Sniper Zionis Tembak Pria Palestina Tak Bersenjata

26 June 2015, 09:47.
Electronic Intifada

Electronic Intifada

TEPI BARAT, Jum’at (Electronic Intifada): “Berhasil! Berhasil terekam juga!” Suara ini terekam dalam sebuah video yang terang-terangan mendokumentasikan sniper Zionis menembak pria Palestina tak bersenjata di desa Silwad, Tepi Barat. Dalam adegan biadab yang sengaja direkam si penembak ini terlihat pria malang tersebut tidak sedang berkonfrontasi dengan pasukan Zionis. Terlihat pula, ia tersungkur di tanah tak lama setelah ditembak.

Situs ‘Israel’, Mako yang mempublikasikan video tersebut menyebutkan, serdadu-serdadu yang terekam di video berasal dari batalyon Netzah Yehuda, unit brigade yang sama dengan yang beberapa anggotanya pernah tertangkap kamera sedang memukuli secara brutal seorang pria Palestina dari kamp pengungsi Jalazone belum lama ini.

Menurut situs Mako, juru bicara militer Zionis membenarkan adanya penembakan di desa Silwad, timur Ramallah. Namun, dalam klaim bohongnya ia mengatakan bahwa penembakan yang telah diizinkan komandan setempat tersebut dilakukan setelah pria Palestina melemparkan perangkat pembakar dan batu ke arah pasukan di wilayah itu.

Akan tetapi, situs Mako menyebutkan, “Seperti yang terlihat di video, pria Palestina yang terluka itu tidak membawa apa pun di tangan. Tidak ada perangkat yang dituduhkan jatuh dari tangannya. Ia pun tidak terlihat sedang menyerang serdadu-serdadu yang ada di sana.” Mako juga berdiskusi dengan seorang kolonel berpengalaman terkait hal ini. “Kolonel itu mengatakan bahwa target tidak dalam kondisi mengancam pasukan. Dan aksi penembakan oleh sniper tidak diperlukan dan menyalahi prosedur militer,” tulis Mako.

Kolonel anonim tersebut menambahkan, “Sniper memiliki peran yang sangat spesifik, yakni ‘melumpuhkan’ orang-orang bersenjata yang mengancam keselamatan jiwa para pasukan. Kondisi ini tidak terlihat dalam video tersebut.” Menurut Mako, bahkan dalam standar pasukan penjajah Zionis, aksi semacam ini termasuk tindakan kekerasan.

Suatu Kebodohan

Aksi ini disayangkan beberapa kalangan dari ‘Israel’. Meski yang lebih mereka khawatirkan adalah dampak tindakan tersebut terhadap ‘negerinya’ ketimbang pelecehan hak asasi manusia rakyat Palestina di bawah penjajahan Zionis. Kekhawatiran ini terlihat dalam reportase Mako dan pendapat beberapa pejabat yang diwawancarai.

Kolonel tadi berkomentar, “Mengunggah hal seperti ini ke dunia maya serius dampaknya. Dengan cara ini, orang-orang akan melihat bagaimana cara kerja pasukan. Mereka mengundang masalah hukum. Mereka tidak mengerti kalau tindakan ini dapat memanaskan suasana dan memancing reaksi negatif dari seluruh dunia. Ini adalah sebuah kebodohan.”

Kolonel itu juga mengatakan bahwa penonton video tersebut bertambah cepat dalam beberapa jam saja dan sepertinya sudah mulai dipublikasikan di situs-situs asing. Ia khawatir video ini akan disiarkan pada program-program berita di seluruh dunia.

Siapakah Korbannya?

Sulit mengetahui identitas korban dari tayangan video. Menurut Mako, penembakan terjadi pada Kamis dua pekan lalu saat berlangsung aksi unjuk rasa di desa Silwad. Namun, pada hari itu tidak ada pemberitaan dari media-media lokal terkait hal ini. Biasanya, warga Palestina di desa Silwad berunjuk rasa mingguan mengecam aksi penjajahan pada hari Jumat.

Para penduduk Silwad memang langganan menjadi target kekerasan pasukan Zionis. Situs berita Palestina, WAFA melaporkan, pada hari Jumat terdapat dua orang Palestina terluka di desa Silwad setelah pasukan Zionis menggerebek beberapa rumah dan mengusir keluar para penghuninya. Mereka lalu dibawa ke pos pemeriksaan militer. Masih berdasarkan laporan WAFA, seorang pemuda tertembak dan seorang lainnya terkena granat kejut.

Sebelumnya, dalam bentrokan di desa Silwad pada 5 Juni lalu, bertepatan dengan 48 tahun penjajahan Zionis di Tepi Barat dan Gaza, pasukan Zionis dikabarkan menembak tiga warga Palestina. Salah satu korban, yakni anak berusia 13 tahun disebutkan terluka di bagian kakinya.

Si Pencuri Tanah

Kehadiran pasukan penjajah Zionis di wilayah Silwad sama sekali tidak ada hubungannya dengan upaya menjaga ‘keamanan’. Yang mereka lakukan dan menyalahi hukum internasional adalah berusaha melindungi dan menguasai tanah-tanah curian milik rakyat Palestina, serta menggunakannya untuk kepentingan mereka.

Para penduduk desa Silwad sudah tahunan melihat tanah-tanah mereka dicuri dan hidup dengan gerak yang terbatas dan serba diatur oleh penjajah biadab Zionis. Tanah-tanah yang dicuri di antaranya dipakai untuk permukiman ilegal Yahudi. Permukiman ilegal Ofra, salah satunya. Permukiman ilegal ini dibangun pertengahan tahun 1970-an di atas lahan yang dicuri dari warga Silwad.

Baru-baru ini, para pemukim ilegal dari Ofra mencuri lebih banyak lagi tanah di desa Silwad. Mereka membangun pos pemeriksaan bernama Amona yang tentu saja atas izin Zionis. (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha/Tia)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dari Isi WhatsApp, Serdadu Zionis Tahu Mereka Akan Bunuh Anak-anak
Arus Investasi ke ‘Israel’ Anjlok 50% di Tahun 2014 »