Kehidupan Nelayan Gaza: Terancam Dibunuh Saat Melaut, Pendapatan Rendah dan Anak Putus Sekolah
12 August 2015, 16:12.

Foto: ISM
GAZA, Rabu (International Solidarity Movement): Ahad lalu sekitar pukul tiga pagi, pasukan penjajah menculik nelayan bernama Mohamed Ismail Sharafi (34) dan Mohamed Saidi (22) di perairan Gaza. Berdasarkan keterangan nelayan lain yang melaut bersama mereka saat serangan terjadi, sekitar 10 perahu dan satu dari dua nelayan terluka akibat amunisi tajam yang ditembakkan Zionis sebelum akhirnya nelayan tersebut diculik. Serangan terjadi sekitar lima mil dari pantai dan kapal mereka dibawa ke Ashdod.
Dua pekan lalu Ahmed Sharafi, saudara Mohamed, ditembak Zionis di bagian punggung dengan amunisi tajam ketika sedang melaut bersama ayahnya. Sejak berakhirnya agresi Zionis atas Gaza musim panas tahun lalu, terdapat 1.312 laporan serangan terhadap nelayan Gaza. Sejak saat itu, 22 kapal telah dicuri; 26 nelayan terluka; seorang nelayan bernama Tawfiq Abu Riela bahkan tewas terbunuh; 28 kapal rusak akibat tembakan peluru; dua kapal laut besar tenggelam oleh tembakan roket, satu di Deir El Balah sekitar 300 meter dari pantai dan satu lagi di Kota Gaza sekitar lima mil dari pantai; 51 nelayan diculik saat bekerja dan tiga nelayan masih ditawan hingga kini.
Fakta-fakta tersebut mengakibatkan jumlah ikan yang ditangkap menurun dari 1.600 ton per tahun sebelum agresi menjadi 1.000 ton setelah agresi. Jumlah nelayan yang bekerja di Jalur Gaza juga menurun dari 3.000 menjadi 1.000 orang, dan pendapatan bulanan nelayan yang tetap bekerja menurun drastis.
Akhir tahun lalu, di kamp pengungsi Palestina Al-Shati -yang terletak di dekat Laut Mediterania- sekitar 50 anak nelayan putus sekolah karena memilih bekerja mengangkut karung tepung terigu dengan bayaran yang minim. Sudah menjadi hal yang lazim bahwa keluarga para nelayan harus memilih siapa dari anak-anak mereka yang bersekolah dan siapa yang bekerja untuk membantu keluarga.
Saat ini terdapat sekitar 900 anak nelayan di Kota Gaza dan 1.700 anak di seluruh Jalur Gaza, yang harus memulai tahun akademik dalam 20 hari. Namun, banyak orangtua yang tak mampu membelikan mereka perlengkapan sekolah.* (International Solidarity Movement | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
