Tujuh Aparat Mesir Dibebaskan, Rafah Dibuka

22 May 2013, 15:25.

YOGYAKARTA, Rabu (SahabatAlAqsha.com): Telefon itu melegakan. “Alhamdulillah pintu Rafah sudah dibuka,” demikian Abu Ahmad Direktur Al-Sarraa Foundation mengabarkan dua jam yang lalu.

Lalu kantor-kantor berita melaporkan, ketujuh aparat keamanan Mesir yang diculik sejak Kamis lalu di Semenanjung Sinai telah dibebaskan.

Ketujuh pria itu diculik dari beberapa minibus di Sinai Utara, sebelah timur kota Al-Arish.

Di halaman sebuah media sosial internet, seorang jurubicara resmi angkatan bersenjata Mesir mengumumkan, pembebasan itu berkat “usaha-usaha intelijen militer” dan kerja sama dengan para pemimpin suku badui setempat.

Jurubicara AB Mesir Kolonel Ahmed Ali mengatakan ketujuh anggota aparat keamanan itu kini dalam perjalanan ke Kairo.

AB Mesir melancarkan sweeping di kawasan Sinai Utara sepanjang hari Selasa.

Hari Senin, Presiden Muhammad Mursi menolak berunding dengan para penculik, mengatakan bahwa “tak ada tempat untuk dialog dengan penjahat”.

Penculikan telah memicu kemarahan para polisi perbatasan Mesir dan sejak Jum’at melakukan pemogokan dan menutup satu-satunya pintu perbatasan Gaza dengan Mesir.

Sampa saat ini identitas para penculik tidak jelas.

Sebelum ini telah terjadi penculikan terhadap wisatawan atau orang luar Mesir di kawasan ini.

Seorang warga Badui di perbatasan Rafah baru-baru ini mengatakan kepada Sahabat Al-Aqsha, “Selama pemerintahan rezim Husni Mobarak, orang Badui Sinai diperlakukan secara hina. Seperti tidak dianggap manusia. Sekarang aparat keamanan dan polisi lebih memanusiakan kami.”

Warga Badui Sinai beberapa kali melakukan penculikan untuk menekan aparat membebaskan anggota keluarganya yang dianggap “dipenjara secara tidak adil”.* (Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Setelah ‘Minta Maaf’ kepada Turki, Begini Kelakuan Zionis
Ada Apa Saat Ini Tim Sahabat Al-Aqsha di Gaza? »