Dari Isi WhatsApp, Serdadu Zionis Tahu Mereka Akan Bunuh Anak-anak
24 June 2015, 10:59.

Foto: Electronic Intifada
Rabu (Electronic Intifada): Pada Maret 2014, serdadu Zionis diperintahkan menggunakan amunisi tajam untuk menyergap tiga remaja Palestina di wilayah selatan Tepi Barat terjajah. Demikianlah hasil penyelidikan yang dilakukan oleh kelompok HAM, B’Tselem.
Yousef al-Shawamreh (14), ditembak di bagian punggung dan pinggang saat ia dan dua temannya coba melintasi tembok Zionis di dalam Tepi Barat dari desa mereka, Deir al-Asal al-Fawqa pada 19 Maret pagi.
Berdasarkan penyelidikan B’Tselem, al-Shawamreh ditembak dan tewas “pada siang hari bolong, padahal ia tidak bersikap membahayakan.” Kelompok HAM ini mendapatkan sebagian salinan berkas penyelidikan dan video penembakan dari militer Zionis. Video ini menunjukkan para serdadu secara sistematis melakukan penyergapan yang mengakibatkan pembunuhan terhadap anak-anak.
Menurut B’Tselem, pertukaran pesan di antara para serdadu Zionis selama insiden di layanan pesan WhatsApp menunjukkan bahwa setidaknya beberapa serdadu yakin bahwa tiga orang Palestina itu merupakan anak-anak. Pertukaran pesan WhatsApp antarserdadu yang ditunjukkan dalam video B’Tselem mengindikasikan bahwa beberapa dari mereka tahu akan menyergap anak-anak.
Di tempat al-Shawamreh terbunuh, tembok yang dibangun Zionis tidak berada di garis perbatasan antara Deir al-Asal al-Fawqa dan ‘Israel’ masa kini. Karena tembok terletak sekitar 200 meter di dalam Tepi Barat, maka itu memisahkan petani Palestina dari ladang pertanian mereka sehingga memaksa beberapa dari mereka mengambil risiko mempertaruhkan nyawa untuk melintasi tembok demi mencari nafkah.
Ketika itu, Lembaga Pembela Anak Internasional untuk Palestina (DCI-Palestine) mengungkapkan, al-Shawamreh ditemani oleh dua anak lainnya melintasi tembok untuk memasuki lahan pertanian. Ketika tiba di tembok, sebuah lubang yang sering digunakan oleh warga Palestina ternyata telah ditutup. Maka, anak-anak itu memotong kawat dan membentangkannya hingga ke dalam “buffer zone”, yang terletak di antara pagar dan bagian lahan pertanian. Serdadu Zionis kemudian muncul dari persembunyian dan menyergap mereka, menembak, serta membunuh al-Shawamreh.
Kemudian, militer Zionis melakukan penyelidikan atas pembunuhan al-Shawamreh, tapi empat bulan kemudian penyelidikan ditutup tanpa tuduhan apapun. “Tidak ada kecurigaan bahwa regulasi penembakan dilanggar atau ada personel militer yang terlibat dalam tindakan kriminal,” tulis advokat militer ‘Israel’ Letnan Kolonel Ronen Hirsh dalam sebuah surat kepada B’Tselem.
“Dibunuh di Siang Bolong”
Menurut berkas penyelidikan, para serdadu yang menyergap anak-anak itu dan membunuh al-Shawamreh berada dalam persembunyian untuk menghindari kerusakan pembatas pemisah. Namun, B’Tselem mencatat bahwa para serdadu menunggu hingga pengrusakan selesai dilakukan, kemudian mereka muncul dari persembunyian, dan menembak tiga bocah itu.
Berkas penyelidikan juga mencatat Sersan Mayor Ofir, yang memerintahkan penyergapan, mengatakan pada penyelidik militer bahwa mereka telah menutup seluruh lubang di pagar untuk memastikan bahwa siapapun yang melintasi pembatas merupakan “penyabot pagar” dan menjadi target sah bagi amunisi tajam. Itu menurut logika si sersan mayor.
“Ketika penyergapan dimulai, Sersan Mayor Ofir menggambarkan penembak jitu memastikan bahwa ia memiliki ‘garis tembak jelas’ ke arah lubang tertutup di pagar,” catat laporan B’Tselem, mengutip berkas penyelidikan militer Zionis.
B’Tselem meremehkan investigasi militer itu dan menganggapnya tidak lebih dari sekadar usaha ‘ecek-ecek’ dalam menuntut tanggung jawab para komandan. Atau, malah sama sekali tidak menuntut tanggung jawab mereka.
Kelompok HAM itu berkesimpulan, “Keputusan untuk melakukan penyergapan bersenjata dengan amunisi tajam, rencana rentetan tembakan pada siapapun yang melintasi pagar, dan samar-samar perintah mulai menyerang yang diterima para serdadu –semua menegaskan tanggung jawab pimpinan atas tembakan melanggar hukum terhadap al-Shawamreh.”
Kebal Hukum
Menurut DCI-Palestine, Al-Shawamreh hanyalah satu dari ratusan anak-anak Palestina yang dibunuh oleh pasukan penjajah Zionis atau pemukim ilegal Yahudi pada tahun 2014. Setidaknya 16 anak Palestina terbunuh di Tepi Barat terjajah, termasuk Timur Baitul Maqdis, dan 538 anak tewas saat serangan 51 hari Zionis ke Jalur Gaza.
Kekebalan hukum yang dinikmati oleh serdadu Zionis yang membunuh al-Shawamreh sebenarnya tidaklah aneh. Dalam laporan September 2014 yang diterbitkan oleh kelompok HAM Zionis, Yesh Din, terkuak bahwa hanya 1,4% pengaduan antara tahun 2010 dan 2013 terhadap militer Zionis yang menghasilkan sebuah tuntutan. Hanya sedikit yang menghasilkan lebih dari sekadar sanksi simbolik.
Baru-baru ini, militer Zionis membebaskan diri dari tuduhan membunuh empat anak Palestina di pantai Gaza saat serangan 51 hari di Jalur Gaza. Anak-anak lelaki berumur antara 9 hingga 11 tahun itu sedang bermain sepak bola sebelum granat Zionis merenggut nyawa mereka.
Anak-anak juga sering terluka oleh senjata seperti peluru baja berlapis karet. Menurut DCI-Palestine, setidaknya 35 anak terluka oleh amunisi tajam pada bulan Mei. Serdadu Zionis di Timur Baitul Maqdis pada April lalu juga menembak mati seorang remaja Palestina, Ali Abu Ghannam (17). Serdadu Zionis menuduhnya menyerang mereka dengan sebilah pisau, namun keluarga Ghannam menolak tuduhan tersebut.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
https://youtu.be/NvvWeqywc6s
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
