Ketika Bunga-bunga Gaza Melayu
16 April 2016, 09:43.

Petani Palestina di sebuah ladang di Rafah, sebelah selatan Jalur Gaza sedang menyiapkan bunga anyelir untuk diekspor, Februari 2013. Foto: Eyad Al Baba/APA images
JALUR GAZA, Sabtu (Electronic Intifada): Kebun bunga milik Ayman Awkal menyusut setiap tahun. Petani berusia 56 tahun itu dulu menanami 60 dunum (60.000 meter persegi) kebunnya dengan berbagai jenis bunga, termasuk mawar, krisan, anemon dan anyelir. Itu sebelum ‘Israel’ memblokade Gaza pada tahun 2007. “Selama beberapa tahun, bunga menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian bagi keluarga saya,” katanya. Namun, kini, sumber mata pencaharian itu sirna. Kata Awkal, tak ada gunanya terus menanam bunga jika ‘Israel’ masih memblokade Jalur Gaza. Dulu, Gaza mengekspor bunga ke luar negeri. Kini, itu mustahil. “Saya harus menyerah bertani bunga dan beralih ke sayur-sayuran, meskipun itu tidak banyak menghasilkan laba. Akan tetapi, itu lebih baik daripada tidak sama sekali,” kata Awkal.
Ini merupakan masalah besar bagi petani yang biasa mendapat laba berlimpah dari menjual bunga ke pasar-pasar Eropa, yang kemudian terjual ke seluruh dunia. Satu bunga bisa seharga satu euro di Eropa. Tingkat permintaan tinggi karena bunga-bunga di Gaza tumbuh sepanjang tahun. Hal itu memungkinkannya bisa memenuhi kebutuhan tradisi memberi bunga pada momen-momen tertentu, seperti Hari Ibu dan sebagainya.
Meski sebentar, industri bunga di Gaza sempat menikmati masa kejayaan. Kini, Awkal hanya menanam bunga di tiga dunum ladangnya dan cuma untuk pasar-pasar lokal dengan harga lokal pula. Kualitas menurun dan permintaan pun rendah.
Cara ‘Israel’ Matikan Industri Bunga
Belanda merupakan pasar ekspor utama bagi bunga-bunga Gaza. Negara itu mendanai proyek-proyek di penjuru Gaza agar memungkinkan para petani menjaga hasil panennya sesuai standar Eropa. Namun, bantuan Belanda –termasuk pemberian benih– berhenti tiga tahun lalu. Menurut juru bicara Kantor Perwakilan Belanda di kota Ramallah, Tepi Barat, pemerintah Belanda memutuskan untuk mengakhiri bantuan budidaya bunga karena sejumlah alasan, di antaranya dana tersebut lebih baik digunakan di sektor lain. Belanda menilai, jaminan pangan seharusnya lebih menjadi prioritas.
Namun kepala komite petani bunga Gaza, Ibrahim al-Dahbour, mengatakan batasan-batasan yang diberlakukan ‘Israel’ di pelintasan Gaza berperan besar. “’Israel’ berhasil mematikan industri bunga di Gaza dengan mencegah bantuan dari Belanda dan negara-negara lainnya melalui kebijakan penutupan pelintasan,” katanya kepada Electronic Intifada. Pembatasan-pembatasan ini, seringkali dalam bentuk lamanya penangguhan pemeriksaan “keamanan”, dan tak adanya sarana untuk tetap memproduksi atau bunga-bunga segar sehingga sulit mengekspor dan pada akhirnya melemahkan industri yang sudah berkembang pesat.
Menurut al-Dahbour, Gaza hanya menghasilkan kurang dari lima juta bunga pada tahun 2012. Turun drastis dari produksi sebelum tahun 2004 yang mencapai 60 hingga 80 juta bunga per tahun. Kini kian berkurang lahan yang diperuntukkan menanam bunga. “Di masa lalu, Gaza biasa menanam bunga di 1.200 dunum. Ada sekitar 100 proyek. Kini kurang dari 15 dunum digunakan untuk menanam bunga dan bunga-bunga itu diproduksi dengan kualitas rendah dan hanya untuk pasar domestik.”
Terlalu Mahal
Dengan tidak adanya ekspor yang bisa diandalkan, kata al-Dahbour, bunga benar-benar terlalu mahal untuk ditanam. Ia memperkirakan biaya menanam satu dunum bunga dengan standar yang sesuai sekitar $9.000. Ini terlalu mahal bagi para petani sehingga harus beralih ke tanaman lainnya, terutama yang diminta oleh pasar lokal.
Issa Fawji mengelola salah satu kebun bunga paling terkenal di Gaza, yakni di Rafah bagian selatan. Akan tetapi, 25 dunum yang dulu ia persembahkan untuk menanam bunga kini berubah menjadi ladang stroberi dan buah-buahan lainnya. “Seluruh ladang ini dulu dipenuhi warna. Dulu saya mempekerjakan puluhan pekerja untuk merawat bunga-bunga dan memetiknya dengan tangan. Kini tak ada lagi yang tersisa,” katanya.
Fawji (56) yang menekuni bisnis bunga hampir 40 tahun mengatakan, saat ia bisa mengekspor bunga –seluruh ekspor dari Gaza harus melalui ‘Israel’– ia dan petani lainnya akan sering melihat-lihat tanaman mereka yang ditahan sekian lama di pelintasan komersil Kerem Shalom sehingga layu. Itu sangat disengaja, kata dia. “Meski jika masih memungkinkan bagi kami untuk mengekspor, ‘Israel’ tidak mengindahkan kami puluhan kali sehingga bunga-bunga kami mati,” katanya. Jika bunga-bunga mereka layu sehingga tak lagi layak diekspor, terpaksa bunga-bunga itu diberikan pada hewan ternak. “Itu satu-satunya pilihan saya,” katanya.
Ini kondisi yang acapkali dialami para eksportir Gaza. Mereka harus bolak balik ke Kerem Shalom dimana barang-barang mereka dan hasil bumi dengan cermat diperiksa oleh para serdadu Zionis. Untuk hasil bumi, khususnya, ini bisa berbahaya karena muatan akan ditinggalkan begitu saja tanpa naungan atau penutup selama berjam-jam. Dan para petani harus menanggung biayanya. *(Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
