Keluarga Remaja yang Dibakar Hidup-hidup Akan Terus Mencari Keadilan

8 July 2015, 08:05.
Foto: PIC

Foto: PIC

BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Rabu (PIC): Setahun berlalu sejak remaja asal Baitul Maqdis Muhammad Abu Khdeir (16) dengan kejam dibakar hingga tewas oleh tiga teroris pemukim Yahudi. Namun, luka tak jua sembuh dan api masih membakar, bahkan menyebar dari Baitul Maqdis ke Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah Palestina terjajah 1948. Kesedihan ibunda Muhammad atas kematian anaknya ditimpa kerinduan akan sang anak tercinta. Ia mengatakan, hatinya masih sangat sedih dan air matanya tak pernah kering.

Jasad Muhammad telah meninggalkan rumah, tapi jiwanya masih tertinggal di setiap sudut rumah keluarganya. “Saya memikirkan Muhammad setiap saat. Pada hari pertama Ramadhan, ketika saya melihat dia tidak duduk bersama kami untuk ifthar (berbuka puasa) saya menangis tersedu-sedu. Jika mengingat ia dulu menolong saya menyiapkan meja dan betapa rumah kami penuh kebahagiaan dan tawa karena selera humornya, saya jadi tidak bisa makan” kata sang ibu yang terlihat masih sangat sedih, kepada pusat media QPress.

Ia mengatakan, “Semua yang ada di dalam rumah kami mengingatkan saya akan dia; pakaiannya dan barang-barang miliknya, bahkan botol parfumnya. Terkadang saya meninggalkan rumah karena tak tahan berada di sana.” Dengan getir ia melanjutkan, “Muhammad segalanya bagi kami, ia biasa duduk di pangkuan saya bahkan pada hari ia terbunuh. Ia biasa menenangkan saya saat saya sedih dan becanda dengan saya hingga ia melihat saya tersenyum.”

“Oh, Ibu!”

Ibu yang hatinya hancur itu menunjukkan pada kami foto-foto Muhammad saat ia masih bayi, foto ia dengan teman-temannya serta keluarga, dan akhirnya album foto saat pemakamannya.

“Seandainya foto-foto ini akan membawa anak saya kembali,” katanya dengan mata penuh airmata. “Saya diundang menghadiri upacara kelulusan teman-temannya yang setingkat dengannya, saya berharap tidak pergi; saya merasa sangat sedih saat melihat fotonya di kursi yang kosong.”

“Mestinya saya ada bersama dia saat mereka menyerangnya! Pasti saya akan membelanya! Saya yakin kata terakhirnya adalah ‘Oh, Ibu!’ Saya hanya terlambat beberapa menit…tapi itu sudah menjadi takdirnya.”

“Anak saya dibakar hidup-hidup, betapa biadab dan pengecut! Mereka merampas nyawanya, masa kanak-kanak, masa belajar, serta cita-citanya!”

Ayah Muhammad, Abu al-Ra’ed mengatakan, “Pembunuhan anak saya dengan cara membakarnya hidup-hidup akan selamanya menjadi cap memalukan di dahi ‘Israel’.” Ia menambahkan, “Saya tidak berharap apa-apa dari pengadilan rasis ‘Israel’ yang mendiskriminasi antara warga Palestina dan Yahudi. Kami akan pergi ke pengadilan internasional.”

Mendengar pengakuan para pemukim Yahudi pada pemeriksaan terakhir di Pengadilan Distrik ‘Israel’, Abu al-Ra’ed mengatakan, “Hati kami tenggelam dalam kesedihan saat para pemukim (ilegal) Yahudi itu mengaku bahwa mereka memukuli anak saya, menumpahkan bensin ke dalam mulutnya, dan membakarnya hidup-hidup. Kami menuntut pengadilan ‘Israel’ untuk membakar mereka seperti mereka membakar Muhammad dan untuk menghancurkan rumah mereka.”

“Api di hati kami tidak akan pernah padam. Kami akan menindaklanjuti kasus anak kami sehingga tragedi seperti itu tidak terjadi lagi. Mereka membakar Muhammad sekali, tapi kami terbakar setiap hari,” kata sang ayah yang tengah berduka itu.

Begini Pengakuan Teroris Pembakar Muhammad 

Tiga teroris Yahudi yang tahun lalu menculik dan membakar hidup-hidup Muhammad menceritakan kembali kejahatan biadab mereka sebelum pengadilan di Baitul Maqdis. Tiga pemukim Yahudi itu membunuh Muhammad Abu Khdeir dari kamp pengungsi Shu’fat di utara Baitul Maqdis pada awal Juli 2014. Diduga motifnya balas dendam atas terbunuhnya tiga pemukim Yahudi beberapa minggu sebelumnya.

Menurut pengakuan ketiganya, mereka menculik Muhammad (16), memukuli kepalanya menggunakan benda keras, dan membawanya ke hutan terdekat dimana mereka memompakan bensin ke dalam perutnya. Kemudian, mereka menyiramkan bensin ke sekujur tubuhnya dan membakarnya. Setelah itu, ketiganya dikabarkan menuju ke perkampungan Yahudi di Tepi Barat dimana mereka melakukan pesta untuk merayakan kejahatan mereka.

Seakan berupaya mendapat simpati, salah seorang pembunuh mengakui bahwa ia tidak tahu “kalau akan terjadi seperti itu”. Padahal, sudah jelas sejak awal bahwa tak ada satu pun dari tiga pembunuh itu yang coba menghentikan pembunuhan remaja Arab tak bersalah itu.

Sistem pengadilan ‘Israel’ didominasi oleh pemikiran Talmud para pemukim Yahudi yang percaya bahwa kehidupan non-Yahudi tak memiliki kesakralan. Dan mereka sudah terbiasa sangat “toleran” soal hukuman penjara bagi warga Yahudi yang divonis atas pembunuhan non-Yahudi, terutama warga Palestina. Dalam banyak kasus, pengadilan mencari-cari alasan “kondisi yang memperingan kesalahan” si pembunuh atau untuk kebaikan para pembunuh. Seperti, menerima klaim bahwa pembunuhan merupakan upaya pembelaan diri.

Meskipun kejahatan itu dilakukan dengan perencanaan karena alasan dendam, hakim hampir selalu memberi keringanan dengan menyatakan bahwa pembunuh memiliki masalah mental atau psikologis sehingga tidak bisa mengerti sepenuhnya apa yang dia lakukan.

Otak Pembunuhan

Yosef Ben-David (30) merupakan otak di balik penculikan dan pembunuhan terhadap Muhammad Abu Khdeir pada Juli 2014. Satu dari dua orang yang dituduh membunuh mengatakan pada Pengadilan Distrik Baitul Maqdis bahwa ia tidak percaya bahwa itu akan berakhir dengan pembunuhan. “Ini mengejutkan,” kata lelaki tersebut. “Sulit bagi saya percaya bahwa saya terlibat dalam insiden mengerikan seperti itu. Ini sama sekali tidak benar bahwa saya berencana membunuhnya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa itu akan berakhir seperti yang sudah terjadi.”

Salah seorang pembunuh, seorang lelaki yang namanya tidak disebutkan atas perintah pengadilan, dikabarkan mengatakan pada pengadilan bahwa Yosef Ben-David dari permukiman Adam di Tepi Barat, bertekad akan membunuh orang Arab manapun untuk membalas dendam atas kematian tiga pemukim Yahudi.

“Ben-David ada di pemakaman mereka (tiga pemukim Yahudi-red),” kata remaja tersebut. “Ia jauh lebih antusias dan memanas-manasi kami. Kami bertemu di stasiun bis, membawa rokok dan minum minuman energi untuk memacu (adrenalin-red) kami.”

Dalam pengakuannya sendiri, yang diperoleh Ynet tahun lalu, Ben-David (30) mengatakan, “Kami memutuskan harus membalas dendam atas apa yang mereka lakukan. Kami mengatakan, ‘Mari balas dendam,’ saya katakan darah saya mendidih dan ia mengatakan darahnya mendidih. Seluruh negeri diam dan kami bertanya-tanya mengapa mereka melakukan ini pada mereka, dan apa kesalahan mereka?”

Pembunuh itu mengatakan pada pengadilan bahwa pada malam Abu Khdeir terbunuh, “Kami pergi ke Pusat Konvensi Internasional, kemudian dia (Ben-David) sudah mulai bicara mengenai keinginan untuk menciduk seseorang ke dalam mobilnya dan memukulinya. Ia memberi kami pil untuk membuat kami tenang. Pemuda lainnya dan saya mengatakan itu berbahaya. Kami mengemudi selama beberapa jam. Ia berhenti di dekat lima anak-anak kecil.”

Ia menggambarkan bagaimana mereka memaksa Abu Khdeir masuk ke dalam mobil mereka. “Saya tidak berpikir ia akan membawanya ke dalam hutan dan memukulinya di sana. Saya berpikir ia akan menurunkannya. Ada teriakan di dalam mobil… Kami sampai di Hutan Baitul Maqdis, dan sepanjang perjalanan kami pegang ia dari belakang. Ben-David bertanya di mana linggis, dan mengatakan bahwa mereka (orang-orang Arab) memiliki tujuh jiwa, kemudian ia memberinya dua pukulan di kepala dengan linggis.”

“Saya katakan pada Ben-David ‘cukup!’” Kemudian si tersangka melanjutkan, “Saya masuk ke dalam mobil dan tiba-tiba saya melihat api besar dan mengerti maknanya. Saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yosef yang menyalakan api, tapi dari apa yang sudah dikatakan, ia yang menyalakan api.”

Pembunuh itu juga mengatakan pada pengadilan bahwa setelah Abu Khdeir terbunuh, “Kami pergi ke Taman Sacher untuk menyembunyikan barang bukti. Ben-David memberi saya instruksi mengenai apa yang harus dilakukan dan kemudian pergi ke rumahnya di Adam (sebuah permukiman di Tepi Barat).”

Seperti telah disebutkan sebelumnya, para pembunuh Yahudi itu yakin pembunuhan terhadap non-Yahudi akan menerima hukuman penjara sangat ringan. Contohnya, seorang rabbi bernama Moshe Levinger yang membunuh seorang pemilik toko Palestina pada tahun 1988 di pusat kota Al-Khalil hanya dihukum enam bulan penjara. Menurut sumber-sumber Zionis, si rabbi yang meninggal dunia dua bulan lalu itu hanya menjalani hukuman beberapa hari di penjara, kemudian ia dibebaskan.*(PIC | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: PIC

Foto: PIC

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Zionis Usulkan UU untuk Usir Warga Palestina Selamanya
Ramadhan di Tengah Reruntuhan »