Dari Hebron, Keffiyeh Palestina Bersaing Ketat dengan Buatan China

9 May 2015, 22:14.
Foto: AFP/Hazem Bader

Foto: AFP/Hazem Bader

AL-KHALIL, Sabtu (AFP): Di tengah kompetisi ketat dengan China, keffiyeh Palestina yang merupakan produk lokal dan tradisional menunjukkan perlawanan dengan sukses mengangkatnya dari jurang kepunahan. Berkat naluri bisnis dua bersaudara dari Hebron (Al-Khalil), selatan kota Tepi Barat, penutup kepala tradisional, keffiyeh, kembali menjadi tren.

Pada tahun 1961, ayah mereka Yasser Hirbawi, yang menjual keffiyeh yang ia bawa dari Suriah dan Yordania, memutuskan untuk memproduksi keffiyeh dengan merek sendiri. Ketika pabrik mulai beroperasi, produksi penutup kepala berpola hitam putih yang terkenal itu hanya dikerjakan oleh dua karyawan dengan menggunakan mesin tenun.

Kini, anak-anak Yasser Hirbawi mengelola bisnis dengan mempekerjakan 15 karyawan dan mengekspor keffiyeh ke seluruh dunia dan semuanya menggunakan logo: Made in Palestine. Setiap tahun, mereka menjual sekitar 30.000 keffiyeh. Yakni, sekitar dua atau tiga persen terjual di pasar lokal, sementara sisanya dilempar ke pasar mancanegara dengan pasar utama di Italia, Perancis dan Jerman. Menurut Juda Hirbawi, sebagian besar keffiyeh tersebut dipesan secara online.

Menurut Abdelaziz al-Karaki (61), keffiyeh mulai tersebar luas sebagai simbol perlawanan saat Palestina berada di bawah penjajahan Inggris (1920-1948). Pria yang telah bekerja selama empat dekade di pabrik Hibrawi itu menjelaskan, “Mereka mengatakan bahwa siapapun yang memakai keffiyeh orang Badui merupakan musuh dan tiba-tiba semua orang mulai memakainya.”

Namun, kehadiran keffiyeh di kancah internasional bisa dikatakan karena pengaruh satu orang: Yasser Arafat, pemimpin Palestina dan ikon perlawanan yang nyaris tidak pernah dipotret tanpa keffiyeh yang menjadi ciri khasnya itu.

Dipopulerkan oleh Arafat

Berkat dia, keffiyeh terpotret di PBB, halaman Gedung Putih dan Oslo saat Arafat dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian bersama Shimon Peres dan Yitzhak Rabin atas upaya mereka menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Dan kini potret Yasser Arafat dengan keffiyehnya menyambut para tamu di pintu masuk pabrik Hirbawi. “Dulu Arafat biasa menawarkan keffiyeh kepada semua tamu-tamu terkenal dan sekarang keffiyeh dari pabrik kami masih ditawarkan oleh penerusnya, Mahmoud Abbas,” kata Juda yang berbicara sambil berteriak di tengah deru mesin tenun otomatis.

Kembali Beroperasi

Pada awal dekade lalu, ketika menghadapi sengitnya kompetisi dengan China dan India yang menjual keffiyeh dengan harga miring, Juda memutuskan untuk menutup pabriknya. “Mereka membanjiri pasar. Dengan harga mereka, kami tidak bisa bersaing,” katanya pada AFP. Itu merupakan keputusan sulit bagi keluarga yang turun temurun memproduksi keffiyeh dan menghadapi konflik selama puluhan tahun. Mulai dari Intifada pertama Palestina (1987-1993) mereka terus bertahan menghadapi berbagai kekerasan hidup setiap hari di wilayah yang dijajah Zionis. Pabrik ditutup selama lima tahun. Namun, ternyata hal itu memberi mereka waktu untuk kembali dengan strategi baru.

Bercorak Warna-warni

“Kami tidak pernah bisa mengalahkan mereka (China dan India) dalam soal harga. Jadi, kami fokus pada kualitas,” kata Juda, yang harus mengimpor semua bahan baku karena ketiadaan di pasar lokal, mulai dari benang hingga mesin tenun otomatis. Seperti halnya kualitas, mereka harus menyelaraskan keffiyeh dengan permintaan atau selera internasional. “Orang asing menginginkan warna berbeda, jadi kami harus meninjau ulang gaya tradisional,” katanya.

Mesin tenun tidak hanya cocok dengan benang tradisional hitam putih, tapi juga merah untuk versi Yordania. Mulai dari warna hijau kebiruan dan biru kehijau-hijauan, hingga abu-abu dan kuning, kini keffiyeh memiliki beraneka corak dan warna. Tidak hanya digunakan sebagai penutup kepala, tapi juga sebagai jubah, serta diolah menjadi tas selempang atau diubah menjadi kantong.

Bahan yang mencolok dengan motif kotak-kotak telah menyebar luas. Entah itu penari di TV, artis rap Amerika Serikat yang merekam video, atau warga Palestina yang tengah berlomba di acara adu bakat idola Arab, semua memakai keffiyeh. Kebangkitan kembali keffiyeh telah mendatangkan skeptisisme di antara mereka yang tidak pernah berhenti menggunakannya.

“Ini merupakan simbol Palestina,” kata Abu Fahmi al-Kisswani, warga Palestina dari timur Al-Quds terjajah. “Bagi beberapa orang itu mungkin hanya sekadar aksesori fashion,” kata Maria, seorang wanita dari Uruguay yang baru saja membeli keffiyeh dari Kota Lama Al-Quds. Bagi dia, keffiyeh bermakna lebih dari itu: ini merupakan cara untuk “menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina”.

Yussef Sinjlawi baru saja menjual tiga keffiyeh. Kata dia, para turis suka membawanya pulang sebagai oleh-oleh. “Beberapa turis tidak mau membayar mahal, jadi kami tawarkan pada mereka keffiyeh buatan China atau India yang seharga 25-30 shekel ($7.50), sementara keffiyeh kualitas bagus seharga 70-80 shekel ($20),” jelas Bassem Barakat yang bekerja sebagai penjaga toko di Kota Lama selama tiga dekade. “Itu terserah mereka untuk memilih.” Ia sendiri telah memilih, “Seperti rakyat Palestina pada umumnya, saya punya keffiyeh sendiri dan itu dari Hebron (Al-Khalil).” (AFP | Sahabat Al-Aqsha)

Yasser Al-Hirbawi, pemilik pabrik yang memproduksi keffiyeh hitam putih (penutup kepala tradisional Palestina), berdiri di belakang foto Yasser Arafat, pemimpin Palestina pada 10 Maret 2015 di Al-Khalil. Foto: AFP/Hazem Bader)

Yasser Al-Hirbawi, pemilik pabrik yang memproduksi keffiyeh hitam putih (penutup kepala tradisional Palestina), berdiri di belakang foto Yasser Arafat (pemimpin Palestina) pada 10 Maret 2015 di Al-Khalil. Foto: AFP/Hazem Bader)

Foto: AFP/Hazem Bader

Foto: AFP/Hazem Bader

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Setiap Tahun, 6.000 Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual di ‘Israel’
Inilah yang Dialami Petani Gaza: Terancam Mati Saat Memanen »