Desa Tuba: Cara Lain Usir Warga Palestina, Tutup Semua Akses Air
16 April 2013, 07:05.

Seorang lelaki desa Tuba memandangi tanah kelahiran dan tempat tinggalnya yang pelan-pelan diubah jadi tempat yang tak layak tinggal tanpa air, oleh penjajah zionis. foto: Pal Solidarity
YOGYAKARTA, Selasa (Maan News):
oleh Charlie Hoyle
“Kehidupan di sini sangat sulit tapi saya tidak akan meninggalkan desa,” ujar Zahira al-Jundi. Meskipun curah hujan tinggi turun di Selatan bukit Hebron, sekitar 145 penduduk Tuba setiap harinya menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk bertahan hidup.
Seperti 70% komunitas Palestina di area C Tepi Barat (lokasi yang sebagian besarnya dikuasai zionis ‘israel’), wilayah Tuba tidak terhubung dengan jaringan air. Setiap minggunya warga diberi harapan dengan kedatangan tank-tank air ke wilayah tersebut namun itu hanyalah sementara untuk mengurangi dampak kemanusiaan akut akibat kekurangan air.
Tuba berada di atas lahan seluas 30.000 dunum (satu dunum setara dengan seribu meter persegi) yang oleh ‘israel’ dibuat seakan-akan menjadi wilayah militer tertutup sehingga segala konstruksi dilarang di sana. Para penduduknya tinggal di gua-gua dan tenda. Mereka sepenuhnya bergantung pada waduk dan tank-tank air untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kondisi di tempat ini sama seperti situasi habis bencana, seperti gempa bumi atau tsunami,” ujar petugas advokasi EWASH, Alex Abu Ata kepada Maan News.
“Para korban bencana alam biasanya terpaksa tinggal di tenda-tenda dan memiliki akses terbatas terhadap air dan makanan. Kebutuhan mereka dipenuhi dari bantuan-bantuan,” imbuhnya. LSM internasional mencoba membangun proyek-proyek kemanusiaan di Selatan bukit Hebron namun zionis ‘israel’ tidak mengizinkan pembangunan jangka panjang untuk infrastruktur perairan.
Antara tahun 2009 dan 2011, militer zionis menghancurkan 173 akses air, sanitasi dan struktur kebersihan di Tepi Barat, termasuk 40 sumur, 57 sarana pengumpul air hujan dan sekitar 20 toilet. Pada 2012, puluhan badan internasional meminta ‘israel’ berhenti menghancurkan waduk di Area C. Mereka menyebut penghancuran yang dilakukan ‘israel’ sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum kemanusiaan internasional. “Jika komunitas di Area C diizinkan untuk membangun infrastruktur, mereka pasti bisa punya akses air, seperti halnya permukiman-permukiman ilegal Yahudi yang ada di dekatnya,” terang Abu Ata.
Perusahaan air ‘israel’, Mekorot telah membangun jalur pipa di Selatan bukit Hebron untuk memenuhi kebutuhan permukiman ilegal Yahudi, pos-pos pemeriksaan dan industri perkebunannya. Namun semua desa Palestina, terkecuali al-Tuwani tidak diizinkan memanfaatkan fasilitas itu.
“Kebijakan ‘israel’ di Tepi Barat pada dasarnya untuk mengusir penduduk Palestina dari Area C. Penghancuran infrastruktur perairan adalah salah satu caranya, termasuk juga dengan pelecehan, tekanan terhadap masyarakat yang tidak berdaya dan miskin. Semuanya dalam rangka utuk mengusir mereka,” papar Abu Ata.
Perbedaan konsumsi air antara warga Palestina dan ‘israel’ di Tepi Barat sangat lebar. EWASH memperkirakan sekitar 9.400 pemukim ilegal Yahudi di Lembah Yordan menikmati alokasi air hampir sepertiga dari konsumsi keseluruhan 2,5 juta populasi Palestina. Orang-orang ‘israel’ leluasa mengakses 300 liter air per hari.
Sementara warga Palestina di Selatan bukit Hebron, rata-rata hanya mampu mengakses 10-60 liter air per hari. Padahal menurut Badan Kesehatan Dunia, kebutuhan minimum air untuk sanitasi, kebersihan dan minum harus mencapai seratus liter per hari.
Sekitar sepuluh kilometer dari Selatan Tuba, desa Imneizil juga menghadapi masalah serupa. Beberapa dari 14 waduk yang dibangun LSM internasional dikabarkan akan dihancurkan zionis. Panel surya yang memasok listrik untuk menjalankan pompa tanki air akan dihancurkan. Dan pembangunan fasilitasi sanitasi untuk anak laki-laki tidak boleh dilanjutkan sejak 2012. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap 500 penduduk yang ada di sana.
Lokasi terdekat untuk mengisi air dari Imneizil jaraknya lebih dari 12 kilometer. Ini, ujar Shamistis—salah seorang penduduk, berarti jika waduk di desa dihancurkan, para penduduk akan menghadapi dampak fisik dan ekonomi yang besar untuk bisa memenuhi kebutuhan air. “Air adalah kebutuhan dasar yang penting. Dan air jugalah yang menjadi cara untuk mengusir kami dari area ini,” ujarnya.
Dengan biaya mengisi air di tank antara US$8-US$12 per meter kubik dan menurunnya intensitas air hujan yang bisa dikumpulkan, komunitas ini tidak memiliki banyak pilihan selain pindah jika perintah penghancuran infrastruktur benar-benar dilakukan.
“Sebenarnya solusinya sederhana. Sekitar satu kilometer dari Tuba dan Imneizil sini ada permukiman ilegal Yahudi. Tapi kami tidak diizinkan untuk terhubung dengan jaringan airnya,” imbuh dia.
Fadwa Baroud, pejabat informasi di Komisi Eropa mengatakan, masyarakat di Area C saat ini berada dalam risiko “pindah secara paksa” akibat sulitnya izin dari ‘israel’ untuk pembangunan fasilitas perairan.
Namun menurut salah satu penduduk Tuba, Ibrahim al-Jundi, “Apa pun yang mereka coba lakukan, kami akan tetap tinggal di sini. Ini tempat kami dibesarkan dan kami tidak memiliki tempat lain untuk pergi.”* (MR/ Sahabat al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
