Serdadu Zionis Bersorak Saat Pemuda Palestina Tewas Berlumuran Darah di Bawah Jip Mereka
21 June 2015, 05:01.

Duka mendalam keluarga Abdallah Ghuneimat saat pemakamannya di Kafr Malik pada 14 Juni lalu. Kata kerabatnya, Abdallah Ghuneimat bercita-cita memiliki kehidupan yang stabil dan berumah tangga. Foto: Shadi Hatem/APA images
KAFR MALIK, Ahad (Electronic Intifada): Dua hari setelah Abdallah Ghuneimat terbunuh oleh pasukan penjajah Zionis, kampung halamannya Kafr Malik masih terguncang.
Tak hanya soal pembunuhan yang mengakibatkan syok luar biasa dan kemarahan di desa sebelah utara kota Ramallah, Tepi Barat terjajah itu. Pun, karena sikap kejam Zionis saat insiden terjadi. Beberapa jam usai pembunuhan Ghuneimat, penduduk Kafr Malik, Aisha Hamayel menyatakan bahwa, “Ibu korban melihat mayatnya dari jauh dan mengatakan, ‘Semoga Allah mengasihani ibunya,’ tanpa mengetahui bahwa itu anaknya. Adakah kejahatan lebih buruk dari memosisikan seorang ibu mengalami kejadian ini? Adakah tragedi yang lebih buruk dari seorang ibu yang tidak mengenali anaknya sendiri karena begitu berubahnya bentuk wajah (anaknya)?”
Pada 14 Juni, pasukan Zionis menyerang Kafr Malik, tempat bernaung bagi sekitar 3.000 warga Palestina. Penggerebekan terus menerus terjadi di desa ini, entah itu malam dan menjelang subuh sehingga bagai “mimpi buruk” bagi warga desa. Bahkan seringkali penggerebekan berakhir dengan bentrokan antara tentara Zionis dan pemuda yang coba untuk membela desa mereka. “Saya mendengar suara dua tembakan dan sebuah granat kejut sekitar pukul 4.30 pagi saat saya bangun untuk shalat Fajr,” ujar bibi Ghuneimat, Maha Hamayel kepada Electronic Intifada.
“Kami tinggal di dekat jalan utama tempat penembakan terjadi, jadi kami dengan cepat keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kami melihat mayat seorang pemuda dan kakinya yang teramputasi terjebak di antara tembok dan jip militer Zionis. Ia berlumuran darah dan darahnya benar-benar menutupi seluruh jalan, tapi awalnya kami tidak bisa mengidentifikasinya,” kata Maha. Ia duduk di sebelah ibu Ghuneimat, yang tengah mengalami kesedihan mendalam.
Aktif Berpolitik
Abdallah Ghuneimat (21), bekerja di peternakan unggas milik pamannya di Kafr Malik. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelola peternakan setelah ia bebas dari penjara Zionis pada Agustus tahun lalu. Ghuneimat ditangkap saat berusia 18 tahun atas tuduhan “menentang penjajahan”. Tuduhan yang sama juga pernah ditujukan pada ayahnya, Iyad. “Ia secara politik aktif dengan Fatah sejak berusia 12 tahun,” kata Iyad kepada Electronic Intifada.
Ghuneimat mendekam dua tahun di penjara militer Ofer, tapi sukses menyelesaikan tawjihi (ujian masuk perguruan tinggi yang diberikan pada pelajar SMA). “Selama ia dipenjara, ayahnya dan saya dilarang mengunjunginya dengan alasan keamanan,” jelas ibunya, Zanat Ghuneimat. “Itu masa-masa yang sangat sulit bagi kami semua. Jadi, ketika ia bebas, saya hanya ingin ia fokus pada pekerjaan dan hidupnya,” kata ibunya, kemudian menangis tersedu-sedu.
Bahkan setelah ia bebas dari penjara, Ghuneimat terus membela Kafr Malik dari serangan tentara Zionis. Ayahnya yakin serdadu datang dengan tujuan membantai anaknya. Sementara itu, serdadu Zionis memberikan versi cerita yang sepenuhnya berbeda. Menurut jurubicara militer, sebuah bom Molotov dilemparkan ke arah jip yang mengakibatkannya menabrak tembok dan “kecelakaan” pun terjadi, yakni Ghuneimat tertabrak jip dan akhirnya tewas.
“Jika itu memang benar, jika itu hanya sebuah kecelakaan, kenapa mereka meninggalkannya mengalami perdarahan lebih dari tiga jam? Mengapa mereka terus menghalangi kami untuk mengangkat jasadnya?” tanya ayahnya. Keluarga menolak dilakukan otopsi dan memilih menguburkan Ghuneimat secepatnya dalam sebuah prosesi pemakaman yang dihadiri oleh ribuan warga Palestina dari Kafr Malik dan desa-desa tetangga pada Senin (15/6) lalu.
Perdarahan Selama Berjam-jam
Dengan tidak dilakukannya otopsi, sulit membuktikan apakah Ghuneimat benar-benar ditembak atau “tak sengaja” tertabrak jip Zionis. Namun, hal yang jelas bagi keluarga dan para saksi mata adalah fakta bahwa Ghuneimat ditinggalkan saat mengalami perdarahan di bawah jip selama berjam-jam, sementara serdadu Zionis bersorak kegirangan.
“Para serdadu bernyanyi dan bersorak di dalam jip, sementara para wanita menangis dan mencoba mendekat untuk melihat mayatnya,” ungkap Shurouq Hamayel, sepupu Ghuneimat yang berada di tempat kejadian. Sawsan Hamayel, bibi Ghuneimat membenarkan cerita tersebut dan menambahkan bahwa para serdadu, “Menembakkan gas airmata, bom suara dan juga peluru tajam ke udara untuk membubarkan kerumunan massa.”
Saat penggerebekan Kafr Malik, serdadu Zionis menangkap seorang pria Palestina dari desa Silwad sehingga saat kejadian ia berada di dalam jip. Meskipun matanya ditutup dengan kain, pria itu mengatakan pada orang banyak bahwa para serdadu terus mengatakan, “Bidik dia” sebelum jip menggilas Ghuneimat.
Iyad Ghuneimat, ayah Abdallah mengatakan bahwa beberapa menit setelah insiden, serdadu Zionis terus bertanya pada ibu Abdallah dan kakeknya: “Apa kau kehilangan seseorang? Apa kau mencari seseorang?” Bagi sang ayah, ini merupakan indikasi bahwa mereka sebenarnya tahu siapa yang mereka tabrak.
Trauma
Tiga jam setelah kejadian pembunuhan brutal itu, penduduk desa bahkan tak mengetahui siapa korbannya karena dicegah untuk mendekati mayatnya. Maya Hamayel mengatakan bahwa serdadu Zionis memukul ibu Ghuneimat dan menendangnya, namun ia bersikeras untuk kembali.
Yang kali pertama berhasil mengidentifikasi Ghuneimat adalah pamannya, Hikmat, pemilik peternakan ayam dimana Ghuneimat bekerja selama beberapa bulan terakhir. Sebelum akhirnya serdadu Zionis membolehkan mereka untuk “menyelamatkan” mayatnya dan sebelum paramedis dibolehkan memindahkan Ghuneimat ke rumah sakit Ramallah, Hikmat coba untuk menghalangi kerabatnya mendekat. Ia mengatakan ia tidak mampu mengatakan pada mereka kebenaran mengejutkan mengenai orang yang mereka cintai.
Paramedis tiba saat Ghuneimat sudah meninggal dunia. “Kami menantikan untuk merayakan Ramadhan bersama-sama,” kata bibinya, Maha. “Selama dua tahun terakhir, ia terpaksa merayakan Ramadhan di penjara. Tahun ini kami berencana agar dia merayakan bulan suci bersama dan memasakkannya semua makanan yang ia sukai. Namun, ia telah diambil dari kami selamanya,” tambahnya.
Rahma, adik perempuan Ghuneimat yang berusia lima tahun sangat terpukul dan mengalami trauma. Ia sangat dekat dengan kakaknya. Ghuneimat selalu menghabiskan waktu luangnya untuk bermain bersama Rahma. Sejak kematian Ghuneimat, Rahma sulit mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya berdiri dan menangis tersedu-sedu di samping tembok tempat kakaknya terbunuh.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
