Ratusan Anak Gaza Dilarang Jenguk Ayahnya di Penjara

13 April 2013, 07:00.

Seorang balita Palestina dibawa orang tuanya berunjuk rasa mendukung para tawanan di penjara zionis. Anak-anak Palestina dilarang menjenguk ayahnya sendiri di penjara selama bertahun-tahun tanpa alasan. foto: Demotix

YOGYAKARTA, Sabtu (Electronic Intifada):

oleh Joe Catron, relawan yang sedang bekerja di Gaza

“Aku rindu ayah,” ujar Hamzah Helles, 8, di rumahnya di kota Gaza. “Aku sangat rindu dan ingin sekali ketemu. Sudah lima aku tak bertemu dengannya.”

Hamzah satu dari dua anak laki-laki Majed Khalil Helles, seorang pejuang Fatah yang ditangkap pasukan zionis pada 8 Agustus 2008 dan dijatuhi hukuman penjara lima tahun di penjara Nafha. Sekitar 14 bulan sebelum ia ditahan, zionis ‘israel’ melarang kunjungan keluarga bagi para tawanan politik Palestina dari Jalur Gaza.

Larangan itu menimbulkan kritik dan organisasi advokat tahanan, Addameer menganggapnya sebagai tindakan ilegal dari hukuman kolektif. “Apa yang diterapkan ‘israel’ telah dikecam banyak pihak. Oleh Palestina, Organisasi HAM ‘israel’, Komite Internasional Palang Merah serta Misi Pencari Fakta PBB pada serangan zionis di Jalur Gaza 2008-2009,” sebut Addameer.

Bertepatan dengan Hari Tawanan Politik Palestina, pada 17 April 2012, para tawanan meluncurkan aksi mogok makan massal selama 28 hari. Salah satu tuntutan para tawanan dalam aksi protes itu adalah mengizinkan kunjungan keluarga bagi tahanan dari Jalur Gaza.

Unjuk rasa itu berakhir 14 Mei tahun lalu dengan tercapainya kesepakatan bahwa para tahanan dari Jalur Gaza boleh menerima kunjungan keluarga dengan syarat tertentu. Pihak keluarga tawanan dari Tepi Barat yang telah ditolak permintaan kunjungannya karena alasan ‘keamanan’ akan ditinjau kembali dalam waktu satu bulan oleh ‘israel’, dengan ketentuan.

Kunjungan keluarga bagi tawanan dari Jalur Gaza ini ada syaratnya. Para tahanan hanya boleh dikunjungi oleh pasangannya dan orangtua. Sementara anak-anaknya tetap dilarang mengunjungi orangtua mereka yang ditahan.

Perjalanan Menuju Kematian

“Militer ‘israel’ memperlakukan kami dengan buruk sepanjang perjalanan,” ujar Narmine Baker Helles, istri Majed Khalil Helles. Ia melanjutkan, “Keluarga tawanan menyebutnya sebagai ‘perjalanan menuju kematian’. Namun yang terburuk adalah anak kami tidak pernah bisa mengunjungi ayahnya. Mereka selalu minta untuk bertemu tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya tergantung orang-orang ‘israel’.”

Saat ini zionis ‘israel’ menahan 437 orang dari Jalur Gaza. Asosiasi Hussam, sebuah organisasi lokal untuk tawanan dan mantan tawanan memperkirakan, 60% dari tawanan itu berstatus menikah. “Dengan terus melarang anak-anak mengunjungi orangtuanya di penjara ‘israel’, akan ada dampak psikologis serius pada anak-anak. Dan ini bisa menimbulkan dampak negatif dan menganggu psikologis tahanan itu sendiri,” sebut Hussam dalam sebuah pernyataan awal tahun ini.

Hussam menyerukan organisasi pemerhati hak azasi anak-anak agar menekan penjajah zionis untuk mengizinkan anak-anak tawanan dari Jalur Gaza bisa berkunjung ke penjara.

“Ada beberapa syarat yang ditetapkan ‘israel’ dalam program kunjungan tawanan yang baru,” ujar Reem Yousef Miqdad yang suaminya disekap di penjara zionis. “Salah satunya adalah hanya pasangan dari tahanan dan orangtuanya yang boleh datang berkunjung. Padahal kebanyakan dari orangtua tahanan sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Dan tahanan yang belum menikah tidak memiliki kerabat yang boleh datang mengunjunginya.”

Suami Reem, Yousef Mustafa Miqdad yang merupakan seorang pemimpin Brigade Syuhada Al-Aqsha ditangkap pasukan zionis dalam serangan November 2002 di rumahnya di kota Gaza. “Misi serangan itu hanyalah untuk menangkapnya. Orang-orang ‘israel’ bersuka cita ketika berhasil menangkapnya,” ujar saudara Miqdad, Ghazi Miqdad.

Mereka Hancurkan Semua

Seperti keempat saudara kandungnya, Yousef dan Mustafa, bocah berusia 12 tahun, tidak bisa bertemu dengan ayahnya yang dijatuhi hukuman 21 tahun di penjara Nafha sejak diberlakukannya larangan kunjungan keluarga pada Juni 2007. “Dulu saya biasanya mengunjungi ayah saya bersama ibu. Kami ke sana setiap dua minggu.”

“Tidak banyak yang saya ingat dari ayah saya. Tapi saya ingat betul bagaimana mereka menangkapnya. Mereka menyerang wilayah yang menjadi sasaran lalu membom gerbang utama rumah dan turun dari helikopter. Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan mulai menghancurkan segalanya.” Selama serangan itu, anjing-anjing militer zionis menyerang ayahnya. “Kejadian itu masih tertanam dalam benak saya. Kami tidak akan pernah melupakannya,” imbuh dia.

“Sebelumnya, ketika kami hendak berkunjung ke penjara, anak-anak kami tidak mau ikut karena panjangnya waktu perjalanan dan banyak rintangan. Tapi sekarang mereka berharap bisa berkunjung,” ujar Reem.

Para penduduk Gaza yang dibolehkan zionis untuk mengunjungi keluarganya di penjara kerap menghadapi berbagai kendala. Moratorium tiga minggu yang diberlakukan saat hari libur Yahudi baru berakhir. Sementara larangan kunjungan selama satu bulan untuk semua tahanan di penjara Ramon sampai sekarang masih diberlakukan sebagai ‘hukuman’ atas aksi mogok makan massal yang dilakukan para tahanan untuk memprotes pelanggaran-pelanggaran zionis pada kesepakatan 14 Mei 2012.

Setiap hari Senin, banyak keluarga tahanan yang berunjuk rasa di depan kantor pusat Komite Internasional Palang Merah Jalur Gaza. Nasser Farrah, salah seorang pengatur unjuk rasa mengatakan bahwa pada tahun 2011 massa yang berunjuk rasa, “bisa masuk ke dalam Guinness book of records sebagai unjuk rasa terpanjang di dunia.”

“Setiap hari Senin selama 4,5 jam saya pergi ke Palang Merah,” ujar Nihaya Hassanat. Suaminya, Jaber Hassan Hassanat adalah seorang pejuang untuk Front Demokrasi Brigade Kebebasan Palestina yang ditangkap pasukan zionis pada 21 Desember 2008. Ia dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun di penjara Ramon. “Saya merasa unjuk rasa ini tidak membuahkan hasil. Tapi saya berharap suami saya suatu saat dapat melihat saya di media, walaupun aksi unjuk rasa ini jarang diliput.”

“Kami biasanya berpartisipasi. Tapi karena saya bekerja jadi saya tidak bisa selalu ikut. Tapi saudaranya dan anak laki-lakinya biasanya bergabung dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas. Tapi tidak ada peningkatan dari unjuk rasa solidaritas terhadap para tahanan ini,” ujar  Reem Yousef Miqdad.

Saya Sangat Merindukannya

Banyak anak para tawanan yang sangat bersemangat menceritakan kegiatan mereka untuk mendukung orangtuanya. “Saya tidak bisa bergabung pada hari Senin karena harus sekolah. Tapi saya berpartisipasi dalam semua aktivitas lainnya yang diselenggarakan untuk para tahanan, seperti Hari Tawanan dan semua program untuk tahanan di sekolah,” ujar Mustafa.

“Saya selalu berdoga supaya ayah segera bebaas karena saya sangat rindu,” ujar anak Jaber Hassan Hassanat yang baru berusia lima tahun, Wiam. “Kami tidak perlu hal lain di dunia ini. Kami cuma ingin bertemu dengannya,” imbuhnya.

“Waktu saya dibolehkan mengunjungi suami, saya bangun pagi sekali lalu diam-diam pergi meninggalkan anak-anak. Karena saya tahu mereka pasti akan memaksa ikut bersama saya,” kata Nihaya Hassanat. “Ketika saya memberitahu Wiam akan mengunjungi ayahnya, ia tidak akan membiarkan saya pergi sendiri. Ia minta ikut. Ia belum faham kalau ia tidak dibolehkan oleh zionis. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.* (MR/ Sahabat al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Sudah Hampir Seminggu Zionis Cegah Seribu Truk Makanan Masuk Gaza
Karena Berunjuk Rasa, Tawanan Palestina Dilarang Cukur dan Cuci Pakaian »