Begini Cara Hamas Perlakukan Serdadu Zionis yang Jadi Tawanan Mereka
9 January 2016, 08:49.

Brigade militer Hamas, Al-Qassam, merilis video yang memperlihatkan tawanan perang ‘Israel’ Gilad Shalit sedang barbekyu-an di pantai.
GAZA, Sabtu (Electronic Intifada): Sayap militer Hamas, Brigade Qassam, Ahad lalu merilis sebuah video termasuk cuplikan terbaru Gilad Shalit, seorang tawanan perang ‘Israel’ yang ditawan di Gaza selama lima tahun. Shalit dibebaskan pada 18 Oktober 2011 saat terjadi kesepakatan pertukaran tawanan hasil negosiasi ‘Israel’ dan Hamas. Shalit ditukar dengan sekitar 1.027 tawanan Palestina, namun sebagian besar dari mereka kemudian ditangkap kembali oleh penjajah Zionis.
Video terbaru yang dirilis Brigade Qassam memperlihatkan Shalit tersenyum sambil memanggang daging saat pesta daging panggang. Dalam video juga terlihat ia minum teh bersama para pejuang Hamas dan menonton TV. Dalam sebuah cuplikan, saat seorang penjaga membawakannya minuman, Shalit terlihat duduk di sel yang relatif luas dengan sebuah sepeda untuk olahraga dan kamar mandi.
Cuplikan video Shalit merupakan bagian dari video 10 menit yang menyoroti Shadow Unit, sebuah unit rahasia Brigade Qassam yang bertugas “mengamankan para tawanan musuh”. Unit tersebut juga memiliki misi “memperlakukan tawanan musuh dengan bermartabat dan rasa hormat sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, serta memberikan makanan dan minuman bergizi untuk fisik maupun batin mereka, meskipun perlakuan musuh terhadap para pejuang yang ditangkap tidak seperti itu.”

Gilad Shalit sedang memanggang daging.
Video ini menunjukkan keberhasilan upaya menyembunyikan lokasi Shalit dari ‘Israel’ selama bertahun-tahun. Shalit ditangkap pada tahun 2006. Bisa dikatakan, ini merupakan salah satu operasi keamanan paling kompleks dalam sejarah Hamas. Video tersebut menyebutkan lima anggota Shadow Unit yang terlibat dalam pengamanan Shalit. Pun, dilengkapi dengan usia saat mereka tewas di tangan ‘Israel’ beberapa tahun lalu.
Mereka adalah Sami Muhammad al-Hamayda (42) dan Abdallah Ali Lubbad (45) yang tewas dalam serangan udara penjajah Zionis pada tahun 2008 dan 2011. Khalid Muhammad Abu Bakra (35) dan Muhammad Rashid Daoud (28), keduanya terbunuh dalam konfrontasi dengan para serdadu Zionis di timur Khan Younis pada November 2013. Abdulrahman Salih al-Mubashir (29) meninggal dunia bulan lalu dalam insiden runtuhnya penggalian terowongan oleh Hamas. Dua pria yang diidentifikasi sebagai al-Hamayda dan Lubbad terlihat duduk bersama Shalit saat ia makan.

Gilad Shalit dengan dua pria yang teridentifikasi sebagai pejuang Hamas, Sami Muhammad al-Hamayda (tewas pada tahun 2008) dan Abdallah Ali Lubbad (tewas pada 2011)
Bersembunyi dari Publik
Selain dari beberapa perjalanan ke luar negeri segera setelah pembebasannya, Shalit umumnya menolak untuk ambil bagian dalam propaganda resmi Zionis. Tetap menghindar dari perhatian publik mungkin pilihan Shalit. Terlepas dari fakta penahanannya yang cukup lama, ‘Israel’ tak memberikan bukti bahwa ia diperlakukan secara manusiawi, Shalit sendiri pun tidak memberikan pernyataan seperti itu. Ia mengatakan, seringkali merasa bosan dan memainkan permainan, menulis atau bermain Scattergories untuk menghabiskan waktu. Publikasi video Brigade Qassam itu jelas mengarah pada upaya menyampaikan pesan bahwa Shalit menerima perlakuan manusiawi, bahkan diperlakukan sangat baik.

Mati atau Hidup?
Video terbaru itu mungkin bertujuan mempertegas pesan kepada penjajah Zionis bahwa Hamas masih memiliki kapabilitas untuk menyembunyikan para tawanan jauh dari jangkauan. Pada bulan Juli, penjajah Zionis mengakui sedikitnya dua dari warganya kini ditahan di Gaza, setidaknya satu orang ditahan oleh Hamas.
Salah satunya adalah Avera Mengistu, seorang warga ‘Israel’ keturunan Ethiopia. Penjajah Zionis mengatakan, ia masuk Gaza melintasi pantai pada September 2014, yakni setelah gencatan senjata pada 26 Agustus. Namun, pemimpin senior Hamas menyatakan bahwa warga ‘Israel’ telah meminta keterangan perihal keberadaan Mengistu saat negosiasi di Kairo yang mengarahkan pada terjadinya gencatan senjata. Warga lain yang belum diketahui namanya, kabarnya merupakan warga Palestina yang memiliki kartu identitas ‘Israel’.
Hamas juga dikabarkan menahan jenazah dua serdadu Zionis, Hadar Goldin dan Oron Shaul, yang merupakan bagian dari pasukan invasi ‘Israel’ pada musim panas tahun 2014. Penjajah Zionis menyatakan dua serdadunya itu sudah tewas, namun Hamas menolak untuk mengonfirmasi hal itu.
Pasukan Zionis melakukan prosedur Hannibal Directive, yakni ketimbang ada anggota yang ditawan, lebih baik semua dibantai sekalipun itu anggota mereka. Penjajah Zionis kemungkinan membunuh Goldin untuk mencegah ia tertangkap di dekat Rafah pada 1 Agustus 2014. Sebagai bagian dari prosedur tersebut, ‘Israel’ melakukan pemboman besar-besaran terhadap kawasan-kawasan sipil di sebelah selatan kota Gaza yang dimaksudkan untuk membunuh ratusan warga sipil.
Oron Shaul merupakan bagian dari pasukan yang menyerbu kawasan Shujaiya Kota Gaza pada 20 Juli 2014. Bulan lalu, ibunda Shaul mengatakan dalam sebuah konferensi pers, “Kami sekeluarga tak memiliki informasi kuat atau menguatkan mengenai apakah Oron masih hidup atau tidak, terluka atau mati. Kini kami dalam kondisi ketidakpastian.”
Hamas telah mengatakan tidak akan bernegosiasi soal melepaskan warga ‘Israel’ atau memberikan informasi mengenai para serdadu yang hilang sampai penjajah Zionis membebaskan para tawanan yang sempat dibebaskan saat terjadinya kesepakatan Shalit, namun sesudah itu ditangkap kembali. Pesan dari video yang dirilis Shadow Unit adalah bahwa sayap militer Hamas bisa menahan para tawanan selama yang dibutuhkan dan penjajah Zionis tak akan bisa menemukan mereka.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
