Tembak Dahulu, Bertanya Kemudian
6 October 2015, 15:34.

Pemuda Palestina yang ditembak mati itu bernama Fadi Samir Mustafa Alloun (19) dari desa al-Issawiya, Timur Baitul Maqdis. (Foto diambil dari media sosial)
BAITUL MAQDIS, Selasa (Electronic Intifada): Belakangan ini tingkat kekerasan di Baitul Maqdis terjajah dan penjuru Tepi Barat kian meningkat. Ahad (4/10) pagi pasukan Zionis menembak mati seorang pemuda Palestina dengan kejam. Usai insiden, pasukan penjajah Zionis menyatakan bahwa Kota Lama Baitul Maqdis hanya akan dibuka untuk kaum Yahudi dan turis asing selama 48 jam. Warga Palestina tak diperbolehkan masuk, kecuali mereka yang bermukim di sana.
Ibarat memancing di air keruh, Menteri Pendidikan Zionis Naftali Bennett, secara terbuka membual soal betapa banyak orang Arab yang telah ia bunuh, serta mengumumkan rencananya menghabiskan Ahad malam di Kota Lama untuk memperingati hari raya Yahudi Simhat Torah. Bennett yang merupakan pemimpin partai Habeyit Hayehudi (Rumah Yahudi) dan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked secara terbuka meminta dilakukannya genosida terhadap warga Palestina.
Eksekusi Tanpa Bukti
Otoritas Zionis mengklaim bahwa pemuda berusia 19 tahun, Fadi Samir Mustafa Alloun, dibunuh usai menikam seorang remaja Zionis. Namun, Zionis tidak bisa memberikan bukti yang mengaitkan Alloun dengan tuduhan penikaman. Sebaliknya, video yang ditayangkan media daring menunjukkan bahwa pemuda itu dieksekusi dengan kejam tatkala dikejar oleh gerombolan Yahudi yang menuntut balas dendam.
Dalam video terdengar teriakan seseorang berbahasa Ibrani –yang nampaknya ditujukan kepada polisi– “Tembak dia! Dia teroris! Tembak dia!” dan “Jangan tunggu lagi! Tembak dia!”
Alloun terlihat mengelak dari gerombolan Yahudi. Lampu mobil penjajah Zionis bisa terlihat dan suara tembakan tujuh kali terdengar. Alloun jatuh ke tanah. Bisa dilihat dalam video, kehadiran Alloun sama sekali tak mengancam nyawa siapapun. TV Wattan mengungkapkan, pembunuhan terjadi di wilayah Musrara, di luar tembok Kota Lama, dekat Gerbang Damaskus.
Warga Yahudi Rayakan Penembakan Alloun
Petugas penjajah Zionis –nampaknya si penembak – terlihat mendekati Alloun. Sementara itu, suara sorak sorai penuh kegembiraan terdengar, “Ya! Ya! Dasar anak pelacur!” dan “Wow!” dan “Dia orang Arab!” Lainnya berteriak, “Matilah kau orang Arab!”
Kemudian, seorang petugas penjajah bertanya, “Ada yang terluka?” Ini menandakan bahwa serdadu Zionis lebih dulu menembak, barulah kemudian bertanya. Itu jelas merupakan eksekusi berdarah dingin atas desakan gerombolan Yahudi.
Hal tersebut diperkuat dengan video kedua perihal kejadian yang sama yang dipublikasikan Alkhaleej Online. Dalam video terlihat gerombolan Yahudi tanpa ragu menghasut agar Alloun dibunuh saat mereka mengejarnya. Pemuda Palestina itu berupaya melarikan diri. Setelah polisi menembaknya hingga mati, seorang petugas Zionis terdengar bertanya pada salah seorang gerombolan Yahudi, “Apa dia menikam seseorang?” Lantas, pemuda Zionis menjawab bahwa Alloun tidak menikam siapapun.
Ketika detail mengenai tuduhan penikaman –apakah Alloun melakukannya atau tidak – menimbulkan perdebatan, yang tak diragukan adalah apa yang terlihat di dalam video tersebut: ia ditembak mati dengan kejam, padahal ia tak mengancam siapapun.
Muazzin
Teman-teman dan keluarganya mengatakan pada situs berita Quds bahwa Alloun dikaruniai suara yang indah. Ia sering mengumandangkan azan di Masjid Syuhada di desa Issawiyeh, Baitul Maqdis. Keluarga Alloun telah sekian lama menjadi korban kebijakan penjajah Zionis di Baitul Maqdis.
Menurut Quds, hingga kini ibunda Alloun belum mendapatkan izin kembali ke Baitul Maqdis dari Yordania. Zionis tidak mengizinkan keluarga tersebut bersatu kembali. Itu berarti Alloun dan ayahnya tinggal di Baitul Maqdis, sementara ibu dan adiknya Muhammad menetap di Yordania. Ibunda Alloun pergi ke Yordania, setelah ayahnya meninggal dunia. Teman-temannya mengatakan, Alloun orang yang pendiam dan sensitif, serta tidak pernah marah kepada siapapun.
Kondisi Darurat
Serangan penuh kekerasan Zionis terhadap warga Palestina semakin meningkat sejak terjadinya pembunuhan terhadap para pemukim Yahudi baru-baru ini di Baitul Maqdis dan penjuru Tepi Barat. Kamis lalu, dua pemukim ilegal Yahudi tewas dalam insiden penembakan dari dalam mobil (drive-by shooting) di Tepi Barat terjajah.
Kemudian, Sabtu lalu pemuda Palestina berusia 19 tahun, Muhannad Halabi, menikam dua warga Zionis di Kota Lama, Baitul Maqdis. Nehamia Lavi (41) merupakan seorang rabbi di militer ‘Israel’ dan Aaron Benita (21) adalah seorang serdadu tempur Zionis. Lavi tinggal di Timur Baitul Maqdis terjajah dan Benita di permukiman ilegal Yahudi Beitar Illit, Tepi Barat.
Warga Palestina dan media Zionis melaporkan perihal kian meningkatnya serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka di penjuru Tepi Barat oleh pasukan penjajah Zionis dan para pemukim ilegal Yahudi beberapa hari belakangan ini. Ahad lalu, Bulan Sabit Merah Palestina (BSMP) menyatakan “kondisi darurat” di seluruh Tepi Barat menyusul meningkatnya serangan serdadu Zionis dan para pemukim ilegal Yahudi.
BSMP menyatakan telah terjadi 14 serangan terhadap staf medis dan ambulans selama 72 jam terakhir. Kepada kantor berita Ma’an mereka mengatakan bahwa sekitar 96 warga Palestina terluka oleh tembakan peluru baja berlapis karet dan senjata lainnya antara Sabtu dan Ahad malam.
Kantor berita Ma’an melaporkan, di desa Burin sebelah utara Tepi Barat, warga Palestina harus melindungi rumah mereka setelah para pemukim Yahudi membakar pohon-pohon dan tanaman-tanaman di desa, serta melemparkan batu dan botol ke arah penduduk.
Warga Palestina juga berupaya mencegah pasukan penjajah Zionis masuk ke dalam desa Surda, dekat Ramallah, karena bermaksud menghancurkan rumah keluarga Halabi. Para serdadu menyerang warga Palestina yang berupaya melindungi rumah tersebut dengan gas airmata dan granat kejut.
Menurut surat kabar Zionis, Haaretz, penjajah menginterogasi ayah Halabi, menggeledah, serta membuang isi rumah dan akan menghancurkannya. Penghancuran rumah yang hanya diberlakukan penjajah Zionis terhadap warga Palestina merupakan bentuk hukuman kolektif dan itu ilegal berdasarkan hukum internasional.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
https://youtu.be/_jd6pplowWM
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
