish Agency.

Pemandu saya mendengar suara yang meninggi dari pejabat Yahudi itu. Ia lalu menceritakan tentang desa berpenduduk sekitar 400 orang Arab itu. Ia mengatakan bahwa para penduduk di sana tidak bersenjata dan hidup rukun dengan koloni-koloni Yahudi yang mengelilinginya.

Menurut pengakuannya,  Irgun tiba 24 jam sebelum kejadian dan meminta dengan pengeras suara kepada para penduduk agar meninggalkan rumah mereka dan menyerah. Ada jeda 15 menit dari perintah itu. Beberapa dari penduduk desa, dengan muka tidak senang lalu keluar.

Tapi banyak yang tidak mempedulikan perintah itu dan akhirnya dibantai. Tapi satu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan adalah hanya ada sedikit korban tewas yang langsung dimakamkan setelah ‘pembersihan desa’ selesai.

Kisah ini membuat saya merinding. Saya kembali ke Yerusalem untuk mencari ambulans dan sebuah truk.

Saya lalu tiba kembali bersama rombongan ke desa itu. Pasukan Yahudi memakai seragam dan helm. Semua orang-orang muda dan bahkan remaja, pria wanita bersenjata lengkap: pistol, senapan mesin, granat, pedang pendek yang besar dan mereka masih berdarah-darah.

Seorang anak perempuan muda dengan mata kriminal menunjukkan darahnya yang masih menetes. Ia menunjukkannya seperti sebuah piala kemenangan. Tim ‘pembersihan’ ini tentunya telah menyelesaikan tugas mereka dengan sangat teliti.

Saya mencoba memasuki sebuah bangunan. Sekitar sepuluh serdadu mengepung saya dengan senapan yang diarahkan ke saya. Seorang petugas melarang saya untuk bergerak.

“Mereka hendak membawa tubuh korban tewas yang ada di sana,” kata dia. Saya lalu merasa sangat marah dan mengatakan kepada para kriminal ini apa yang saya pikirkan tentang tindakan mereka.

Saya mengancam mereka dan saya menyingkirkan orang-orang yang menghalangi saya. Saya lalu masuk ke gedung itu. Ruangan pertama gelap gulita dan kosong. Pada ruangan ke dua, di antara segala macam puing-puing, saya menemukan beberapa mayat dingin.  Di tempat ini mereka dibunuh dengan senapan lalu dengan granat dan terakhir dengan pisau.

Sebagian jenazah Muslimin desa Deir Yassin yang dibantai gerombolan Yahudi Zionis bernama Irgun, April 1948, sebulan sebelum berdirinya negara palsu bernama ‘israel’. foto: Religion News

Hal sama juga terlihat di kamar berikutnya. Namun ketika saya hendak pergi, saya mendengar rintihan. Saya lalu mencari sumber suara itu, memindahkan beberapa mayat dan akhirnya saya menemukan kaki miliki anak perempuan berusia sepuluh tahun. Ia terkena granat tapi masih hidup. Saya ingin membawanya tapi orang yang ada di situ melarang saya.

Saya mendorongnya ke samping dan meninggalkan semua perlengkapan berharga saya yang dilindungi oleh pemandu saya yang berani.

Ambulans yang sudah penuh diperintahkan untuk kembali sesegera mungkin. Dan karena pasukan ini belum berani menyerang saya secara langsung, masih ada peluang untuk melanjutkan pemindahan korban ini.

Saya memerintahkan untuk membawa mayat-mayat dari rumah ke dalam truk. Kemudian saya bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya. Di setiap tempat, saya mendapati hal mengerikan yang serupa.

Saya hanya menemukan dua orang yang masih hidup, dua wanita dan salah satunya adalah seorang nenek yang bersembunyi dibalik perapian dimana ia tidak bergerak selama sekitar 24 jam.

Ada sebanyak 400 orang di desa itu. Sekitar 50 orang di antaranya pergi, tiga dari mereka masih hidup namun sisanya sudah dibantai sesuai perintah. Yang saya perhatikan, pasukan ini sangat disiplin dan hanya bertindak sesuai perintah.

Saya kemudian pergi untuk menemui orang-orang Arab. Saya tidak mengatakan apa yang sudah saya lihat sebelumnya. Saya hanya menanyakan apa yang harus saya lakukan atau kemana saya harus membawa mayat-mayat dari desa.

Mereka meminta saya untuk mencari sebuah kuburan yang layak yang bisa dikenali. Saya berjanji akan melakukannya dan saya kembali ke Deir Yassin. Di sana saya menemukan orang-orang Irgun dengan suasana hati yang buruk. Mereka melarang saya mendekati desa. Saya melihat jumlah mayat yang sudah dibaringkan di jalan utama. Saya menuntut dengan tegas agar mereka melakukan pemakaman.

Setelah berdebat, mereka mulai mencangkul kuburan massal di sebuah taman kecil. Sangat mustahil untuk mengidentifikasi mayat-mayat itu tapi saya berusaha secara akurat menuliskan deskripsi mereka juga dengan perkiraan umur.

Dua hari setelahnya, gerombolan Irgun menghilang dari lokasi kejadian dan Haganah mengambil alih.

Kembali ke kantor saya, saya menemukan dua pria berpakaian sipil. Mereka berpakaian sangat rapi. Kedua orang itu ternyata komandan Irgun dan ajudannya. Mereka telah menyiapkan sebuah surat pernyataan dan meminta saya menandatanganinya.

Pernyataan itu menyebutkan, mereka telah menerima saya dengan sopan, bahwa saya telah dibantu untuk menyelesaikan misi saya dan saya berterima kasih atas bantuan mereka. Saya melihat pernyataan itu dengan ragu-ragu. Dan mereka mengatakan bahwa jika saya masih peduli dengan nyawa saya, sebaiknya saya segera menandatangani pernyataan itu.

Saya menolak menandatangani. Beberapa hari sesudahnya di Tel Aviv, saya didekati oleh dua orang yang sama yang meminta Palang Merah Internasional untuk membantu gerombolan Irgun.* (Occupied Palestine | MR/SahabatAlAqsha.com)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kesaksian-kesaksian dari Deir Yassin
110 Keluarga Pengungsi Palestina Mengungsi (lagi) dari Suriah ke Gaza »