Akhirnya, Ayah Bayi yang Dibakar Zionis Meninggal Dunia
9 August 2015, 16:25.

Foto: PIC
NABLUS, Ahad (PIC | Ma’an News Agency | Middle East Eye | Middle East Monitor | Electronic Intifada): Ayah dari bayi Palestina yang terbakar hidup-hidup dalam sebuah serangan pembakaran oleh pemukim ilegal Yahudi di Nablus meninggal dunia Sabtu (8/8) pagi. Menurut pihak keluarga, ayah bayi Ali, Saad Dawabsheh (32) meninggal akibat luka bakar parah di Pusat Medis Universitas Soroka di Beersheba. Menteri Kesehatan Palestina mengungkapkan, Saad berjuang menghadapi penyakitnya selama lebih dari seminggu.
Saudara lelaki Saad, Nasr Dawabsheh mengatakan, pihak rumah sakit mengabarkan berita kematian itu pada mereka sekitar pukul lima pagi. Saad meninggal akibat luka bakar yang meliputi 80 persen tubuhnya. Saad dimakamkan di kampung halamannya, Duma, selatan kota Nablus. Saad dikuburkan berdampingan dengan putranya, Ali (18 bulan), yang tewas terpanggang 31 Juli lalu.

Seorang kerabat keluarga Dawabsheh, duduk di samping jenazah Ali Saad Dawabsheh (18 bulan), yang tewas terpanggang di rumah keluarganya di desa Duma, Tepi Barat terjajah, 31 Juli lalu. Foto: Ahmad Talat/APA images
Istri Saad, Riham Dawabsheh masih dalam kondisi kritis dan menderita luka bakar tingkat tiga karena 90 persen tubuhnya terbakar. Sementara itu, sebuah video yang diunggah di Facebook oleh dewan keamanan Duma Jum’at malam lalu menunjukkan bahwa Ahmad (4), abang bayi Ali telah sadar dan sudah bisa merespon. Ahmad menderita luka bakar parah di wajah dan tubuhnya. Hingga kini keduanya masih menjalani perawatan di rumah sakit Tel Hashomer, dekat Tel Aviv.
Kerabat Dawabsheh, Zuhdei Dawabsheh mengatakan bahwa Duma yang dulu desa nan damai kini telah berubah. “Para lelaki yang adik atau keponakannya dibakar hingga tewas akan melakukan sesuatu. Ia bukan lelaki baik jika tidak melakukan apapun,” katanya. “Jika ia melihat serdadu memukuli seseorang, ia harus membunuhnya.”
Sejak serangan Jum’at 31 Juli lalu, pasukan keamanan Zionis maupun Palestina tidak mengamankan wilayah tersebut, membiarkan penduduk desa mengatasi kondisi itu sendiri. Ketegangan meningkat di penjuru Tepi Barat usai serangan pembakaran brutal itu. Bentrokan antara pendemo dan serdadu Zionis Jum’at lalu menewaskan dua orang.

MaanImages
Bebas Lakukan Aksi Kriminal
Insiden pembakaran brutal itu menimbulkan kemarahan dunia internasional. Para pengamat menunjukkan bahwa serangan para pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina biasa terjadi dan seringkali tak mendapat hukuman dari otoritas Zionis.
Zionis seakan bertindak tegas atas aksi radikal tersebut dengan menangkap sejumlah ekstremis Yahudi, termasuk Meir Ettinger, yang merupakan cucu dari Rabbi Meir Kahana. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang ditangkap dinyatakan terlibat langsung dengan pembakaran sadis di Duma.

Meir Ettinger, ketua kelompok ekstremis Yahudi, cengengesan di pengadilan Zionis di Nazareth Illit pada 4 Agustus 2015, sehari setelah penangkapannya. Foto: AFP/Jack Guez
Faktanya, pembakaran rumah warga Palestina oleh para pemukim ilegal Yahudi juga bukan insiden “aneh”. Organisasi HAM ‘Israel’, Yesh Din, mencatat ada 15 kasus pembakaran atau percobaan pembakaran rumah warga Palestina yang dilakukan oleh pemukim ilegal Yahudi sejak tahun 2008. Yesh Din mengungkapkan bahwa warga Palestina mengajukan tuntutan ke kantor polisi Zionis, namun tak seorang pun pelaku kejahatan dibawa ke pengadilan.
Salah satu contoh, tiga rumah warga Palestina di desa Burin, Tepi Barat, dibakar oleh para pemukim ilegal Yahudi. “Jika otoritas penjajah Zionis menangani kasus seperti itu dengan keras, maka pembakaran bayi Ali Dawabsheh tak akan pernah terjadi,” ungkap Yesh Din. Pembunuhan Ali Dawabsheh bukanlah kali pertama para pemukim ilegal Yahudi membakar warga Palestina hidup-hidup. Dengan kekebalan hukum yang dinikmati para pemukim Yahudi, mungkinkah pembunuh bayi Ali akan sampai dibawa ke pengadilan?

Serangan pembakaran 31 Juli lalu, yang menghanguskan rumah keluarga Dawabsheh di Duma. Foto: AFP
Bermuka Dua
Usai insiden brutal terbakarnya bayi Ali, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan kecaman dan rasa sedihnya atas insiden tersebut dan berjanji akan menghukum pembunuh bayi Ali.
Sulit membayangkan hal yang lebih bermuka dua ketimbang tampilan airmata buaya dari pemimpin yang sama yang melakukan pembantaian terhadap 2.200 warga Palestina di Gaza tahun lalu -dimana 500 orang di antaranya adalah anak-anak- kini berpura-pura marah atas pembunuhan satu orang lagi.
Tentu saja pernyataan Zionis memiliki tujuan tertentu. Mereka tengah berupaya menggambarkan pembunuhan Ali Dawabsheh sebagai tindakan pengecualian. Pun, untuk mengaburkan kenyataan bahwa aksi kekerasan para pemukim Yahudi tak terpisahkan dari struktur penjajahan kolonial Zionis dan apartheid.
Sederet Kasus Kejahatan
Usai insiden pembakaran bayi Ali, kelompok HAM Zionis, B’Tselem menyatakan, “Bayi yang dibakar hanyalah soal waktu. Itu akibat kebijakan penjajah yang menghindari penerapan hukum atas warga ‘Israel’ yang menyakiti warga Palestina dan merusak properti mereka. Kebijakan itu menciptakan kekebalan hukum bagi kejahatan yang didasari rasa benci dan mendorong para penyerang untuk terus melakukan kejahatan. Hal itulah yang menyebabkan insiden mengerikan itu terjadi.”
B’Tselem mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir, warga sipil ‘Israel’ membakar lusinan rumah warga Palestina, masjid-masjid, pertokoan, lahan pertanian dan sejumlah kendaraan di Tepi Barat. “Sebagian besar dari kasus-kasus tersebut tak pernah terpecahkan, dan dalam banyak kasus polisi Zionis bahkan tak melakukan penyelidikan dasar.” Kekebalan hukum sudah biasa dinikmati bahkan dalam kasus paling brutal dan mengerikan.
Tahun lalu gerombolan pemuda teroris Yahudi menculik dan membakar hidup-hidup pemuda Palestina bernama Muhammad Abu Khdeir. Dalam kasus tersebut, polisi Zionis terlihat tak serius untuk menemukan tersangka, meskipun kenyataannya mereka memiliki rekaman video wajah-wajah para tersangka dan mobil yang mereka gunakan. Kemarahan dunia internasional-lah yang membuat mereka bersusah payah menemukan para pelaku.
Juli lalu, dua warga ‘Israel’ yang membakar sebuah sekolah Yahudi-Arab di Baitul Maqdis menerima hukuman ringan. Mereka juga tak menyesali perbuatan tersebut. Saat meninggalkan pengadilan, mereka menyatakan bahwa kejahatan yang mereka lakukan “setimpal” untuk menghalangi Yahudi dan Arab “membaur”.
Adapula kasus keluarga yang dibakar hidup-hidup oleh para pemukim ilegal Yahudi pada 16 Agustus 2012. Jamila Hassan, suaminya Ayman dan anak mereka Iman (4), serta Muhammad (6) sedang mengendarai taksi di selatan Bayt Lahm di Tepi Barat terjajah, bersama penumpang lainnya dan sopir. Kemudian, mobil yang mereka tumpangi dilempar bom Molotov.
Ayman dan dua anaknya (Iman dan Muhammad) terluka parah. Bahkan Muhammad menderita luka bakar di sekujur tubuhnya. “Kami kehilangan orang-orang yang kami cintai, hidup kami kacau balau. Suami, anak lelaki dan anak perempuan saya meninggal dunia. Hidup kami sulit dan penuh penderitaan,” kata Jamila pada Ma’an, dua minggu setelah insiden penyerangan.
Saat itu, Zionis juga menjanjikan “keadilan”. Namun, apa yang terjadi? Polisi Zionis menangkap tiga bocah dari permukiman ilegal Yahudi di sekitar tempat kejadian dan mengatakan pada hakim bahwa mereka menemukan sidik jari yang mengaitkan para tersangka dengan kejahatan.
Menurut surat kabar Haaretz, Hakim Yaron Mintkevich memutuskan menjebloskan anak-anak itu ke penjara “dengan berat hati, karena usia mereka”. Kabarnya mereka berusia antara 12 dan 13 tahun. Akan tetapi, pada Januari 2013, Kejaksaan Zionis menutup kasus tersebut karena dianggap “kurang bukti”.
Bandingkan dengan yang dialami anak-anak Palestina yang dituduh melempar batu ke arah serdadu Zionis. Mereka akan dipenjara selama berbulan-bulan, mengalami penyiksaan mengerikan dan dipaksa untuk mengaku. Dengan kata lain, pembunuhan terhadap ratusan anak-anak di Gaza musim panas tahun lalu, aksi pembakaran terhadap Muhammad Abu Khdeir dan Ali Saad Dawabsheh semuanya dianggap sebagai harga yang harus dibayar warga Palestina agar ‘Israel’ bisa tetap eksis.
Satu-satunya cara Ali Dawabsheh atau warga Palestina lainnya bisa mendapatkan keadilan dari sistem apartheid Zionis adalah jika benar-benar tak ada lagi penjajahan di tanah Palestina.* (PIC | Ma’an News Agency | Middle East Eye | Middle East Monitor | Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
