Menteri Swedia: ‘Ya, Memang Kami Membiayai Penjajahan’
16 June 2013, 12:06.
YOGYAKARTA, Ahad (Electronic Intifada):
oleh Rana Bakar
* Mahasiswa Universitas Islam Gaza Jurusan Administrasi Bisnis
Pada hari Senin, bersama dengan beberapa pemuda Palestina, saya diundang untuk bertemu dengan Menteri Kerjasama Pembangunan Intenasional Swedia, Gunilla Carlsson. Kami bertemu di sebuah restoran bagus yang menghadap ke laut di kota Gaza.
Meski Carlsson datang tepat waktu, kami tidak bisa memulai sampai beberapa pejabat Swedia lainnya dan seorang wartawan bergabung bersama kami sekitar lima sampai sepuluh menit setelahnya.
Kami di sana berdiskusi tentang apa yang bisa dilakukan Uni Eropa untuk para pemuda Gaza yang hidup di bawah penjajahan ‘israel’.
Meski saya yakin diskusi ini sia-sia, tapi saya tetap tertarik memenuhi undangan ini karena selalu lucu mendengar kemunafikan secara langsung.
Carlsson yang berbalut pakaian bordir tradisional Palestina membuka diskusi dengan mengatakan bahwa warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat harus ‘menjadi satu’.
Ia mengatakan dengan sedikit menyeringai bahwa warga di Tepi Barat kerap menyebut dirinya sebagai “Orang Tepi Barat” seperti juga penduduk Gaza yang mengatakan bahwa dirinya “Orang Gaza” (bukan “Orang Palestina”-red).
Dalam pernyataannya itu, ia sama sekali tidak menyinggung kebijakan apartheid ‘israel’ terhadap warga Palestina.
Kami mengatakan kepadanya bahwa menyatukan warga Palestina secara fisik adalah hal yang mustahil karena adanya pos pemeriksaan Erez yang dikendalikan ‘israel’ untuk warga Palestina.
Carlsson mengangguk-angguk. Ia lalu menyalahkan Hamas karena merusak kegiatan budaya dan aktivitas para pemuda. Pernyataannya menyiratkan bahwa kalau bukan karena pemerintahan Hamas, Gaza pasti akan berkembang.
Saya menjelaskan kepada Carlsson bahwa ‘israel’ adalah aktor utama dalam penghancuran kehidupan sosial dan budaya di Jalur Gaza.
Saya juga mencontohkan Festival Sastra Palestina di Gaza baru-baru ini dimana anggota pemuda Hamas dan bahkan beberapa pejabat tinggi hadir dalam acara itu serta berpartisipasi seperti kebanyakan hadirin.
Melihat di antara kami tidak ada yang setuju dengan pembelaannya terhadap ‘israel’, Carlsson lalu bertanya, “Jadi menurutmu kami harus berbicara dengan Hamas?”
Tapi sebelum kami sempat menjawab, ia menambahkan, “Tapi kamu tahu kebijakan kami di Uni Eropa. Kami harus menunggu sampai pemilu Palestina digelar.” “Selamat menunggu,” ujar seorang blogger dan salah satu pendiri forum budaya Diwan Ghazza, Yasmeen El-Khoudary.
Jawaban ini tidak membuat Carlsson terkesan. “Jadi menurutmu apa yang bisa kami lakukan di Uni Eropa untuk membantu?”
Di sini percakapan mulai memanas. Carlsson jelas berharap kami untuk memintanya melawan Islamisasi di Jalur Gaza. “Kamu dapat berbuat banyak,” kata saya. “Uni Eropa memiliki pengaruh atas ‘israel’ tapi hanya tidak tertarik.”
Ketika saya bicara, Carlsson memalingkan wajahnya lalu bicara dengan pelayan dan seorang pejabat Swedia. Ia tidak mempedulikan ucapan saya. Saya kembali bicara dengan suara lebih keras.
“Contohnya, Uni Eropa memutuskan bahwa produk-produk yang dihasilkan dari permukiman ilegal Yahudi akan ditandai tapi ini akan membutuhkan waktu lama. Uni Eropa juga malah meningkatkan hubungan dagang dengan ‘israel’ tahun lalu.”
Carlsson masih tidak mempedulikan pernyataan saya. Di antara perbincangannya dengan pelayan dan seorang pejabat Swedia, dia hanya mengangguk-angguk. Dia lebih mendengarkan apa yang tengah dikatakan dalam suara pelan oleh pejabat Swedia itu. Seorang blogger dan aktivis HAM, Sameeha Elwan juga mengkritik kebijakan Uni Eropa dan standar ganda mereka.
Akhirnya Carlsson bicara. “Ya, kami memang membiayai penjajahan. Kalian bisa menyalahkan kami,” kata dia akhirnya. Saya melanjutkan, “Saya bisa meminta Anda untuk membiaya proyek-proyek budaya tapi ini tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang disebabkan oleh penjajahan ‘israel’.”
Carlsson terlihat gelisah dan sekali lagi ia tidak mempedulikan ucapan saya. Ia lalu bicara dengan pejabat Swedia yang sama tadi. Tak lama ia kemudian memotong ucapan saya dan mengatakan bahwa ia sedang terlambat dan harus pergi ke pertemuan lainnya.
Sehari setelah pertemuan kami di restoran itu, Carlsson bertemu dengan Menteri Keungan ‘israel’ yang antiPalestina, Yair Lapid. Dalam akun Twitter-nya, Carlsson mengatakan pertemuan itu sebagai pertemuan yang baik. Tentu saja, pertemuan itu bukan untuk membicarakan aksi pengumpulan pajak yang dilakukan ‘israel’ mewakili Otoritas Palestina.
Carlsson yang tanpa malu bertemu dengan politisi ‘israel’ yang terlibat dalam kejahatan perang dan penjajahan brutal serta berdarah-darah terhadap rakyat Palestina, datang ke Gaza melalui penyeberangan Erez, dan berani-beraninya mengkritik Hamas dan mengatakan bahwa kemerdekaan Palestina tidak akan tercapai tanpa kebijakan imperialis Uni Eropa serta pro’israel’.
Kemunafikan Carlsson bukan hanya itu saja. Pada 14 Juni lalu, ia mengancam akan menghentikan bantuan keuangan untuk Otoritas Palestina karena pembicaraan perdamaian dengan ‘israel’ tidak berlanjut.
Yang juga memuakkan adalah Carlsson tidak melayangkan ancaman serupa kepada ‘israel’ yang tanpa henti mencuri lahan-lahan rakyat Palestina dan melakukan kolonisasi di Tepi Barat. Dua hal ini adalah penghambat proses perdamaian.
Carlsson yang gagal mengkritisi kebijakan perluasan permukiman ilegal Yahudi malah memuji kepala negosiator ‘israel’ Yitzhak Molcho yang disebutnya ‘sangat berkomitmen’, ‘serius’, dan ‘tertarik pada perdamaian’. Pertemuan kami hari itu menegaskan bahwa kebebasan, akhir dari rasisme, kelaparan dan kemiskinan tidak akan datang dari politisi bermuka dua yang tidak sopan seperti Gunilla Carlsson.* (MR/ Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Menteri Swedia Gunilla Carlsson (kiri) dan Menteri Keuangan Zionis Yair Lapid. foto: Khusus
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
