The Australian: Bekas-bekas Serdadu Zionis Bongkar Kezhaliman Penjajahan
28 August 2013, 13:33.

Serdadu zionis todongkan senjata ke arah anak-anak Palestina yang ingin bersekolah. foto: The Age
YOGYAKARTA, Rabu (The Australian): Semakin hari semakin banyak bekas serdadu zionis yang bekerja sukarela menyebarluaskan informasi tentang kezhaliman penjajah zionis. Diantaranya yang tergabung dengan Breaking the Silence (BTS), sebuah organisasi yang beranggotakan lebih dari 800 veteran serdadu ‘israel’ dan pegawai yang bergabung di IDF sejak tahun 2000. Mereka di-bully habis-habisan karena mengungkapkan jejak-jejak kezhaliman penjajah ‘israel’.
Dalam rencana tur promosi buku ke Amerika Serikat bulan depan, mantan penerjun payung angkatan bersenjata penjajah zionis dan aktivis BTS, Avner Gvaryahu, 28 akan menyampaikan laporan berbagai kesaksian serdadu-serdadu ‘israel’ dari wilayah Palestina yang diduduki periode 2000-2010.
Kesaksian mereka mereka menggambarkan kezhaliman ‘israel’ di Tepi Barat, yang dalam bahasa Gvaryahu “kebijakan pemisahan yang ekstrim”. Gvaryahu juga akan memaparkan bagaimana pemukim ilegal Yahudi ikut dalam membuat berbagai peraturan apartheid yang meninggikan status orang Yahudi dan merendahkan warga Palestina.
Gvaryahu yang bertugas di wilayah Palestina sampai 2007 mengatakan, “Hubungan antara militer dan pimpinan-pimpinan pemukiman ilegal Yahudi sangat luar biasa. Saya pernah dikirim untuk melindungi pemukiman yang tidak sah dan orang-orang di sana memberi saya perintah tentang siapa yang bisa saya tembak. Mereka bukan petugas atau pun komandan saya.”
“Kami memiliki kesaksian dari penjaga daerah yang menangkapi orang-orang Palestina, menutup mata dan mengikat tangan mereka. Mereka bukan tentara.”
BTS pernah melakukan tur ke kota Hebron, satu-satunya daerah dengan hanya sebuah pemukiman ilegal Yahudi di tengah-tengahnya. Berjalan menyusuri Hebron yang dikontrol oleh ‘israel’, tempat-tempat suci umat Muslim dan Yahudi, rasanya seperti melewati kota hantu. Serdadu berpatroli di jalan-jalan untuk melindungi para pemukim ilegal Yahudi.
Pada 1997, Hebron terbagi ke dalam dua sektor, yaitu H1 yang berada di bawah yurisdiksi Otorita Palestina dan H2 yang dikontrol oleh ‘israel’. Sekitar 40% dari warga Palestina yang tinggal di wilayah H2 telah diusir sementara 20.000 orang sisanya dilarang masuk ke jalan-jalan utama. Pada sebuah museum, Noam Arnon, juru bicara orang Yahudi di Hebron memajang foto pembunuhan orang-orang Yahudi dan pembantaian tahun 1929 oleh orang Arab yang berusaha mengusir Yahudi.
Sementara itu, aktivis HAM Palestina, Issa Amro yang sering diancam akan dibunuh oleh pemukim ilegal Yahudi, berbicara tentang usaha-usaha ‘israel’ menyingkirkan orang Palestina. “Hari Sabbat (hari raya Yahudi) adalah mimpi buruk saya. Mereka membakar rumah kami, para pemukim Yahudi menjadi liar saat Sabbat. Saya mengatakan kepada salah seorang dari mereka apa hal ini diizinkan agama kalian dalam Sabbat dan mereka mengatakan, ‘Jika hal ini dilakukan untuk melawan kamu, ini diizinkan’.”
Adam Ragson, 22, mengatakan, “Tur ini membuka mata saya atas perilaku tidak bermoral dan keburukan darurat militer di Tepi Barat. ‘Israel’ bertanggung jawab atas pelanggaran serius HAM yang tidak mewujudkan nilai-nilai dasar Yahudi yang saya pelajari pada pendidikan Yahudi saya.”
BTS menantang klaim ‘israel’ tentang kebijakan pertahanannya yang katanya dilakukan untuk menjaga warga sipil ‘israel’. Gvaryahu tidak menganggapnya demikian.
Serdadu Tua
“Mereka menyebut saya pengkhianat,” ujar Roni Hammermann, 73, seorang relawan ‘israel’ dari Machsom (Checkpoint) Watch, organisasi yang memonitor pos-pos pemeriksaan ‘israel’ di Tepi Barat.
Secara berkala organisasi ini melaporkan berbagai kejahatan serdadu ‘israel’ kepada antrian warga Palestina di pos pemeriksaan militer terbesar Qalandiya yang berada di antara Yerusalem Utara dan Ramallah.
Hanya mereka yang memiliki izin, dapat melewati pos pemeriksaan untuk alasan bekerja, perawatan medis, pendidikan atau bahkan beribadah. Karena dianggap membawa risiko keamanan, sejumlah pemuda berusia antara 16-35 tahun tidak bisa masuk. Di dekatnya, pemukiman-pemukiman ilegal Yahudi baru berada di balik tembok apartheid ‘israel’.
Tembok apartheid merupakan sebuah rangkaian tembok setinggi 8-10 meter yang merentang sejak tahun 2002. Kini tembok ini memisahkan rumah-rumah warga Palestina dengan tempat kerja, sekolah, rumah sakit, kebun, dan bahkan dengan rumah-rumah keluarganya sendiri. Rangkaian panjang tembok itu kini 708 kilometer (bandingkan jarak Jakarta-Surabaya yang hanya 667,4 km).
Meski sudah ada perintah pembekuan perluasan permukiman ilegal Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki, sedikitnya 3.000 apartemen telah disetujui pembangunannya.
Hagit Ofran direktur Watchdog Peace Now mengatakan, pos-pos di puncak bukit yang dihuni para pemukim Yahudi radikal semakin mempertegang suasana. “Mereka membagi-bagi wilayah Tepi Barat, membuat keberadaan negara Palestina menjadi mustahil,” ujarnya.
Setiap harinya, warga Palestina harus selama berjam-jam melewati berbagai proses di pos pemeriksaan. Antrian di pos pemeriksaan dimulai sejak pukul lima pagi. Ribuan orang harus melewati pemeriksaan hingga lima kali. Dengan rasa lega, Hammermann mengatakan, “percekcokan hari ini dalam tingkat yang rendah.”
Hammermann, 73, adalah seorang pengungsi Austria. Sebagian besar keluarganya meninggal dalam pembantaian Holocaust. “Pilihan saya menjadi aktivis HAM sangat terkait dengan pengalaman Holocaust. Jangan pernah berdiam diri atas apa yang terjadi di sekitar kamu, katakan semuanya yang berkaitan dengan pelanggaran HAM.” * (The Australian)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
